A password will be e-mailed to you.

Setelah pandemi ini berakhir, apa yang kalian pikirkan ketika dalam perjalanan pulang kalian menyaksikan musisi favorit kalian bermain di atas genteng menyanyikan lagu favorit kalian?

Beberapa bulan setelah munculnya wabah virus corona, masyarakat di berbagai negara terpaksa harus melakukan self-quarantine di rumah mereka masing-masing. Kehilangan rutinitas masing-masing akibat banyaknya kantor yang diliburkan membuat banyak orang memiliki waktu luang berlebih di tempat tinggal masing-masing. Mereka terpaksa harus melakukan segala sesuatu dari jarak jauh, termasuk segala urusan kantor dan sosialisasi dengan masyarakat pun dibatasi. 

Di beberapa negara, banyaknya waktu luang ini disiasati sebagian orang dengan cara yang unik. Salah satunya dengan bermain musik bersama di atas balkon bersama tetangga di seberang jalan maupun gedung sebelah.

Menyalin dari sumber terpercaya, Youtube.com. Salah seorang warga Barcelona memainkan lagu My Heart Will Go On dengan pianonya yang langsung disambut umpan lambung tetangga sebelahnya menggunakan saxophone. Namun sayangnya kali ini warga Barcelona tidak bisa berdansa karena kebijakan physical distancing yang harus dilakukan, ‘Lo siento mucho, Senorita’ kalau kata Fariz RM dalam lagunya yang berjudul Barcelona.

Yang paling unik terjadi di Amsterdam. Masyarakat negara kincir angin memilih mengadakan rave party di balkon mereka. Tidak main-main, salah satu kegiatan self-quarantine ini dilengkapi lampu sorot yang ditembakan ke apartemen tempat berlangsungnya pesta balkon tersebut. Mungkin mereka tidak cukup sabar menanti Amsterdam Music Festival diselenggarakan di negaranya.

Eh, tapi ternyata main musik di (yang harusnya jadi) tempat jemuran udah eksis sebelum virus corona menyerang. Sini-sini lebih deketan palanya, ane ceritain:

Sejarah Nge-band Di Atap

Jika konsep ‘balkon’ tidak ingin disamakan dengan rooftop, setidaknya mari kita sepakati bahwa ada sebuah pertunjukan musik yang diadakan di atas gedung bukan di dalamnya. Pertunjukan rooftop menjadi hal yang lumrah terjadi di masa sekarang. Namun mengapa ada pihak-pihak yang memilih tempat jemuran sebagai lokasi pertunjukkan? Lalu, bagaimana hal ini menjadi alternatif venue yang menarik bagi penyelenggara pertunjukan?

Mari kita mundur sejenak ke tahun 60an ketika peristiwa besar terjadi di rooftop pada tanggal 30 Januari 1969. Ini adalah konser publik terakhir band legendaris The Beatle. John, Paul, George, dan Ringo secara mengejutkan memilih atap dari gedung Apple Record sebagai tempat penampilan terakhir mereka. 

Beberapa konsep mengenai penampilan terakhir mereka muncul dari berbagai pihak di dalam maupun di luar band. Penampilan terakhir ini direncanakan mulai dari tampil di museum dengan anjing sebagai penonton, pertunjukkan yang hanya dihadiri oleh member fan club hingga berlayar bersama para fans menuju sebuah amphitheater bernama Sabratha di Libya sambil melakukan gladi bersih di atas kapal yang kemudian pertunjukan sebenarnya di amphitheater.

Alih-alih memilih konsep yang muluk-mulu, quartet ini secara mengejutkan memilih atap kantor Apple Record di London pada tanggal 26 Januari 1969. Hal ini berhasil menarik para tetangga untuk menyaksikan penampilan mereka dari balik jendela, bahkan beberapa ikut naik ke lantai atas bangunan masing-masing agar dapat melihat lebih jelas penampilan The Beatles. Bagi The Beatles, penampilan di atap kantor ini membuat mereka tidak harus mengendarai mobil ke lokasi pertunjukan atau terpaksa meladeni beberapa permintaan fans yang menyita waktu. Bagi orang-orang produksi, mereka hanya perlu mengulur kabel ke lantai atas sambil mengatur semuanya dari studio rekaman di bawah.

Tidak lama berselang, Beatlemania memadati jalanan sambil melihat penampilan secara gratis salah satu band terbesar di dunia. Bisa jadi ini adalah salah satu waktu istirahat makan siang terbaik sepanjang sejarah karena kita bisa makan siang sambil liat band legendaris ‘reguleran’.

Beberapa orang menyebutkan bahwa ide ini diambil dari penampilan Jefferson Airplane di atas atap Schuyler Hotel pada 19 November 1968 atau 3 bulan sebelum penampilan The Beatles. Penampilan Jefferson juga berhasil direkam oleh Jean-Luc Goddard.

 

(sources: https://www.mojo4music.com/articles/11595/20-things-need-know-beatles-rooftop-concert)

 

Sementara pada tahun 1987, U2 berhasil membuat video musik di atas liquor store yang terletak di jalan 7th and Main di kota Los Angeles. Bono berhasil memainkan single dari album The Joshua Tree di atas gedung yang terletak tepat di perempatan jalan dan disaksikan sekitar seribu pendengarnya. Momen ini juga disiarkan secara langsung oleh MTV dan menjadi salah satu video musik paling ikonik dalam sejarah. Video musik Where The Streets Have No Name juga berhasil mendapat Grammy Award untuk kategori Best Perfomance Music Video. Video ini disturadarai oleh Meiert Avis dan diproduseri oleh Michael Hamlyn dan Ben Dossett. 

 

(sources: U2 – Where The Strees Have No Name Official Music Video)

 

Beberapa dekade selanjutnya, beberapa band besar seperti Audioslave berhasil melakukan pertunjukkan di rooftop Ed Sullivan Theater pada 2002 dan Paul McCartney melakukan hal yang sama pada tahun 2009. Sementara pada tahun 2011, 4 orang tua nyentrik dari band bernama Red Hot Chili Pepper juga membuat video klip berjudul The Adventure of Rain Dance Maggie di atap gedung pinggir pantai Venisia, California.

Pertunjukkan di atap gedung berhasil memberikan pengalaman unik dan membuat penonton bisa merasakan sensasi nonton bioskop dari kursi paling depan alias nengok ke atas yang bikin pegel leher, setidaknya begitu menurut saya. Kira-kira, kalo tahun 2020 Hookspace bikin pertunjukkan di rooftop dengan pemandangan Merapi dan kota Jogja pada minat gak nih ya? Anyway, selama masa krisis ini mari tetap #dirumahaja karena kita masih bisa main musik bareng-bareng di atap ataupun di balkon, atau bahkan garasi rumah kita. Stay safe semua!

 

No more articles