A password will be e-mailed to you.

Semenjak pindah ke Jakarta, uripku jadi rada serius.

Karena suka kangen, saya seringkali meneropong ekosistem musik Jogja dari sini. Setelah mengambil jakar jarak, kok Jogja ternyata sangat menarik ya. Meskipun gaungnya cukup kecil di ibukota, namun keseriusan pelaku musik itu sendiri dalam manggung menjadi perhatian saya. Dengan semakin banyaknya band keren bermunculan, ada sebuah mutualisme yang lahir dengan sendirinya dan berputar seperti bola salju.

Dimulai dari berdirinya sebuah sekolah audio di daerah Nologaten bernama Jogja Audio School (JAS).

Sejak melahirkan beberapa lulusan, entah mengapa persoalan audio di kalangan musisi Jogja menjadi hal yang serius. Lulusan JAS akhirnya kerap diutus oleh sebuah band untuk duduk manis di Front of House (FOH) ketimbang pasrah kepada mas-mas-operator untuk melayani penampilan band.

Tak hanya JAS, engineer-engineer ini tetiba muncul dari berbagai lingkaran pertemanan dan komunitas lain, salah satunya iLine Audio System. Hasilnya, kini hampir semua band di Jogja membawa live sound engineer sendiri (engineer monitor juga kadang bawa sendiri) ketika tampil. Musisi pun juga bisa aware dengan kualitas audio ketika tampil sehingga penonton nyaman menyaksikan dan player nyaman di atas panggung.

Alih-alih menjadi personel swadaya, pekerjaan colok-ulur kabel di atas panggung juga kerap dibantu oleh kru panggung tersendiri (yang kadang sifatnya personal, satu personel-satu kru). Meskipun vendor biasanya telah menyediakan mas-mas-soundsystem tapi kehadiran kru panggung tentu memudahkan mediasi band dengan vendor soal kebutuhan teknis. Jadi gitaris bisa fokus gonjreng-gonjreng, masalah lainnya biarkan kru panggung yang mondar-mandir. So profesyenel.

Media sosial menuntut band jogja untuk aktif membuat konten yang apik untuk menumbuhkan engagement dengan penggemar dan calon penggemar. Hal ini menyebabkan kehadiran fotografer menjadi sangat penting dalam jasa dokumentasi penampilan langsung sebuah band. Bermunculan pula fotografer yang concern dengan stage photography seperti  Bayu Atha yang tanggalannya selalu penuh tiap akhir pekan sibuk jeprat-jepret dari panggung ke panggung. Sayang belum ada yang pun….ya sudahlah.

Tak luput hadir pula peran media musik. Misalkan, Desta dengan tim @musikjogja yang hidupnya ikhlas ngompor-ngomporin warganet tentang betapa bersinarnya karya musik yang dilahirkan di Jogja. Kehadiran media semacam ini tentu semakin membantu penyebaran exposure yang sangat dibutuhkan oleh band-band start-up. Distribusi informasi yang semakin tertata juga membuat band-band Jogja juga menjadi sasaran empuk beberapa kampus untuk tugas-tugas seperti film dokumenter, pembuatan video klip hingga siaran televisi. Sehingga dalam pembuatan aset video muncul kerjasama yang baik antara musisi dan (((akademisi))).

Semakin banyak acara membuat semakin banyak band yang manggung. Fenomena ini turut menghadirkan pula kebutuhan akan soundsystem dan tata pencahayaan yang tentunya menghadirkan lapangan pekerjaan baru. Lumayan lah untuk bantu-bantu Presiden mengentaskan kemiskinan.

Spesifikasi sistem suara pun semakin diperhatikan. Semakin sering band dengan skala nasional yang diundang ke Jogja membawa beberapa permintaan teknis di atas rata-rata. Imbasnya, vendor soundsystem pelan-pelan menaikkan kualitas barang dan SDM untuk melayani permintaan-permintaan tersebut.

Sama dengan kemunculan JAS, kehadiran iLine Audio System juga memiliki peran yang menarik di kalangan musisi dan pelaku usaha bisnis soundsystem. Diisi dengan orang-orang yang handal di bidangnya, iLine memiliki visi untuk mengedukasi vendor dalam membangun sistem audio yang baik dengan memberi berbagai pembekalan dari segi penempatan panggung, ngulik barang-barang baru, hingga sistem dasar bekerja untuk pelaku-pelaku pekerjaan ini.

Respon positif terlihat dari para musisi dari maraknya band-band Jogja main ke markas iLine di bilangan Gedong Kuning untuk bisa mendalami kecocokan sistem yang bisa dipakai untuk penampilan maksimal di atas panggung. Berbagai hitung-hitungan (yang saya sendiri kagak paham) demi mencapai hasil yang ideal untuk presentasi sebuah karya kerap terjadi di sana. Para musisi dan kelompok musik ini seringkali membawa alat musik mereka atau karya dalam bentuk CD untuk bisa langsung dikulik di tempat. Alhasil, terjadilah sebuah analisis dan tukar pikiran soal kebutuhan, kelemahan dan solusi dari permasalahan band tersebut. Konon, katanya di sana juga banyak makanan #trivia.

Selanjutnya? mungkin band akan butuh operator lampu? kolaborator penari? (sudah pernah dilakukan Javablanca & Buktu) Video Jockey? Jaran Kepang? Atraksi Debus? Fituring Pak Eko?

Untuk saat ini, semua bisa terjadi.

Yang jelas, ekosistem tersebut terbentuk bukan karena kebetulan semata. Hal positif ini diawali dengan munculnya ceruk-ceruk perkumpulan dari berbagai komunitas. Ada komunitas operator sound, komunitas pemusik, dan komunitas pegiat fotografi yang ternyata disatu titik mereka saling membutuhkan.

Tujuan tulisan ini tak lain ialah memberi kesadaran untuk pelaku hiburan di Jogja supaya terus merawat situasi ini. Sebuah keadaan yang sepertinya sulit ditemui di daerah dan kota lain. Gosip-gosip tipis tak apalah ya, yang penting silaturahmi terjaga. Dengan kebersamaan yang terjaga insyaAllah pelan-pelan iso ngunggahke rego bareng-bareng.

Masyuk.

No more articles