A password will be e-mailed to you.
AVEZLU8Ffm4

Jaga Tanya edisi pertama adalah hasil kolaborasi HOOKSpace dan Degup Detak Records.

Melalui Extended Play (EP) perdananya yang bertajuk Ruang, Tashoora lantang menyuarakan gagasan, pandangan, dan keresahannya atas suatu peristiwa. “Tatap”, “Nista”, “Sabda”, “Terang”, dan “Ruang” adalah lima lagu yang merangkum langkah perdana band ini menyuarakan apa yang, menurut mereka, patut disuarakan.

Bagi yang sudah sering menonton mereka manggung, semua lagu di EP ini pasti sangat familiar karena hampir selalu mereka bawakan dari panggung ke panggung. Sekitar satu jam saya mewawancarai mereka, berikut beberapa poin kekepoan ekslusif saya yang saya langsung tanyakan ke mereka 1 jam sebelum hari perilisan album.

Pertama: tidak harus dekat, khususnya secara geografis, dengan suatu isu untuk mengangkat dan menyuarakan isu tersebut.

Pertanyaan muncul dari saya dan tim HOOKSpace mengenai kedekatan Tashoora akan peristiwa-peristiwa yang mereka angkat dalam lagunya. Apakah isu yang diangkat dalam lagu mereka hanya gimmick belaka biar terlihat keren dan peduli gitu?

Melalui jawabannya, Danang (vokal, gitar) menyatakan bahwa kita tidak boleh menutup mata bahwa kita semua dekat dengan segala hiruk pikuk permasalahan sosial yang ada. Masalah-masalah tersebut, menurutnya, telah lama ada dan terus terjadi. Namun, tetap dibiarkan dan bahkan tidak ada yang menyuarakannya. Satu contoh: saat umur 8 tahun, Danang pernah benar-benar melihat dan merasakan sendiri peristiwa rasisme yang terjadi terhadap salah satu keluarganya. “Umur 8 tahun, gue udah ngeliat sendiri tuh”, begitu imbuhnya. Ia pun menambahkan bahwa peristiwa yang dijadikan landasan dalam menulis lagu itu hanya salah satu yang terjadi dan kebetulan ramai dibicarakan. Padahal, masalah tersebut sudah lama ada dan menjadi budaya yang diam diam di-wajar-kan dan dibiarkan.

Apabila yang ditanyakan adalah soal kedekatan geografis dengan suatu isu, Tashoora menganggapnya lebih absurd lagi. Memangnya anak UI tidak bisa membahas pelecehan seksual di UGM?

Kemudian, apakah dengan Tashoora menulis lagu-lagu tersebut, maka masalah akan selesai? Emang bisa menyelesaikan masalah sosial lewat album?

Menanggapi hal tersebut, Danang menjawab bahwa proses penyelesaian masalah akan sangat kompleks dan panjang untuk dibahas. “Paling tidak, kami berani menyuarakan masalah tersebut melalui musik kami, masih untung ada yang mau menyuarakan. Yang pada diem-diem itu ngapain?” begitu tuturnya.

Mereka mengaku sangat resah ketika budaya ‘diam’ tadi merajalela.

Kedua: Album masih menjadi milestone utama dalam perjalanan band.

Setelah usai dengan tema dan isu yang diangkat dalam lagu-lagunya, obrolan kami berpindah ke arah strategi Tashoora dalam mendistribusikan karya. Mengapa EP? Padahal berdasarkan hasil penelitian Digital Music Association yang berjudul Streaming Forward tahun 2018 menunjukkan bahwa dengan adanya platform music streaming, sebanyak 54% orang telah menempatkan playlist di atas album dalam kebiasaan mendengarkan musiknya. Artinya, perilaku pendengar lebih condong mendengarkan nuansa musik tertentu ketika sedang merasakan perasaan tertentu dibandingkan mendengarkan band tertentu. Gimana, pusing gak?

Jawaban mereka simpel: Tashoora tidak memikirkan konsep produksi karya apakah harus album atau mengeluarkan single secara berkala. Yang mereka tahu, mereka sudah punya lima lagu siap edar dan mengapa harus disimpan sendiri-sendiri? Perkara apakah yang satu bakal lebih didengarkan daripada lagu yang lain tidak menjadi masalah. Kalau kata Dita (akordion, keyboard, vokal), yang penting hajar terus.

Terakhir: Apakah lagu Tashoora akan terus membawa isu sosial di dalamnya?

Menanggapi hal ini, Gusti (bas, vokal) menjawab bahwa berkarya di Tashoora tidak ada yang harus. Semua lagu bisa saja menjadi materi. Benang merahnya ada pada rekaman peristiwa yang terjadi dan memang kebanyakan adalah isu sosial. Tashoora concern dalam mengabadikan peristiwa-peristiwa tersebut dan berupaya menyuarakannya bahwa ini loh di sini terjadi ini di situ terjadi itu.

Selengkapnya, silakan tonton di sini:

No more articles