A password will be e-mailed to you.

Gimana Caranya Biar Bisa Laris sebagai Session Player?

REDAKSI – Valentino Baswara Wiwaswan bisa dibilang adalah salah satu session player paling laris yang berdomisili di Yogyakarta. Di tulisannya ini, dia cerita kiat-kiat menjadi session player yang ciamik, bertatakrama, dan, tentu saja, laris. Habis baca ini dan menerapkan wejangannya, siap-siap ya langsung diajak ngiringin Billie Eilish.

What makes a good session player? Gimana sih caranya biar bisa laris? Mas Babas, skincare routine-nya apa sih?

Pertanyaan-pertanyaan di atas sering saya dapatkan satu-dua tahun belakangan ini. Teman-teman musisi yang usianya lebih muda mulai menganggap saya cukup tua berpengalaman untuk membagikan beberapa hal yang pernah saya dapatkan selama kurang lebih 13 tahun bermain musik secara profesional.

(Saya menghitung rentang profesionalitas ini sejak mulai dihargai dengan satuan hitung yang bisa buat bayar cicilan bulanan ya, bukan sejak masih dapat bayaran “4M” [Maturnuwun Mas, Mainmu Mantep!]).

Sebenarnya, sampai detik ini pun saya masih belum merasa jadi seorang session player yang “yahud” (saya bingung mau pakai kata apa). Banyak teman-teman saya yang lebih bagus, keren, jago, laris, dll daripada saya. Belajar pun masih saya lakukan tiap harinya dengan banyak cara, yang nggak semuanya melibatkan kencan dengan instrumen saya dan ngulik lagu. Tapi, dibanding saya cerita terus, saya tulis saja beberapa hal yang menurut saya penting dimiliki sebagai session player. Kalau ada yang nanya, tinggal kasih tautan tulisan ini, deh.

Nah, karena dua paragraf ini word count-nya sudah melebihi 100 kata, mari kita langsung masuk ke beberapa hal yang saya anggap penting banget buat dijadiin pertimbangan oleh-oleh kamu-kamu yang sudah meneguhkan hati untuk tidak mendaftar CPNS gara-gara memutuskan untuk menggendong gigbag instrumenmu kesana kemari demi menyambung hidup.

Pertama, mengasah musikalitas. Saya beruntung karena sedari kecil sudah diperkenalkan keluarga saya kepada beragam genre musik. Seiring berjalannya waktu, saya pun mencoba untuk tidak membatasi diri dengan hanya mendengarkan atau ngulik lagu-lagu yang saya suka atau saya anggap bagus dan “menantang”, apalagi sampai menghakimi satu aliran musik lebih oke daripada yang lainnya. Mendengarkan banyak lagu dari beragam aliran musik sedikit banyak membantu saya memahami peranan dan porsi instrumen pada aransemen keseluruhan dari musik tersebut.

Setelah itu, keluarkan apa yang sudah kamu pelajari dengan cara bermain dengan orang lain. Kalau kamu belum punya jadwal reguler yang tetap, ya cara termudah adalah dengan datang ke tempat yang membuka jam session. Simpan dulu rasa sungkanmu jauh-jauh, karena, meminjam kata-kata salah seorang senior saya, “di jam session nggak ada yang namanya benar atau salah. Kita semua bermain dan belajar”.

Lagian, gimana ceritanya kita bisa nambah “jam terbang” tanpa benar-benar “terbang”? Nanti, pada gilirannya, “kedewasaanmu” sebagai musisi juga akan bertambah, jadi kemungkinan untuk bingung mau main atau ngisi apa pas rekaman atau di panggung bakal terminimalisir.

Oh ya, mumpung ingat, ini tidak wajib tapi menurut saya menguntungkan banget kalau dipelajari. Saya agak menyesal karena saya tidak pernah benar-benar belajar membaca not balok. Selain membuat saya tidak qualified untuk beberapa job (orkes, misalnya), hal ini juga membuat saya kesulitan mempelajari partitur lagu yang sering saya dapatkan dari membeli majalah musik.

Kedua, know your roles. Berdasarkan ke-soktahu-an saya sebagai insan, ada tiga jenis job session player yang umum ditemui, yaitu: pengiring solois/project saat perform live, studio (rekaman), dan session player saat reguler dan event. Masing-masing dari 3 kategori tersebut membutuhkan kemampuan yang berbeda juga. Skill set yang dibutuhkan pada saat live dan rekaman cenderung serupa, di mana kita harus bisa membuka telinga lebar-lebar dan bersiap untuk merespon sesuai dengan arahan yang diberikan oleh music director, manajer atau sang artis sendiri.

Komunikasikan segala sesuatu dengan orang yang terlibat di dalam project itu, terlebih kepada mereka yang nge-hire kamu. Komunikasi dua arah yang lancar juga menunjukkan bahwa kita bisa menghargai satu sama lain. Pastikan kamu bisa memenuhi permintaan mereka, atau setidaknya menjembatani keinginan klien dan kebutuhan aransemen. Tantangannya ya serving the music. Main yang pas; nggak kurang, nggak lebih.

Kalau ternyata mereka mengizinkanmu untuk menambahkan sentuhan pribadimu ke musiknya, that’s a plus.

Menjadi pemain pengganti di reguler atau event membutuhkan keahlian yang agak sedikit berbeda dari dua kategori sebelumnya. Di kategori ini, skill terpenting yang harus dimiliki seorang session player adalah perbendaharaan lagu yang luas. Hal satu ini bakal sangat membantumu di gig dengan playlist “ajaib” seperti corporate gathering.

