A password will be e-mailed to you.

Ini Ceritaku Jadi Musisi Hotel Bintang Lima di Malaysia

REDAKSI – Fareeq Angkasa menceritakan pengalamannya sebagai musisi reguler yang mencari uang di negara orang. Dikirim ke Malaysia, ia bekerja 6 hari seminggu sembari menyanyikan 36 lagu setiap malam. Tiga puluh enam. Setiap malam.

Dulu, kalau melihat hidup temanku yang punya kesempatan kerja sebagai entertainer di resort berbintang lima luar negeri, kerja di sana kok nampaknya asyik ya. Tempatnya keren, pantai-pantai gitu lah, dan penuh dengan kemewahan. Bintang lima coy.

Mungkin dasar aku rajin beribadah, akhirnya aku dapat kesempatan ngerasain sendiri. Akhir Agustus tahun lalu, aku ditawarin buat jadi basis sekaligus penyanyi cowok di sebuah resort Pulau Langkawi, Malaysia. Upin-Ipin, aku datang.

Aku kerja dikontrak selama 6 bulan. Setiap harinya kerja 3 jam aja, dari jam 7 sampe 11 malem, dibagi 4 sesi, per-sesinya main 45 menit. Liburnya hari senin doang. Setiap hari kira-kira harus bawain 36 lagu pop, yang mana tentunya tidak diperbolehkan pakai lagu berbahasa Indonesia dong.

Buat aku yang bisa dibilang newcomer di bidang pernyanyian, aku harus bekerja ekstra buat ngejar perbendaharaan lagu. Soalnya pas awal-awal kerja, punya list ratusan lagu pun rasanya kurang, seolah-olah tiap hari nyanyiin lagu yang itu-itu aja. Tapi ya asyik sih karena bisa terus ngulik banyak lagu-lagu yang belum pernah dimaenin sebelumnya. Apalagi kalau ada guest yang request lagu dari daerahnya. Kapan lagi bisa nyanyi lagu Arab, Mandarin, dan India secara profesional alias tidak sedang cosplay!? Jarang dong.

Tamu yang dateng sangat beragam, mulai dari benua Eropa, dataran India, Tiongkok, Korea, Jepang, Australia, Timur Tengah, dan juga Amerika, dan semuanya kayaknya sih rata-rata punya status ekonomi yang berkecukupan (soalnya piknik dan nginep di hotelku nggak murah!). Setiap harinya jarang sepi. Kalo lagi sepi-sepinya, di bar paling minimal pasti ada satu atau dua meja lah yang keisi. Ini orang kaya banyak amat deh!?

View this post on Instagram

Kpn lg upload lagi ngamen.

A post shared by Fareeq Angkasa (@fareeqangkasa) on

Yang paling menarik dan nyenengin sih kebanyakan tamu sering dan gampang banget mengapresiasi. Kalau ngerasa senang dan enjoy, pasti mereka nggak segan-segan buat langsung dateng ke kita dan ngasih pujian, dengan ekspresi yang tulus, “you guys played such a beautiful music” dan kalimat-kalimat indah lainnya yang nyaman buat didengar. Nggak jarang dilanjutkan dengan sebuah handshake ultimate alias uang tips yang mantap, atau ditraktir sebotol wine. Bahkan, nggak cuma sekali ada yang nawarin kalau kontraknya udah abis, kami disuruh main di negara asalnya atau di tempat dia kerja, dengan tawaran yang sangat menarik. Sedap, mungkin hal kayak gini jarang dirasain kalo main di tempat asalku, khususnya di daerah yang nggak banyak wisatawan bule.

Kami dapet berbagai fasilitas di sini, mulai dari nge-gym gratis, makan gratis di kantin staf, dan juga tempat tinggal. Di sini aku tinggal di quarters buat staf. Tiap hari menu makan gratisku standar: ayam masak kare, ikan goreng, sama sayur-sayuran. Seminggu pertama enjoy lah, lama-lama bosen juga hahahaha. Sekarang udah nggak pernah makan di kantin lagi.

Khusus buat band, kami boleh pesen makanan atau minuman apa aja yang ada di menu resto ataupun di bar, kecuali minuman beralkohol. Ya, tapi abang-abang kami yang di bar sering iseng kasih minum sih jadi mantap abes kau bang hahaha. Enaknya kerja di sini dibanding di Indonesia sih, salah satunya nggak perlu repot-repot mikirin transport, beli bensin, atau melawan macet. Kalau mau berangkat kerja tinggal jalan sekitar 5 menit lah, kalau beruntung ya ada buggy yang bisa ditebengin.

Selain itu, jadi musisi di sini semacem punya posisi yang sedikit eksklusif. Selain dari segi gaji yang bisa dibilang cukup tinggi dari kebanyakan staf, beberapa fasilitas seperti gym dan makan di resto/bar gratis adalah fasilitas yang nggak semua staf bisa nikmatin, jadi ya emang buat cuma musisi doang.

Kalau ditanya gaji, pendapatan ngamen di sini mungkin setara ngamen di kota-kota besar Indonesia, misal Jakarta atau Bali. Di tempat asalku, Jogja dan Magelang, buat dapetin nominal segini sebagai session player seenggaknya ya harus laris mantap dulu, yang mana aku tidak. Hehehe.

Kerja di sini juga sangat cocok buat yang mau hemat atau nabung beli limosin. Langkawi itungannya masih kota kecil, jadi nggak banyak spot-spot buat ngabisin duit. Paling cuma buat makan 7 ringgit udah dapet nasi ayam sama Teh O ais (kalau di sini pesen ice tea yang dateng malah es teh tarik), atau kalau mau jajan rokok juga kurang lebih sama kayak di Jogja. Oh ya, Langkawi juga berita baik buat kamu-kamu pecinta alkohol. Ya gimana, minuman keras bebas cukai, jadi murah-murah semua, cuy.

Kesimpulannya, kerja di sini ya gitu aja nggak banyak bedanya. Aku malah kangen sama asap-asap kendaraan, suara knalpot rx-king, dan juga sarapan pecel di pagi hari. Oiya, buat pribadi yang punya idealisme musik tersendiri kayak aku, tentunya kerja kayak gini bakal banyak yang dikorbanin, apalagi ketika harus menyanyikan lagu “Despacito” dan “Senorita”. Bukan pengorbanan yang besar sih, mengingat hasil yang didapatkan sangat membantu membuat keadaan finansial stabil. Jadi, kedepannya kalo mau ngejar mimpi setidaknya landasanku sudah kuat. Hehehehe..

No more articles