A password will be e-mailed to you.

Tahun ini resmi menandai tahun ke-8 saya beraktivitas di skena musik Jogja. Ratusan gosip underground, kebencian, pertengkaran, dan sikut-sikutan sudah saya lalui. Bermain di acara brand besar yang membuat kaya mendadak ya pernah, menghibur tanpa bayaran pun tak terlewatkan.

Ada pula rotasi romansa yang terbangun dan tak sedikit pula kisah asmara yang kandas. Bahkan, baku hantam yang nyaris tak terhindarkan menjadi bukti nyata bahwa skena musik Jogja sungguh sensitif. Alhasil, keadaan ini membuat saya melintaskan pertanyaan dan keluhan dalam kepala saya tentang skena, misal: “mau sampai kapan skena musik Jogja begini terus?”

Di antara itu semua, ada satu hal yang paling saya benci dari skena musik Jogja.

Sebelum kita membahas hal tersebut, mari dengarkan dan sedikit membahas karya terbaru saya dengan Answer Sheet di bawah yang berjudul “Clickbait”. Ayo dengarkan. Jangan malas.

Sepintas lagu tersebut hanya terdengar seperti lagu pop biasa, liriknya pun hanya berisi serapan judul-judul artikel umpan klik di media daring. Tapi, apabila ditela’ah lebih dalam, sesungguhnya terdapat aspek musikal dan non-musikal penting di dalamnya. Saya akan menyederhanakan aspek tersebut kepada tiga hal saja: eksperimen, kenyamanan, dan kesehatan.

Pertama, eksperimen.

Eksperimen pada konteks ini bukanlah musik yang eksperimental seperti orkestrasi suara komunitas RX-King di malam hari. Eksperimen di sini berarti percobaan saya terhadap warna musik, visual, dan waktu perilisan lagu ini. Ketiga hal tersebut coba saya terapkan mengikuti prinsip clickbait.

Mari sepakat bahwa clickbait mempunyai fungsi untuk mendatangkan visitors sebanyak mungkin.

Dari segi musikal, Answer Sheet mencoba untuk kembali ke masa awal band era A Love Beach Sadranan dan beberapa lagu di album Chapter 1 : Istas Promenade. Keputusan ini diambil karena kami merasa album tersebut lebih mudah dicerna ketimbang lagu kami beberapa waktu belakangan. Nah, prinsip clickbait kami terapkan dengan membuat musik yang mengundang lebih banyak pendengar pula.

Dari segi visual, konsep video klip kami buat tanpa storyline, kembali agar mudah dicerna. Kami hanya berpikir bagaimana caranya membuat video klip yang mudah, cepat, minim kesalahan produksi, tapi semua orang akan paham dan tertarik. Ditambah, kami males juga sih kalau harus bikin storyboard, script, dan shooting di berbagai lokasi.

Daripada kelamaan mikir, maka terpilihlah green screen sebagai konsep visual, sebuah teknik yang dipakai jutaan kali pada produksi video/film. Tadinya sih kami hanya ingin membuat video klip seperti “Girls & Boys” milik Blur. Tapi pada akhirnya kami memilih untuk merespon stok video-video gratis unduh di internet. Selain lebih liar, lebih nggak ribet.

Hasilnya bisa dilihat di video yang saya bagikan di atas: ada Suryo melerai monyet-monyet bertengkar, Faiz terbang dengan sapu dan menyapu, saya menari balet di samping bor duduk. Satu-satunya stok video yang murni kami ambil hanya pada bagian reffrain ke-2 (gigi The Sailors di Terror Weekend).

Intinya sih video klip ini penginnya nyolong fokus dan gampang dicerna. Clickbait-lah.

Lalu, waktu perilisan.

Sejujurnya, konsep pembuatan video klip kami yang menggunakan green screen ini lahir hanya beberapa jam setelah “New Light” versi audio dirilis. Video klip “Clickbait” pun rencananya baru ditayangkan selepas lebaran. Tapi apa daya, John Mayer kemudian merilis video klip “New Light” yang kebetulan sama-sama menggunakan green screen dan sama noraknya – punya kami lebih liar sih. Daripada mengeluh karena konsep yang sama, ya mending sekalian numpang keyword aja. Toh judul lagunya juga “Clickbait”. Caranya? Judul video juga ikut di-clickbait-in dong!

Apa hasilnya? Pertama, kami mendapat 1200 views dalam waktu dua hari. Bagi band yang jarang tampil, angka ini terhitung cukup cepat. Kedua, terjadi interaksi maksimal pada kolom komentar semua akun Answer Sheet entah di YouTube, Instagram, ataupun Twitter. Melihat begini, saya jadi sedikit paham mengapa Tribunnews bisa jadi rangking satu Alexa.

Lanjut aspek kedua: kenyamanan.

Kenyamanan bisa dibilang menjadi aspek penting dalam proses produksi video ini. Dibantu oleh fotografer panggung muda Bayu Atha, kami syuting hanya butuh 3 jam saja. Tidak lebih tidak kurang, Bahkan dalam waktu sesingkat itu, kami sudah melakukan syuting sekaligus sesi foto band terbaru. Efisiensi waktu terjadi karena kami sangat nyaman dengan Bayu. Mwah.

Produksi musiknya sendiri kami lakukan senyaman dan semudah mungkin. Rekaman vokal dan ukulele dilakukan di studio Rukun, Bugisan. Lalu untuk rekaman gitar, bass, loop, dan lainnya kami lakukan di rumah sendiri.

Sebelumnya, sudah berbagai studio kami coba dengan berbagai processing dan hardware yang mutakhir, tapi entah mengapa ternyata kami lebih nyaman jika take dikelilingi suasana rumahan dengan tanpa paksaan dan tekanan waktu. Alhamdulillah, kebetulan teman baik kami, paman Fadil, bersedia untuk membantu merekam, mengarahkan, me-mixing, dan nge-mastering lagu ini. Kalau sudah nyaman begini, proses rekam terasa lebih mudah.

Terakhir, aspek kesehatan.

Bagi saya pribadi, keseluruhan konsep “Clickbait” tidak akan terlahir kalau kami bertiga tidak sehat. Buktinya, saya berhasil menciptakan “Clickbait” sesaat setelah saya melakukan sesi olahraga cardio selama 30 menit: sesuatu yang belum pernah saya lakukan kurang lebih 7 tahun lamanya. Bahkan, lagu ini adalah lagu pertama yang saya tulis setelah 1 tahun gagal menulis lagu baru.

Metode musisi dalam berkarya memang berbeda-beda. Ada teman yang harus “minum” sedikit agar relax ketika perform, ada juga yang harus menunggu waktu insomnia agar dapat menulis lagu. Kebetulan cara saya, ternyata, adalah dengan olahraga. Membuat diri sehat jiwa raga membawa inspirasi baru bagi saya dalam berkarya. Kalau saya pikir-pikir lagi, tahun lalu saya memang selalu mendapat ajakan buat mabuk-mabukan setiap minggunya. Astaghfirullah, ternyata hal itu penyebab mandeknya penciptaan lagu saya selama satu tahun! Terkuak!

Akhirul kalam, selamat menyaksikan dan menikmati karya terbaru kami. Saya harap kalian suka lagunya dan dapat memetik pelajaran dari proses pengkaryaan yang saya tulis di sini.

Oh ya, ngomong-ngomong soal hal yang paling saya benci dari skena musik Jogja, ya itu tadi: saya sudah jarang diajak mabuk lagi. Syedi.

No more articles