A password will be e-mailed to you.

Indonesia punya begitu banyak festival musik yang luar biasa apiknya, baik dari segi pengemasan maupun pemilihan artis.

Dalam kondisi apa pun, festival musik akan selalu ditunggu-tunggu. Bukan tanpa alasan, festival musik ialah salah satu elemen pembangun euforia terbesar dalam merayakan musik itu sendiri.

Menariknya, sejak memasuki masa pandemi pada 2020, beberapa festival musik Indonesia ikut beradaptasi. Berawal mengundang para masyarakat untuk menyerbu satu tempat, sekarang festival bisa diakses secara virtual, atau melihatnya di stasiun televisi nasional.

Langkah tersebut merupakan bentuk pengabdian para pelaku festival musik untuk terus memberikan ruang ekspresi kepada musisi untuk menghibur audiens.

Sifat adaptif seperti itu sekaligus menjadikan festival musik memiliki imej sebagai bisnis yang berkelanjutan.

Majemuknya penduduk Indonesia membuat festival musiknya pun beragam. Artinya, genre yang diangkat berbeda-beda, begitu juga konsep acaranya.

Contohnya, Djakarta Warehouse Project (DWP) all-out menyajikan performance dari para musisi elektronik. Ngayogjazz, festival jazz tahunan di Yogyakarta, turut menampilkan musisi lokal hingga Internasional di desa-desa.

Termasuk dua contoh di atas, HOOKSpace bakal mengulas lebih lanjut mengenai deretan festival musik Indonesia yang terkenal dan ditunggu-tunggu berbagai kalangan setiap tahunnya.

Soundrenaline

Soundrenaline adalah salah satu festival musik terpopuler di Indonesia

Dari semua yang akan dibahas di sini, Soundrenaline tergolong sebagai yang tertua. Nama resmi ‘Soundrenaline’ sudah digunakan sejak 2002, dengan tema yang berbeda pula tiap tahunnya.

Edisi pertama Soundrenaline terjadi pada 2-3 November 2002, tepatnya di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Setahun berselang, pihak penyelenggara kemudian menggelarnya di lima kota berbeda demi memenuhi animo pecinta musik live di Indonesia.

Banyak orang meramalkan bahwa Soundrenaline tidak akan berumur panjang karena sempat vakum di tahun 2010. Tetapi, mereka bisa bangkit di tahun-tahun berikutnya, bahkan terbilang konsisten.

Setelah berpindah-pindah tempat, Soundrenaline kemudian rutin menggelar event-nya di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Bali, sejak 2015 hingga 2019. Adapun edisi 2020 tidak diadakan akibat pandemi.

Secara venue, Soundrenaline memiliki tiga panggung outdoor dan satu panggung amphitheater untuk headliner. Panggung ini merupakan bentuk nyata Soundrenaline untuk membagi minat dan menyebar tempat berkumpul, agar tidak terpusat di satu panggung saja.

Soundrenaline sendiri dianggap sebagai showcase terbaik perihal para musisi Indonesia yang sedang nge-hits di pasaran.

Tidak hanya itu, Soundrenaline juga cukup konsisten mengundang band luar sejak 2005. Beberapa nama besar yang pernah datang adalah Limp Bizkit, Dashboard Confessional, Mew, dan JET.

Java Jazz Festival

Java Jazz, event musik tahunan bergengsi di Indonesia

Bagi kalangan musisi, Java Jazz ini menjadi semacam festival musik pembuka dalam kalender tahun. Pasalnya, pada Januari dan Februari, festival besar semacam ini cenderung sepi.

Diinisiasi oleh Peter F. Gontha, Java Jazz sampai saat ini bisa dianggap sebagai salah satu festival jazz terbesar di Indonesia.

Festival ini pertama kali digelar pada 5-7 Maret 2005 di Jakarta Convention Center, Senayan. Edisi pertama JJF menampilkan 25 musisi luar sekaligus 63 musisi Indonesia.

Durasi penyelenggaraan Java Jazz memang selalu tiga hari. Selama tiga hari itu pula, para pengunjung akan dimanjakan aksi para musisi dunia dalam kurang lebih sepuluh panggung yang tersedia.

