A password will be e-mailed to you.

Transkrip percakapan WhatsApp:

Jono: “Wan, boleh minta bantuan HOOKSpace, Nggak?”

Jono: “Crowdfunding mau berakhir nih, ak lagi nulis artikel untuk cerita tentang prosesnya”

Jono: “Wan, piye?”

Awan: “Lha piye maksudmu ki?”

Jono: “Maksudnya saya jawab di paragraf terkakhir artikel ya. Lopyu”

transkrip telah di-dramatisir dengan berlebihan. (sangat, sangat berlebihan. – Awan)

Mulai dari mana ya. Ceritanya panjang e. Tapi singkat cerita (lha pie to Jon!?), Jono Terbakar membuat 5 album + 1 mini-album pada tahun 2018 ini. Begini awal mulanya.

Pada 2017, sehabis isya, saya melihat sebuah artikel yang menjelaskan bahwa sebuah band Asutralia (#typo #sengaja) bernama King Gizzard and Lizard Wizard sedang berada dalam proses penyelesaian album kelimanya. Apa yang spesial? Ternyata bukan sambalnya, tapi karena album itu adalah yang kelima di tahun itu. Setahun lima album! BKKBN tolong diingatkan, 2 album cukup.

Bukannya menjadi tidak percaya dan skeptis, saya malah jadi terinspirasi. Langsung lah saya ambil pulpen dan mencoret-coret. Dalam waktu sekejap, di hadapan saya sudah ada 5 konsep album yang akan Jono Terbakar shikat di tahun 2018. Saya copas dari kertas ke grup Line band saya, “Jono Terbakar Efisiensi”. Walaupun saya CEO, saya tentu belum punya teknologi untuk melakukan copy-paste dari kertas tulis ke aplikasi Line. Maksud saya copas itu pengistilahan saja. Ini kenapa saya harus menjelaskan hal ini sih?

Beberapa tanggapan muncul. Ada yang suportif, ada yang defensif, dan, seperti banyak kabar, ada yang dibalas dengan di-read doang. Yahudi, yang penting album pertama segera kami shikat.

Akhirnya, bulan puasa kami masuk ke studio. Kami menggarap album perdana Jono Terbakar di tahun itu berjudul Proposal Penelitian. Satu dari lima. Setelah album selesai, kami langsung diingatkan oleh Tuhan Musik bahwa bikin album itu tidak ringan, khususnya dalam urusan waktu, tenaga, dan tentu saja birama, eh biaya. Berkaca dari pengalaman pengerjaan album ini, mimpi lima album dalam setahun langsung kami kubur. Kami memang band yang mudah terdemotivasi.

Sampai suatu hari, saya iseng ke DS Records untuk bikin-bikin demo. Dua jam lamanya saya di dalam studio. Merekam gitar dan vokal berselingan, hampir semuanya sekali take. Jadilah Lopyu, album kedua dalam format sederhana yang bukan rumah makan padang soalnya peteng. Prek.

Dilalah kalau mau bikin albumnya sederhana, low-budget, live, dan ngawur ternyata tidak susah. Sebagai band yang mudah termotivasi, akhirnya Karoseri, album ketiga, langsung kami shikat. Selama 1 jam kami berproses rekaman dalam format live/bersama-sama. Ya Allah, 1 jam selesai, album macam apa ini.

Tinggal 2 lagi dong ya.

Untuk dua album terakhir, materinya belum matang. Tapi mangganya kok sudah ya? Hehe. November 2018 kami masuk studio lagi. Dalam tenggat waktu 1 bulan (1-30 November), kami harus menyelesaikan 2 album dengan total 20 lagu #kerjarodi. Padahal bulan ini, kami lagi banyak manggung juga, duh pusing pala barbie ngepet.

Happy Mental, yang baru saja dirilis pada 26 November 2018 lalu, diproses pada awal hingga pertengahan November. Total selama 20 hari efektif kami menyelesaikannya: mulai dari pra-rekaman, rekaman itu sendiri, hingga kegiatan pasca-rekaman. Alhamdulilah sudah dirilis.

Nah, tinggal 1 album lagi.

Pada 20-an November, saya masuk studio lagi selama 5 jam untuk merekam guide album selanjutnya, album terakhir di tahun ini. Judulnya belum ada. Bukan “Belum Ada” tapi memang belum ada hehe. Merekam guide di siang hari, malamnya langsung merekam bagian drum.

Karena lagunya yang tahu cuma saya, belum pernah di-latihan-kan, maka proses merekam drum cukup keteteran. Akhirnya saya ambil alih stik dan melakukan rekaman drum sendiri dengan tujuan merekam guide untuk Elang, drumer Jono Terbakar, rekaman lagi esok-esok hari.

Tiga hari berselang sejak merekam guide, tapi rekaman album terakhir belum ada progres. Oh, jebul karena saya lupa share guidenya ke Elang.

Saya memutuskan berangkat ke studio rekaman dengan membawa cajon. Cajon itu akan saya mainkan sendiri untuk mempersingkat waktu karena tanggal sudah menunjukkan angka 27 bulan November tahun 2018, tiga hari menjelang tenggat waktu terakhir perekaman.

Sesampainya di setudiyo, saya kaget karena kata Seto, empunya studio DS Records, “Lumayan lho take drum kemarin, coba dengerin dulu”. Dia berusaha membujuk saya supaya tidak take cajon, mungkin karena dia tau saya gabisa main cajon.

Benar saja, beberapa menit preview membuat saya memutuskan untuk langsung ambil bas dan melanjutkan take. Bas selesai, lanjut gitar elektrik. Gitar selesai, lanjut mic vokal dipasang dan singkat cerita, semuanya beres malam itu. Sesi selama 6 jam kami habiskan tanpa berhenti. Kesel buos.

Total waktu pengerjaan sepuluh lagu album kelima dengan konsep full-band adalah 16 jam. Dengan selesainya proses pengerjaan album kelima, selesai pula tanggung jawab (yang saya buat-buat sendiri) tahun ini.

Eh, keesokan harinya ada WA masuk:

Seto: “Om, take gitar akustik kapan?”

Jono: “Pake yang guide aja, Om” #males
Besok kalo albumnya rilis silahkan dinilai sendiri ya. Wkwk. Saat tulisan ini ditulis, album terakhir kami sedang di-mixing. Rencana akan lahir suatu hari di Bulan Desember.

Oya, btw, otw, uvw, xyz, beberapa paragraf yang barusan saya tulis ini adalah cerita singkat dari satu tahun ++ yang Jono Terbakar alami. Waktu memang cepat berlalu. Gusti mboten sare, aku sing insomnia.

Panjang dan lebarnya tulisan ini sebenarnya cuma untuk mengajak dan memberi tahu bahwa kesempatan masih terbuka buat teman-teman ikut keroyokan mewujudkan dua album terakhir kami. Semua karya akan kami rilis dengan lisensi Creative Common 4.0 BY. Hal ini menjadikan semua orang bisa mengakses, mengunduh, menyebarkan, dan memanfaatkannya untuk profit/non-profit. Bisa diakses di http://kitabisa.com/jonoterbakar ya. Terimakasih sudah membaca sampai disini.

Semoga setelah tulisan ini dimuat HOOKSpace dan mereka akan membuat kategori baru untuk tulisan macam ini bernama “Ada Maunya”. Hehe.

Siyu.

 

 

No more articles