A password will be e-mailed to you.

CERITA – Membentuk dan merintis sebuah band adalah seni berjuang, sembari sesekali mengeluh. (redaksi)

Menempuh jalur mandiri (alias tanpa manajemen/label), sebagai anak band Jogja sejak 2012, proses babat alas saya lalui persis seperti kegiatan mengorek koreng kering: perih-perih enak. Dikasih nasi kotak pernah, dibayar 4M (Makasih Mas Mainnya Mantap) pernah, dimarahi warga karena kedapatan jatah manggung menjelang azan maghrib ya pernah. Habis gimana dong, sudah keburu main intro lagu kok ya tiba-tiba azan, pengin berhenti tapi kepalang tanggung. Sudah keburu menjiwai lagu je.

Anak band mah gitu, tegar.

Namun setegar-tegarnya saya, tetap ada hal menyebalkan yang sering saya dapati dari panitia penyelenggara acara musik, khususnya perlakuan terhadap band lokal.

Saya tidak bermaksud meminta diperlakukan sama dengan Raisa, toh mendengar suara saya bernyanyi juga akan lebih banyak mudaratnya. Tapi, ada beberapa hal yang semestinya bisa diubah oleh panitia penyelenggara untuk lebih “memanusiakan” kami, para band lokal penuh mimpi ini.

Pertama, soal durasi dan waktu bermain. Sering sekali saya melihat sebuah acara musik dengan bintang tamu mentereng memperlakukan para lakon pembukanya secara semena-mena. Untuk contoh: tahun 2014 band saya pernah menjadi lakon pembuka artis nasional di acara musik yang dihelat oleh sebuah fakultas kedokteran gigi ternama di Jogja. Saat itu, kami hanya mendapat jatah bermain 15 menit. Bayangkan, 15 menit! Tidak hanya band saya, 3 band lain yang juga menjadi lakon pembuka juga diberi waktu 15 menit. Padahal, bintang tamu diberi waktu masing-masing satu jam.

Selain durasi yang sedikit, band lokal seringkali harus menjadi korban pemotongan durasi manggung karena acara yang ngaret. Hal ini tentu menjadi masalah karena setiap band sudah memikirkan dengan masak-masak urutan lagu, suasana di panggung, serta obrolan di sela-sela penampilannya.

Solusi dari saya: Untuk festival/pentas seni musik, sebuah band akan lebih maksimal melakukan presentasi karyanya apabila diberikan waktu minimal 30 menit. Lebih baik mencari lakon pembuka dengan jumlah lebih sedikit ketimbang menitikberatkan kuantitas tapi hanya diminta membawakan 2-3 lagu saja. Ingat, ini untuk acara pentas seni dan festival ya. Tentu akan berbeda penyikapannya apabila band bermain di gig komunitas.

Soal pemotongan durasi, sebenarnya saya tidak begitu kontra asalkan diberitahu sebelum band naik panggung. Saya paling sebal kalau panitia memutuskan durasi secara mendadak ketika kami sedang di atas panggung. Saya rasa setiap penampil paham berapa durasi yang menjadi haknya dan tidak mungkin serta-merta memperpanjang waktu di panggung hanya karena mereka ingin. Kalau ada band seperti ini, dibuat rame saja.

Kedua, soal parkir. Ini sepele tapi menurut saya krusial sekali. Kadang saya suka sebal, sudah dibayar murah, eh parkir masih juga bayar. Panitia seringkali luput untuk memberikan artis lokal lahan parkir khusus. Kami sadar bahwa rumah kami dekat, barang kami tidak banyak, dan kami belum perlu diantar-jemput, tapi setidaknya perhatikanlah soal ini. Ini bukan soal uang seribu-dua ribu, ini soal kemampuan panitia memperhatikan penampil sebagai bagian penting dari acaranya. Apalagi kalau acaranya di lapangan parkir GOR Amongrogo. Sudah jauh, lima ribu lagi. Miskin akutuh.

Ketiga, soal tempat transit. Tidak jarang saya dapati pengertian panitia pada bab ini lumayan payah. Jadi begini, band saya pernah (saya kembali mengacu kepada pengalaman pribadi karena itu data yang paling valid) tidak kebagian tenda artis di sebuah acara musik besar. Di acara itu hanya ada sebuah tenda kondangan (bukan tenda tertutup) dengan 10 kursi di bawahnya yang diperuntukkan untuk tiga band lokal. Tanpa lampu. Begini, band saya sendiri saja total timnya minimal ada 8. Ini kami disuruh main musical chairs apa gimana?

Ada lagi yang lucu. Band saya pernah mendapatkan sebuah tenda artis berukuran 3×3 meter sebagai ruang transit. Ternyata, tenda sekecil itu diperuntukkan untuk 3 band lokal. Padahal di sebelah tenda kami ada dua tenda lumayan besar yang dipersembahkan untuk artis nasional. Ini feodalisme apa gimana?

Solusi dari saya: SEWA TENDA LAGI BOLEH NGA SIH?

Lain lagi soal menerima tawaran dari acara berbau charity. Nah, apabila teman-teman memutuskan untuk membuat sebuah acara yang mengatasnamakan isu sosial apa pun, ada baiknya apabila pengisi acara diberikan informasi terkait kegiatan sosial yang sedang dilaksanakan: kepada siapa bantuan akan disalurkan, sebesar apa, laporannya mana, dan siapa saja yang terlibat di dalamnya. Hal ini penting karena selain menghilangkan kecurigaan, juga bisa menghilangkan kecurigaan. Iya, kalimat ini memang sengaja saya tulis dua kali.

Untuk bagian ini mari dibahas lain waktu.

No more articles