A password will be e-mailed to you.

Bagi yang belum membaca bagian satu, klik tautan berikut.

Menjadi anak band bisa jadi merupakan cita-cita banyak orang, tak terkecuali saya.

Selain untuk mengejar passion yang terlampau menggebu, saya bahagia sekali bisa merasakan sensasi berdiri di atas panggung dan disaksikan oleh ribuan pasang mata.  Meski pun ribuan pasang mata itu sudah bersiap menghakimi seberapa lucu Sastromoeni, saya anggap itu adalah tuntutan pekerjaan.

Ada satu pengalaman seru saya tentang ini.

Saat itu, Sasmun mentas di Lapangan Pramuka, Kaliurang. Di sana, telah terpampang gagah sebuah panggung super besar dengan penonton super banyak. Kami didaulat menjadi lakon pembuka grup dangdut yang punya nama lumayan besar. Dalam hati, kami ketar-ketir. Sudah menjadi rahasia umum bahwa selain mencoba mengedukasi panitia tentang betapa sadisnya mereka menawar harga band, hal yang paling merepotkan di dunia hiburan adalah mencoba menghibur penggemar musik dangdut BUKAN dengan musik dangdut.

Lapangan Pramuka hari itu penuh sesak. Iya, lapangan sebesar itu penuh dikerumuni pasukan siap goyang. Sayangnya, mereka tidak termasuk pasukan siap tertawa.

Saya membuka pertunjukan Sasmun dengan permainan gitar penuh distorsi. Sasmun biasa membuka penampilan dengan soundtrack Crow Zero yang kami rangkai menjadi jingle pembuka. Penonton bersemangat, mereka berdiri dan mulai melakukan moshing keliling lapangan merespon melodi “Sweet Child O’ Mine” yang saya mainkan. Kami serasa rockstar.

Memasuki lagu kedua, suasana berubah drastis. Entah karena capek atau gimana, mereka mendadak duduk jongkok di lapangan, tidak mengacuhkan penampilan kami.

“Krik-krik, ra lucuuuuu!!!!”

“Wis mas, ndangdut wae!!!!!!”

Kami mendengar sayup-sayup teriakan penonton meminta kami untuk turun panggung. Mereka sudah tidak sabar untuk mendengarkan dangdut. Saat itu, saya sungguh merasa sangat melankolis sekali. Ingin menyalahkan tapi tak ada Lobow, ingin mengadu tapi tak ada domba.

Sembari menggerutu, akhirnya kami menyudahi penampilan kami dengan tertunduk lesu. Saya langsung kepikiran untuk mengganti nama Sastromoeni menjadi Sastromoeni Wis Mas Ndangdut Wae. Sempak!

Panggung tersebut menjadi refleksi buat saya bahwa kita tidak mungkin bisa membuat senang semua orang dengan konten yang kita sajikan. Ada kalanya mereka kurang bisa menerima apa yang kita tawarkan. Bukan karena konten kita jelek, tapi mungkin karena 1) pasarnya kurang cocok, atau 2) dangdut is indeed the music of our country.

Cerita lain, kami pernah manggung di Magelang dan di-branding sebagai artis penting.

Beberapa kilo sebelum tempat pertunjukan, saya melihat banyak spanduk besar bertuliskan “Hiburan Rakyat dengan Bintang Tamu dari Jogja, Sastromoeni”. Wah, akhirnya kami diperlakukan dengan pantas. Kami senang dan berniat menjadikan Magelang sebagai ibu kota Indonesia yang baru.

Sesampainya di venue, ternyata acara yang mengundang kami adalah bazar sembako murah. Kami shock. Pertama, calon penonton kami adalah pasukan ibu-ibu. Kedua, mereka datang bukan untuk menonton musik, melainkan untuk membeli minyak, beras, dan sabun. Pada titik ini kami langsung mengurungkan niat memindahkan pusat pemerintahan ke Magelang.

Sistem keuangan di Sasmun juga lumayan unik, kalau tidak mau dibilang aneh.

Kami tidak membeda-bedakan antara personel dengan kru untuk pembagian fee. Kalau yang berangkat 10 orang, ya fee dipukul rata antara kru dan player. Tidak ada bedanya. Kalau ditilik ke belakang, saya menyesal menjadi gitaris dan harus mengalami tragedi telanjang di atas panggung. Mending saya jadi kru saja.

Ya mau gimana lagi, orientasi kami dalam band-bandan memang bukan untuk mencari harta, tahta, apalagi wanita. Yaiyalah, mana ada wanita yang mau dengan anak band seperti kami?

Kami hampir tidak pernah mempermasalahkan besaran uang yang diberikan kepada Sasmun. Kami memang punya harga, tetapi kami tetap akan merasa senang hati dibayar dengan harga diskon asalkan panitia benar-benar jujur bahwa mereka kekurangan uang. Bukan semata trik untuk mendapatkan penampil murah padahal membayar artis utama dengan harga selangit.

Pernah ada kejadian saat Sasmun dibayar dengan harga prihatin: 0,6% dari harga artis nasional yang diundang. Mengetahui fakta tersebut, kami sempat murka. Tapi karena kami band baik, kami terima saja dan jadikan pelajaran.

Ternyata, kami mendapat kabar bahwa acara tersebut mengalami kendala sehingga harus membatalkan kedatangan si artis nasional. Kejadian ini membuat panitia menanggung kerugian yang lumayan besar. Apa yang kami lakukan? Kami berinisiatif untuk mengembalikan semua uang yang sudah kami terima dan menambahkan sedikit untuk membantu panitia tersebut membayar kerugian. Bukan maksudnya riya’ ya, tapi ya gimana.. band baik je.

No more articles