A password will be e-mailed to you.

Terdapat cerita lucu yang pernah saya alami ketika mengikuti suatu persekutuan doa. Kami, pemuda-pemudi religius harapan bangsa, saat itu diminta berbaris untuk didoakan sebagai bentuk pemberkatan oleh pendeta di sebuah gereja.

Saat tiba giliran saya untuk diberkati, ternyata sang pendeta berinisiatif untuk tidak hanya memberkati saya, tapi juga membacakan masa depan saya sembari menjamah jidat saya. “Hm… kamu nanti akan mempunyai album… musik.” Saya pun kaget. Ini pendeta atau peramal? Ingin hati menanyakan soal perjodohan tapi kok kayak kurang ajar gitu.

Saya bingung.

Saya tidak ada niatan untuk menjadi musisi. Nyanyipun hanya sebatas gig di bawah shower. Sampai sekarang saya masih heran, betapa lancangnya Pak Pendeta mengatakan hal tersebut ketika yang saya punya adalah bakat menggambar. Kemudian saya berpikir, mungkin yang dimaksud oleh Pak Pendeta adalah musrik, bukan musik. Bener deh, lebih masuk akal kalau saya punya bakat musrik.

Ohya, mungkin akan lebih nyaman ngobrol kalau kita berkenalan dahulu. Saya Ruthy Lilipaly. Tolong jangan tanyakan kepada saya apakah saya saudara Stefano Lilipaly. Sudah banyak sekali orang yang bertanya, apalagi Mas-Mas Gojek. Saya bersekolah di salah satu universitas yang katanya menampung calon seniman. Studinya selalu bergelut dengan visual dan segala anggota keluarganya.

Saya punya kebiasaan mendengarkan playlist yang saya sengaja rahasiakan (make secret itu lho) di Spotify ketika sedang menggambar (karena playlist-ku adalah mental stateku). Di sela-sela mengerjakan tugas melukis, saya terbiasa karaokean dulu dengan alibi klise ‘biar mood’. Namun, tentu saja setelahnya saya jadi capek karena berkaraoke dan berfikir “Ah tugasnya selesain besok aja kali ya.”

Baru kemarin, tanggal 8 Januari, saya menyelesaikan 7 SKS kelas lukis. Pada saat proses penilaian 12 lebih lukisan yang saya buat, dosen menanyakan “lukisan mana yang paling kamu suka?”. Sontak saya menunjuk salah satu lukisan yang idenya diambil dari lagu ciptaan .Feast, “Berita Kehilangan”.

Saya melukis sebuah makhluk (karena memang se-abstrak itu) yang terbakar dan terdapat salib di bagian dadanya. Lagunya melekat di kepala saya, dan membuat saya marah. Ya, marah dan juga ironis sebagai kaum minoritas. Menurut saya, .Feast sangat berhasil dalam membuat lagu yang sifatnya kontekstual bertema bom bunuh diri di Surabaya waktu itu.

Saya melukis sembari gelisah. Melukis memang salah satu transfer energi yang paling efektif bagi saya.

Mau berargumentasi bagaimana pun, musik memang menjadi teman bagi siapapun. Saya punya teman SMP yang galak setengah mati, kaku, dan melakukan deklarasi kalau tidak suka mendengarkan musik. Eh, tetap saja beliau pernah ketahuan karaokean lagu HIjau Daun di bus pariwisata.

Makanya, musik juga punya peran besar dalam kehidupan para ninja kuas alias tukang gambar seperti saya. Lebih sederhananya, ketika kami mendengarkan lagu, tidak jarang kami membayangkan visual (se-menyedihkan atau se-menyenangkan itu) di otak kita. Lalu, visual-visual itu dipindahkan di atas kertas, kanvas, tembok, gelas, batu, muka teman yang lagi tidur, baju, tas, sampai format video. Apapun bentuk fisiknya, musik dapat menjadi pengantin terbaik untuk anak-anak seni rupa.

Kampusku lumayan unik, juga wagu tenan. Anak-anak yang berkecimpung dalam skena musik tidak hanya jurusan musik, namun juga seni rupa. Tidak jarang dalam setiap perkumpulan di kampus, pasti ada saja yang membawa gitar dan menyayikan lagu so sally can wait (that’s the worst case possible). Begitu pula di fakultas saya, banyak sekali pembentukan mental-mental rockstar yang terjadi.

Membuat band adalah hobi anak seni rupa. Menjujung tinggi orisinilitas, band anak-anak seni rupa tidak mau membuang waktu untuk mengcover so sally can wait, melainkan membuat lagunya sendiri. Mereka juga sangat oportunis, kesempatan apa pun di mana pun asal bisa membawakan karya sendirim semua disikat.

Ditambah, melakukan apa-apa sendiri. Misal, membuat cover album tentu memakai gambar sendiri, gawe sendiri. Mental Do-It-Yourself yang kental adalah kunci menjadi rockstar di paguyuban seni rupa. Tidak tahu manggung dimana? Buat saja pesta sendiri di kampus, dengan dekor yang digawe sendiri. Tidak punya uang untuk latihan dan rekaman? Open PO baju kaos band dengan (lagi-lagi) karya sendiri. Bingung mau membuat musik apa? Eksperimen saja waton mengeluarkan bunyi, yang penting selaras dengan joged- joged asik sambil disuguhi mimik jahat. Asik bukan?

Biasa saja sih, sebetulnya.

Menurut saya, yang tidak biasa justru adalah proses penciptaan karya dan musik yang dibuat. Ketika anak seni rupa menggambungkan visual dan musik, mereka akan jauh lebih gila dari biasanya. Secara tidak langsung, mereka membuat suatu forum bebas berekspresi untuk misuh, mewek, atau berbahagia bersama dengan alunan lagu yang kadang tidak pas-pas banget. Kadang ditemani oleh VJ (Visual Jockey) dengan menyajikan visual guyonan agar tambah lucu dan keren untuk dinikmati. Mungkin bermusik juga menjadi budaya perselingkuhan anak seni rupa terhadap visual. Ketika mereka bosan menggambar, mereka akan menciptakan lagu (ingat, bukan mengcover so sally can wait). Tidak jarang melakukan eksperimen musik yang tidak perlu muluk-muluk memikirkan kaidahnya.

Seru dan asik sekali bukan? Menurut saya sih biasa saja.

No more articles