A password will be e-mailed to you.

Seiring berjalannya waktu, Yogyakarta mulai menjelma sebagai kota metropolitan. Jogja seringkali menjadi tujuan utama para pendatang yang ingin merantau. Mulai dari mengenyam pendidikan, mencari pekerjaan, menguasai dunia, ya pokoknya macam-macam lah alasan orang melakukan pindahan. Semakin banyaknya manusia berkumpul di Jogja tentu membuat perkembangan industri musik di sini semakin besar pula. Jogja semakin sering dikunjungi oleh band-band besar yang melakukan konser. Beberapa promotor besar bahkan mengundang band kelas dunia untuk dibawa ke Kota Pelajar. Prambanan Jazz dan JogjaROCKarta adalah salah dua festival yang rutin melakukannya setiap tahun.

Melihat ke belakang, tepat satu tahun lalu sebuah band progresif metal asal Amerika Serikat, Dream Theater, berencana menggelar konser di Candi Prambanan. Mengingat betapa besar jasa Dream Theater bagi anak band festivalan seluruh Indonesia, para metalhead dan fans dari Dream Theater tentu langsung geger dengan kedatangan band legendaris ini.

Namun IAAI (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia) kemudian melayangkan protes terhadap event tersebut dan mendesak penyelenggara memindahkan venue konser. Hal ini berkaitan dengan Candi Prambanan sebagai tempat suci bagi pemeluk agama Hindu dengan bebatuan yang rapuh. Menurut kajian Tim Balai Konservasi Borobudur atas Konser Prambanan Jazz 20-21 Agustus 2017, tingkat kebisingan acara tersebut melebihi 60 dB alias ambang batas yang sudah ditentukan untuk tetap menjaga kelestarian candi. Nah, bisa dibayangkan, festival jazz saja sudah melebihi batas, ya gimana musik metal.

Tahun ini, Jogja kembali kedatangan salah satu dedengkot metal dunia, Megadeth. Dave Mustaine dan kawan-kawan siap mengguncang para fansnya di Jogja pada 27 Oktober 2018. Stadion Kridosono dipilih sebagai tempat berlangsungnya event ini. Perlu dicatat, stadion ini juga merupakan venue konser Dream Theater tahun lalu. Melihat kondisi ini, saya sebenarnya gelisah. Saya rasa Jogja butuh segera venue konser bertaraf internasional.

Saya kira akan lebih baik apabila band sekelas Megadeth dapat tampil di venue yang lebih besar dan memiliki fasilitas penunjang yang lebih memadai. Begini, Stadion Kridosono sendiri tidak memiliki lahan parkir yang luas untuk menampung ribuan orang, akses masuk stadion yang terbatas membuat antrian panjang di pintu masuk sering terjadi. Hal ini turut menjadi penyebab terjadinya dorong-dorongan antar penonton dan bentrok antara pengunjung dengan petugas keamanan.

Selain itu, ketiadaan toilet di stadion membuat panitia menyiapkan toilet portable yang sering kali jumlahnya sangat sedikit sehingga menyulitkan pengunjung apabila ingin buang air. Box-box untuk menjual merchandise sendiri terlalu kecil padahal banyak penonton yang berminat untuk jajan. Karena melihat antrian yang panjang, tak sedikit yang mengurungkan niat, misalnya saya sendiri.

Event konser musik nasional dengan skala besar sendiri memang sudah sering dilaksanakan dengan mengambil tempat di lapangan parkir Stadion Maguwo maupun GOR UNY. Namun, lagi-lagi masalah fasilitas bagi pengunjung seperti parkir, toilet, dan akses keluar masuk apabila terjadi bencana dan hal-hal yang berkaitan dengan kenyamanan pengunjung sering diabaikan.

Jogjakarta sendiri mempunyai tanah-tanah yang cukup luas untuk dibangun venue konser musik bertaraf internasional. Apabila dilihat dari perkembangan industri musik ke depan, hal ini menjadi urgensi untuk segera dilaksanakan. Memang sih Jogja sendiri sudah mempunyai JEC, namun seberapa sering sih konser musik digelar di tempat ini? Selain harga sewa yang mahal, JEC sudah menjadi pilihan venue banyak event di luar musik.

Ya, ujung-ujungnya hal ini akan kembali kepada pemerintah sih. Mereka ya punya prioritas kebijakan dan saya hanyalah warganet yang menyampaikan aspirasi.

Solusi dari saya? Wah, saya ini rakyat biasa je. Iki yo mung numpang sambat.

No more articles