Pada awalnya, JJF cukup eksklusif mengundang musisi jazz. Namun, semakin ke sini, performernya tak cuma terbatas kepada musisi jazz saja, tetapi juga pop dan rock. Hal ini dilakukan untuk melebarkan interest serta profil pengunjung yang datang.

Keunikan di Java Jazz Festival sejak edisi pertama ialah special show. Untuk bisa masuk ke panggung tersebut, penonton diwajibkan membeli special ticket.

Beberapa nama besar yang pernah tampil di special show JJF adalah James Brown, Incognito, Santana, Toto, Jamie Cullum, Chaka Khan, Tower of Power, Al Jarreau, dan Jason Mraz.

Artis yang tampil di special show biasanya adalah yang sudah melegenda, atau sedang sangat booming di pasar musik global. Bagi sebagian orang, menyaksikan musisi legend di sini tergolong lebih ‘hemat’, karena bisa menyaksikan banyak musisi lain di sela-selanya.

Baca Juga: Kisah Sosok di Balik Meriahnya Gelaran UGM Jazz 2018

Prambanan Jazz

Prambanan Jazz 2020

Sesuai namanya, Prambanan Jazz diselenggarakan di Candi Prambanan, Yogyakarta. Waktu penyelenggaraannya relatif berubah, sekitaran pertengahan atau akhir tahun.

Keunikan festival musik yang telah digelar sejak 2015 ini adalah panorama Prambanan. Candi ini adalah satu peninggalan sejarah Indonesia yang terkenal di dunia, sehingga ada suasana ‘sakral’ yang berbeda dengan festival lain.

Selain panorama, pagelaran musik ini semakin indah berkat sisi teknis pencahayaan.

Uniknya, pihak penyelenggara juga menghadirkan Pasar Kangen yang berisi jajanan khas Yogyakarta, atau makanan yang pernah dikonsumsi saat masa kanak-kanak.

Prambanan Jazz selalu mengundang musisi top nasional yang sudah eksis sejak lama maupun pendatang baru, hingga performer internasional seperti Brian McKnight, Kenny G, dan Rick Price.

Untuk melegitimasi namanya sebagai festival musik jazz, penyelenggara acara ini tak pernah ketinggalan pula mendatangkan line-up jazz terbaik nasional seperti Tohpati, Dewa Budjana, dan Bali Lounge.

Ngayogjazz

Ngayogjazz 2020

Sejak awal kemunculannya, Ngayogjazz sudah menganggap bahwa festival musik adalah peristiwa budaya yang lekat dengan kehidupan manusia.

Oleh karenanya, sejak 2007, event tahunan ini selalu memilih venue di pedesaan, sekaligus melibatkan masyarakat di sekitarnya.

Pihak panitia penyelenggara sengaja melibatkan warga sekitar tempat Ngayogjazz terselenggara untuk membuka ruang ekspresi lebih.

Buktinya, pihak panitia memberikan 1 panggung khusus untuk seni tradisional yang akan hidup dari siang sampai malam. Acara ini pun membuka peluang bagi pelaku UMKM sekitar untuk berjualan.

Adapun performer yang bermain di Ngayogjazz tidak terbatas kepada musisi pop dan jazz legendaris saja. Berbagai komunitas jazz yang tersebar di seluruh Indonesia pun rutin berpartisipasi di sini.

Jazz Gunung

Jazz Gunung

Jazz Gunung, yang edisi pertamanya digelar pada 25 Juli 2009, bisa membuatmu merasakan musik jazz dengan suasana dingin sendu bercampur menjadi satu.

Jazz Gunung bisa dianggap sebagai pelopor penyelenggara festival musik yang dilaksanakan di alam terbuka, khususnya di bentang pegunungan.

Agak berbeda dengan festival jazz nasional lainnya, sebagian besar line-up yang tampil di Jazz Gunung lebih didominasi oleh musisi jazz dan etnis.

Adapun kejutan-kejutannya lebih banyak berupa kolaborasi antarmusisi yang sebelumnya belum pernah berbagi panggung.

