A password will be e-mailed to you.

Bagaimana rasanya terjebak di tengah hutan di luar negeri? Atau hilang suara saat tur? Atau ketinggalan kereta di Paris, pas uang kosong melompong, gak bisa narik uang di atm, dan harus ngejar rundown? Mungkin ini adalah sebagian kecil dari cerita perjalanan tur Rubah di Selatan (RDS) ke Eropa beberapa saat lalu, yang pada akhirnya melahirkan beberapa tips and trick untuk siapa saja yang akan tur ke luar negeri.

Singkat cerita Rubah di Selatan terpilih, dari total 500 band dari seluruh Indonesia, untuk berangkat tur ke 4 negara di Eropa dalam rangkaian acara Siasat Trafficking Europe Calling gagasan dari Siasat Partikelir. Perjalanan kami tempuh total sekitar 18 jam dari Yogyakarta-Jakarta-Singapura-Amsterdam. Karena ini adalah perjalanan pertama kami tur ke luar negeri, kami harus berpikir ekstra perihal persiapan tur yang akan kami lakukan selama 10 hari perjalanan ini. Ditambah lagi, kami berangkat hanya berempat dengan instrumen yang cukup banyak dan mrintil. Alhasil, lahirlah beberapa catatan evaluasi yang semoga bisa diadaptasi siapa saja yang akan menjalani tur kemana saja. Mari kita mulai.

  1. Pastikan Anda Beridentitas

Ini adalah hal sepele yang kadang lewat dari pikiran kita. Sebelum berangkat tur, kami diminta untuk mempersiapkan segala bentuk persyaratan KTP, Paspor, Visa, Kartu Keluarga, Ijazah, Pas Foto (dengan ukuran yang tidak seperti biasanya), Rekening Koran, dll dll. Terkadang kita suka males untuk ngurus KTP atau males ngurus kartu keluarga dan ambil ijazah. Padahal, tur Eropa sangat mewajibkan itu semua. Ga seru dong kalo gagal tur cuma gara-gara KTP masih ada di kelurahan.

Kami sempat kelabakan mengurus perihal data dan administrasi. Di samping waktu itu memang sedang riweh menjelang lebaran, kami juga tidak ada yang asli dari Yogyakarta. Yasudah, perihal administrasi seperti ini harus dilakukan dengan cara kirim-mengirim. Sampai pada akhirnya Saya dan Ronie, pemain Udu RDS, memutuskan untuk mengundur waktu pulang kampung sampai semuanya aman. Jadi, alangkah baiknya untuk mengurus semua perihal identitas yang kita punya jauh-jauh hari meskipun terlihat sepele, karena semua ini sifatnya ‘fundamental’.

  1. Barang Bawaan

Perjalanan 10 hari di 4 negara mulai dari Amsterdam, Luxembourg, Perancis, dan Munchen, membuat kami juga harus memikirkan bawaan yang harus dan tidak harus dibawa. Perjalanan yang kami tempuh melalui jalur darat di sana, membuat kami harus memikirkan cara membawa barang supaya tidak menguras tenaga berlebih. Ini menjadi evaluasi dengan garis bawah dan stabilo paling terang. Berikut barang-barang wajib dipersiapkan sebelum tur ke luar negeri:

  • Obat-obatan dan Vitamin. Ini wajib hukumnya. Jangan kaya ogut minum paracetamol biasanya dosis 500 ml, ternyata saat di sana butuh obat nemunya yang 1000 ml dan sadarnya pas sudah ketelen. Si paling teliti memang.
  • Gembok kecil cadangan. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, kami membeli beberapa gembok pada saat berangkat untuk mengunci baik itu instrumen, tas, koper, dan benda lainnya. Tapi, ternyata ada-ada saja kejadian gembok box pedal rusak. Saya juga gak tau itu karena proses kesewenang-wenangan petugas di bagasi atau faktor lainnya. Bawalah gembok cadangan.
  • Mengingat kami kemarin bergantian mengangkat instrumen yang kami bawa dengan energi yang tidak sedikit, menyiapkan trolley sendiri mungkin menjadi salah satu solusi tepat. Trolley lipat yang kuat dan aman untuk membawa barang-barang bisa mengurangi beban punggung dan menjadi solusi untuk perjalanan saat tur yang biasa didominasi dengan jalan kaki. Meskipun nanti terlihat sedikit ribet di bandara, tapi ini bener-bener solusi jitu.
  1. Alat Komunikasi

Ini adalah hal yang paling penting ketika tur ke luar negeri. Dengan bahasa yang berbeda-beda, seperti saat di Perancis, sangat jarang orang mau berbicara dengan Bahasa Inggris. Meskipun kami bertahun-tahun tinggal di Paris yang Parangtritis, hal itu tidak membuat kami serta merta mengerti bahasa Perancis kecuali ich liebe dich (yang ternyata adalah bahasa Jerman). Untungnya, Google maps menjadi salah satu solusi kemanapun kami pergi, naik apa, berikut dengan harganya.