Sudah pernah di-request “Sweet Child ‘O Mine” terus habis itu diminta main “Fatwa Pujangga” dan dilanjut “Banyu Langit”? Jika kamu bisa lulus dari uji kompetensi berkedok manggung ini, niscaya kalimat “makasih ya kak, jangan kapok ya ngajakin aku” itu nggak cuman jadi harapanmu yang bertepuk sebelah tangan.

Sekadar info tambahan, sekali lagi kemampuan berkomunikasimu dengan rekan-rekanmu di panggung juga bakal diuji di sini. Misal nih, band yang kamu bantuin mau bawain “The Scientist”-nya Coldplay. Kamu tahu pasti setelah chorus kedua, lagu itu bakal masuk ke bagian ending/coda. Malangnya bagimu, temen-temen bandmu biasanya nge-custom urutan lagu itu dengan balik lagi ke chorus, dan sementara kamu merem-merem menghayati lagunya, kamu nggak sadar kalau teman-teman bandmu ngasih kode urutan lagunya ke kamu.

Temen-temen yang main bass pasti tahu banget rasanya naruh jari di fret yang salah, terus dipetik deh. Rasanya ku ingin hilang ingatan… Makanya, komunikasi!

Berikutnya adalah penampilan. Sebagai profesi yang kerjaannya tampil di depan orang lain, sudah sepantasnya jika kita sedikit memoles packaging diri kita ini. Tidak perlu dandan yang gimana-gimana. Paling gampang, sebelum berangkat manggung, ngaca dulu. Apa iya di atas panggung kita pengen kelihatan kayak orang habis benerin genteng?

Lalu, punctuality. Ketepatan waktu. Nggak peduli pas latihan, rekaman, apalagi manggung, usahakan JANGAN SAMPAI TELAT. Toh, sampai di venue duluan juga banyak untungnya. Selain bisa lebih santai pas setting alat, kamu juga bisa nongkrongin mereka-mereka yang udah datang duluan di venue. Dari teman satu bandmu, panitia acara, sampai kru sound system. Ingat apa kata mama, banyak teman banyak rezeki.

Reachability menjadi item berikutnya yang masuk di daftar ini. Menjadi seseorang yang mudah dihubungi ini vital biar kesempatan yang mampir nggak ngacir ke tangan orang lain. Saya sendiri beberapa kali mengalami kejadian ini. Tawaran job melayang gara-gara telat balesin chat WhatsApp 10 menit. Padahal, waktu itu saya lagi jemur pakaian.

Last but not least, koneksi. Saya sering mengartikan networking sebagai “network is king”. Rekan dan kolegamu adalah hal mahapenting yang akan menentukan seberapa awetnya kariermu di bidang yang orang tua saya sebut sebagai “kerjaan yang ga akan bertahan lama” ini. Sebagai orang yang bukan asli Jogja, tahun-tahun pertama saya di kota ini saya habiskan dengan mengetuk banyak sekali rumah. Main ke banyak komunitas. Nongkrong di tempat-tempat yang “asing” bagi saya. Membuka jalan. Babat alas. Apa pun istilahnya. Sok kenal sok dekat? Ya kadang gitu juga, wong saya nggak kenal siapa-siapa di skena musik kota ini waktu itu. Yang penting, mereka bisa aware dengan eksistensi saya, dan saya bisa bikin kesan biar mereka mengingat saya sebagai musisi, sukur-sukur teman, yang baik.

Semakin banyak koneksi sama dengan semakin banyak kesempatan. Saya percaya kalau luck atau keberuntungan itu bukan suatu hal yang gaib, melainkan perpaduan antara kesempatan dan persiapan.

Sebagai penutup, menjadi seorang session player itu bukan cuma soal bayaran, tapi juga soal kesinambungan. Gethok tular. Word of mouth. Jangan biarkan apa yang sudah kamu rintis dan bangun runtuh hanya karena hal kecil; bekerjalah secara profesional, sepenuh hati dan disiplin sehingga kamu tetap bisa menjaga kepercayaan yang sudah diberikan padamu. Dan, sebisa mungkin, hindari menutup pintu kemungkinan kepada siapapun. Kita nggak pernah tahu di masa depan, mungkin orang yang dulunya sering kita tolak atau remehkan bakal jadi orang yang bakal bantuin atau ngasih job buat kita.

Oh.

Iya.

Terakhir banget ini.

Jangan lupa jaga kesehatan dan istirahat yang cukup. Kadang kita suka hang out sampai larut atau ndilalahe materi lagu yang mesti kamu pelajari sedang numpuk (ceritanya pas lagi laris). Akibatnya, pola makanmu berantakan, jam tidur nggak karuan, de el el. Tahu-tahu tepar. Ambruk. Job hilang juga gara-gara kita yang nggak bisa nge-manage badan kita sendiri.

Seperti nasihat dari seorang sahabat:

”Nek pas jobmu lagi banter-bantere, ojo lali ngombe banyu putih. Mengko ndak lara kuning!”


 

Valentino Baswara Wiwaswan dikenal sebagai basis Dharma (dengarkan lagunya di sini). Selain bermain dengan sejuta proyek wedding dan regular event, ia juga pernah bekerjasama dengan Pongki Barata, Reza Artamevia, Langit Sore, Dinno Alshan, Brian Prasetioadi, LaQuena, Felix Irwan, Senja, Olski, Citra Scholastika, dan Abdul.

No more articles