Pada periode 2009-2015, Jazz Gunung hanya diselenggarakan di Resort Bromo. Namun, sejak 2016, Jazz Gunung mulai rutin digelar dua kali dalam setahun, dimana event kedua selalu diadakan di Kawah Ijen.

Menariknya, pada 2020, Jazz Gunung mencoba konsep baru. Sebagai bentuk adaptasi pandemi, Jazz Gunung membuat hybrid concert. Protokol kesehatan di sana terjaga dengan sangat ketat, mulai tes swab hingga pengurangan tempat duduk menjadi 30% kapasitas.

Sikap tersebut menjadi upaya nyata dari keberlanjutan bisnis sebuah festival musik.

Baca Juga: Cara Menggelar Konser Online Berkualitas di Tengah Kondisi Pandemi

Synchronize Fest

Synchronize Fest ialah salah satu festival musik terpopuler di Indonesia

Mungkin belum banyak yang tahu kalau Synchronize Fest punya jejak asal-usul sejak tahun 2000 silam.

Event ini adalah wujud transformasi yang dilakukan sekelompok anak muda, yang pada saat itu baru menggelar event musik elektronik berskala kecil.

Barulah, sembilan tahun kemudian (Februari 2009), event ini berubah format menjadi festival berformat tiga hari di Plaza Indonesia Entertainment X’nter.

Seiring berjalannya waktu, Synchronize Fest berkolaborasi dengan banyak pihak. Salah satu yang terbesar adalah Demajors Label. Partnership itu membuat Synchronize Fest semakin eksis dan berani mengundang lebih dari 100 performer nasional.

Sejak 2016, festival musik ini selalu digelar di Gambir Expo, Kemayoran. Namun, adanya pandemi pada 2020 membuat Synchronize harus melakukan terobosan, yakni berpartner dengan stasiun televisi nasional (SCTV) untuk menyiarkannya secara langsung.

Festival musik yang diusung oleh Kiki Aulia Ucup ini memposisikan diri sebagai “Festival Untuk Semua”. Synchronize Fest diperuntukkan bagi semua kalangan, tanpa ada batasan.

Hal itu terbukti dengan line-up musisi yang datang dari berbagai genre. Semua genre, benar-benar semua.

Musisi dangdut bahkan pernah menjadi headliner. Salah satu yang paling memorable adalah Soneta Grup, orkes dangdut milik Rhoma Irama, yang tampil pada edisi 2016 dan 2018.

Keberagaman ini tidak membuat minat pengunjung berkurang sedikit pun. Para pengunjung bisa punya pilihan untuk menonton siapa dan dari genre apa.

Stage-nya pun tersebar dan dibedakan. Penonton bisa datang ke ‘gigs stage’, dimana panggungnya sangat rendah dan penonton bisa merasa berbaur dengan musisi yang tampil. Ada pula panggung tinggi untuk para headliner.

Dalam jangka panjang, Synchronize Fest berpotensi menjadi ajang musik terbesar di Indonesia, sekaligus memunculkan banyak musisi baru yang siap tampil di kancah global.

Setiap edisi, Synchronize Fest juga selalu mengusung konsep berbeda. Pada 2019 misalnya, Synchronize Fest mengusung tema peduli lingkungan. Pengunjung diwajibkan membawa alat makan dan minum sendiri untuk mengurangi sampah.

We The Fest (WTF)

Deretan Festival Musik Indonesia Terpopuler: We The Fest

Pertama kali diselenggarakan oleh Ismaya LIve sejak 2014, We The Fest (WTF) kini menjelma sebagai festival musik yang mendunia.

Dengan mengusung tema festival musim panas, We The Fest (WTF) tidak cuma memberikan suasana perayaan musik. Event ini membawa kehidupan lain, seperti seni kontemporer non-musik, fashion, dan makanan.

Tak heran, penonton yang berangkat ke WTF biasanya berdandan dan berpakaian nyentrik. Seperti nature-nya, festival musik memang menjadi salah satu tempat manusia untuk meluapkan ekspresi secara bebas.