Kemajuan teknologi saat ini sangat membantu pada saat tur. Bayangkan, kami pernah terjebak dalam hutan lindung di Perancis hanya untuk mencari makan. Saat itu kami berniat memotong jalan ke tempat makan karena lewat hutan “terlihat” lebih cepat. Ternyata karena terlalu lama di sana, kami melebihi batas jam kunjung ke hutan lindung tersebut. Jadilah semua pintu dan pagar hutan dikunci.

Beruntunglah ada teknologi Google Maps yang sangat membantu meskipun kami harus berjalan sekitar 1 jam untuk menemukan jalan keluarnya. Pokoknya, pastikan alat komunikasi atau gadget yang kita bawa energinya cukup dan bisa digunakan pada saat tur.

  1. Mental

Jujur kami berempat sempat kendo pada saat awal manggung di Eropa karena ini adalah pengalaman pertama. Berempat kami saling menguatkan, mengingat kami berangkat dari rumah masing-masing dan meminta doa restu dari orang tua selepas lebaran. Alhamdulillah, melakukan ini seketika mengembalikan semangat dan kepercayaan kami.

Ketakutan kami seketika runtuh dengan sambutan hangat tepuk tangan dan apresiasi yang luar biasa pada saat tur kemarin. Catatan penting yang saya garis bawahi adalah bagaimana orang luar negeri begitu fair dalam hal apresiasi. Sepanjang kami manggung baik itu festival ataupun single show, semua mengapresiasi dengan begitu hangatnya dan menikmati sampai akhir pertunjukan. Bahkan sampai di backstage pun mereka akan datang. Tidak ada kata gengsi atau malu untuk bilang, terima kasih, kalian ini kalian itu. Gila, bagi kami yang stranger di negara orang, itu sangat – sangat berarti.

  1. Oleh-oleh

Kami berempat masih ingat betul bagaimana awal membentuk band ini: mulai dari kamar 3×3, gitar pinjaman, kipas angin kecil yang sudah mau mati. Kok ya kami bisa menginjakkan kaki di Eropa. Saya juga ingat betul bagaimana dulu saya dan Ronie berbagi makan di rumah karena masih belum kerja pasca-lulus kuliah. Hingga tiba disana, kami berempat benar-benar mensyukuri apa pun yang telah kami lewati.

Perjalanan kami menjadi catatan penting yang ingin kami bagikan kepada siapapun sebagai bentuk energi positif. Kami berusaha untuk merekam beberapa informasi yang kami rasa harus dibagikan, serta harus disebarkan untuk bersama membangun semangat bermimpi kembali. Saya sempat bercanda dengan seorang teman bahwa meskipun kita kurang tidur, jangan sampai kita kurang bermimpi. Tidak ada yang tahu akan seperti apa hidup kita kedepan. Oleh-oleh cerita ini akan kami kemas dalam bentuk dokumenter pendek, kapan tayangnya? Sabar dong.

Ya, jadi itulah beberapa dari catatan tips and trick dari hasil perjalanan tur RDS di Eropa kemarin. Masih banyak sekali sebenarnya yang ingin saya ceritakan. Ada cerita ketinggalan kereta, kehabisan uang, kehilangan suara, hingga masalah teknis saat tur. Tapi, sepertinya akan lebih nikmat jika kita bertatap muka sambil ngobrol bareng. Rencananya kami akan mengemasnya dalam acara cerita dan diskusi, serta pemutaran film pendek dokumenter perjalanan tur Rubah di Selatan ke Eropa. Jadi untuk kelanjutannya kita ketemuan ya! See you soon!

Rubah-di-Selatan-at-A-Day-In-Forest-Festival-Amsterdam-1 hookspace musik jogja

No more articles