We The Fest pun memberikan yang terbaik untuk para pengunjung. Dekorasi yang mereka bangun di venue-nya, yakni antara JIExpo Kemayoran dan kawasan Parkir Timur Senayan, begitu semarak dan layak disebut Instagram-able.

Performer yang ‘mampir’ ke sini lekat dengan sesuatu yang edgy, trendy, dan hits. Umumnya, genre musik mereka meliputi hip-hop, indie, pop, rock, dan EDM.

We The Fest telah berhasil mendatangkan musisi top dunia seperti The Kooks, Dua Lipa, SZA, The 1975, Anne-Marie, Honne, dan Lorde.

Tidak ketinggalan pula, banyak musisi Indonesia yang pernah mencicipi festival ini. Karya-karyanya pun mungkin sudah akrab di telingamu Elephant Kind, Stars & Rabbit, Barasuara, hingga Sheila on 7 adalah segelintir di antaranya.

Pada 2017 dan 2018, We The Fest bahkan punya inisiatif ‘Submit Yout Band’ untuk mendukung skena indie. Dalam masing-masing edisi itu, WTF meloloskan tiga band dari 10 finalis untuk berbagi panggung dengan musisi top nasional dan mancanegara.

WTF tak pernah absen menyapa penikmat musik Indonesia setiap tahunnya. Meski ikut terkena dampak pandemi pada 2020, WTF bahkan tetap berlangsung secara virtual.

LaLaLa Fest

LaLaLa Fest

Pihak penyelenggara LaLaLa Fest menyebut event mereka sebagai ‘festival di hutan’. Digelar di hutan, festival ini memiliki tujuan untuk turut serta menyebar-luaskan keindahan alam di Indonesia.

Festival musik internasional ini secara spesifik digelar di dalam hutan Orchid, Lembang, Bandung, sejak 2016. Banyak musisi internasional yang telah manggung di festival ini, seperti Kodaline, Honne, Oh Wonder.

Stage yang disediakan oleh LaLaLa Fest biasanya lebih dari satu. Pengunjung festival ini juga bisa menyewa tenda untuk camping atau menginap, yang tentunya perlu mengeluarkan kocek lebih mahal dari harga tiket masuknya.

The 90’s Festival

The 90s Festival

Bagi para sahabat musik yang senang dengan musik dan lifestyle oldies, festival yang satu ini harus masuk dalam list berkunjung. Lebih spesifik dari Synchronize Fest, festival ini menyasar pangsa pasar yang sudah berumur 30-an, atau tepatnya para pendengar musik 90-an.

Festival ini bisa dibilang sebagai reuni, sebab beberapa legenda bisa kembali bertemu. Legenda musik yang disajikan 90’s Festival berasal dari berbagai penjuru dunia. Mereka sempat mengundang Michael Learns to Rock, serta musisi lokal seperti Dewa 19 dan Fariz RM.

Konsep nostalgia kian kental karena 90’s Festival menghadirkan booth pernak-pernik zaman 90-an serta gim. Panitia sengaja menghadirkan booth ini agar para pengunjung bisa mengistirahatkan kupingnya sejenak.

Hammersonic

Hammersonic

Hammersonic merupakan event musik terbaik untuk para metalhead di seluruh Indonesia.

Bagaimana tidak, Hammersonic selalu mengundang roster metal kenamaan setiap tahunnya, baik itu dari dalam maupun luar negeri.

Jika boleh mengilas balik, pilihan paling berkesan versi HOOKSpace adalah Bullet for My Valentine, Hatebreed, Megadeth, dan Lamb of God.

Dengan perkembangan dan konsistensinya, Hammersonic telah berkembang menjadi festival musik metal terbesar di Asia Tenggara. ‘Ibadah’ konser metalhead ini selalu dikunjungi minimal 20.000 pasang mata tiap tahunnya.

Festival ini memilih lokasi serupa seperti yang dilakukan DWP, yaitu Pantai Carnaval Ancol. Berbicara waktu, Hammersonic biasanya digelar pada pertengahan tahun.

Hammersonic sebenarnya sempat absen pada 2019. Hammersonic saat itu memutuskan vakum untuk mencari konsep baru dan guest star menarik. Tim penyelenggara kemudian sudah siap menggebrak dengan konsep fresh pada 2020, namun sayangnya terpaksa batal akibat pandemi.

Baca Juga: Anak Seni Rupa Adalah Rockstar Sesungguhnya?

Rock in Celebes

Rock in Celebes

Rock in Celebes adalah festival musik yang bermula dari gerakan pecinta musik rock di Makassar.

Sejak 2004, terdapat gigs bernama Chambers Show yang sudah memiliki jaringan antarpelaku industri kreatif di Makassar. Enam tahun berselang (2010), pertunjukan tersebut berkembang menjadi festival Rock in Celebes.

Nama Rock in Celebes kemudian muncul sebagai wadah bagi band lokal agar bisa semakin berjejaring. Band lokal yang dimaksud tidak hanya domisili Sulawesi, tetapi juga luar Sulawesi.

Berlandaskan semangat kolektif, Rock in Celebes tak berhenti berinovasi. Event ini mengajak brand-brand pakaian untuk mendirikan stand dan berjualan.

Inovasi lain yang dilakukan adalah pelebaran jangkauan. Pada edisi 2018, Rock in Celebes menggelar satellite festival di tujuh kota (Yogya, Surabaya, Samarinda, Balikpapan, Manado, Bandung, dan Jakarta) sebelum menggelar festval utamanya di Makassar.

Misi pelebaran jangkauan itu dilakukan Rock in Celebes demi posisi setara dengan festival musik populer lain yang berbasis di Jawa-Bali.

Tak lupa, event ini juga pernah mengundang musisi luar negeri. Dua di antaranya adalah Secondhand Serenade (2012) dan Dashboard Confessional (2013).

Djakarta Warehouse Project (DWP)

Djakarta Warehouse Project

Penikmat electronic dance music (EDM) mungkin bisa menganggap Djakarta Warehouse Project (DWP) sebagai ‘surga kecil’.

Festival EDM terbesar di Asia Tenggara ini tak pernah absen menghadirkan musisi EDM terkenal; entah itu nasional ataupun Internasional.

Cikal bakal DWP hadir pada 2008, kala itu dengan nama Blowfish Warehouse Project. Event tersebut mendapatkan atensi luar biasa, dimana ada 5.000 penikmat musik EDM yang hadir ke Blowfish.

Estafet kesuksesan Blowfish berlanjut meski jelang edisi kedua (2010) terkendala masalah tempat. Kondisi tersebut membuat pihak penyelenggara memindahkan venue ke Pantai Carnaval Ancol, sekaligus berganti nama menjadi Djakarta Warehouse Project (DWP).

Sejak 2010 hingga 2019, DWP cenderung fleksibel dengan venue. Selain Pantai Carnaval Ancol, event ini digelar di Istora Senayan (2012), Ancol Eco Park (2013), JI Expo (2014-17, 2019), serta Garuda Wisnu Kencana Cultural Park (2018).

Beberapa nama besar yang pernah manggung di sini adalah Alesso, Avicii, David Guetta, Madeon, Flight Facilities, Martin Solveig, Skrillex, Zedd, hingga The Weeknd. Ada juga roster lokal yang pernah ikut serta, seperti Winky Wiryawan, Angger Dimas, dan Dipha Barus.

DWP sendiri tidak hanya berlangsung 1 hari, tetapi 3 hari. Festival ini biasanya menjadi penutup dari ‘ibadah’ festival musik tahunan di Indonesia, sebab terselenggara di bulan Desember.

Baca Juga: Nonton Konser Lebih Enak Sendirian!

Itulah tadi deretan festival musik Indonesia terpopuler yang didatangi oleh ribuan orang pada setiap edisi. Meski artikel ini dirilis pada masa pandemi, HOOKSpace tetap berharap kita semua bisa secepatnya seru-seruan lagi di live concert.

Dari sekian banyak contoh di atas, manakah yang menjadi favoritmu? Ataukah kamu punya festival musik lain yang belum disebut di sini? Ayo berbagi di kolom komentar!

No more articles