A password will be e-mailed to you.

Lagu daerah Indonesia adalah peninggalan berharga, sekaligus kumpulan cerita yang tak terhitung banyaknya, dari nenek moyang kita.

Bagaimana tidak, lagu daerah di Indonesia saja jumlahnya lebih dari 500. Itu pun baru yang dianggap populer. Sisanya, yang kita tidak tahu, masih lebih banyak lagi.

Faktor keragaman suku, bahasa, kepercayaan, cerita rakyat, serta letak daerah yang berbeda-beda menjadikan pesan dan irama lagu daerah menjadi beraneka ragam.

Ada lagu daerah yang menceritakan tanaman dan fauna khas tempatnya. Ada yang berisi pesan dari leluhur dan para petua-nya. Ada pula yang hanya berisi pesan untuk bersenang-senang.

Irama dan ciri lagunya juga tak sama. Lagu daerah Indonesia Timur misalnya, punya nuansa ritmis yang kuat dengan alat musik pukulnya. Begitu pula dengan bagian barat, yang notasinya agak ‘meliuk-liuk’.

Fungsi lagu daerah pun berlainan. Ada yang dipakai untuk permainan tradisional. Di lain tempat, banyak yang digunakan untuk mengiringi ritual atau upacara adat.

Untuk melihat beragamnya fungsi, ciri khas, dan cerita tersebut, ada baiknya kita bedah saja lewat contoh lagu daerah populer dari 34 provinsi di Indonesia. HOOKSpace akan membahasnya secara ringkas. Yok, langsung mulai aja.

Daftar Isi

Lagu Daerah Sumatera

Bungong Jeumpa (Aceh)

Lagu Daerah Aceh

Bungong Jeumpa adalah lagu asal Aceh yang menceritakan tentang Bunga Cempaka. Dalam kebudayaan Aceh, Bunga Cempaka adalah flora mahkota sekaligus simbol keindahan.

Hal tersebut tergambar dalam lirik terjemahan bait pertamanya: “Bunga Cempaka, terkenal di Aceh, bunga indah sekali, putih kuning bercampur merah, mekar sekuntum indah rupawan”.

Sinanggar Tullo (Sumatera Utara)

Toba, salah satu tempat terkenal di Sumatera

Sinanggar Tullo bisa dikatakan sebagai lagu Batak yang tak cuma terkenal di Sumatera Utara saja, tetapi juga sering dinyanyikan di daerah lain.

Banyaknya pengulangan lirik “Sinanggar Tullo, Tullo a Tullo” membuat lagu ini sangat mudah dihafalkan.

Konon, lagu ini bercerita tentang keluh kesah seorang lelaki yang harus mencari pasangan dengan marga yang sama dengan ibunya. Dalam bahasa Batak, hal itu dikenal sebagai pariban.

Sik Sik Sibatumanikam (Sumatera Utara)

Ini juga menjadi lagu daerah Batak yang cukup sering dinyanyikan di acara-acara pementasan.

Menurut Jurnal UIR yang dirilis pada 2018, Sik Sik Sibatumanikam awalnya cuma memiliki syair satu bagian saja. Pengertian dan maknanya pun tidak memiliki makna yang jelas dalam bahasa Toba.

Namun, semakin ke sini, ada yang mengaransemen liriknya menjadi tiga bagian. Hal ini bertujuan untuk menyelipkan pesan moral untuk kehidupan bermasyarakat.

Keunikan lagu Sik Sik Sibatumanikam ini adalah notasi lirik yang cukup rapat. Kita mungkin perlu menghafalkannya terlebih dahulu untuk bisa menyanyikannya dengan sempurna.

Lisoi (Sumatera Utara)

Lisoi adalah lagu yang bercerita tentang ikatan persaudaraan erat, terutama di kalangan orang Batak. Ketika sedang senang ataupun susah, mereka akan saling bersorak-sorai dan menghibur satu sama lain.

Lisoi bahkan sempat dipopulerkan oleh Seringai, band high-octane rock Indonesia. Seringai meng-cover Lisoi di album Taring (2013), bahkan cukup sering menampilkannya di video YouTube mereka.

Lagu ini sendiri diciptakan oleh Nahum Situmorang, komponis legendaris asal Sumatera Utara. Nahum adalah pencipta karya populer berbahasa Batak, seperti Alusi Au, Pulo Samosir, dan Situmorang.

Berbicara sepak terjang, Nahum tentu bukan main-main. Ia adalah peserta sayembara cipta lagu kebangsaan Indonesia, namun kalah dari WR Soepratman. Ia juga meraih penghargaan Anugerah Karya Seni pada 17 Agustus 1969, dua bulan sebelum dirinya tutup usia.

Ayam Den Lapeh (Sumatera Barat)

Sumatera Barat

Ayam Den Lapeh adalah lagu yang dipopulerkan oleh Orkes Gumarang pada 1954. Lagu ini menjadi hits hingga era 60-an. Dalam versi asli Gumarang, lirik diciptakan A. Hamid, dan dinyanyikan oleh Nurseha.

Dilansir dari National Geographic, lirik Ayam Den Lapeh sebenarnya agak bernuansa muram. Intinya, lagu ini menceritakan sesuatu berharga (digambarkan dengan ayam) yang lepas atau hilang.

Menariknya, lagu ini dibawakan dengan gaya ‘paradoks’. Nada dan irama yang ceria menyiratkan bahwa kita tak boleh larut dalam kesedihan. Dengan irama itu, Ayam Den Lapeh bahkan sering dikira sebagai lagu bahagia bagi yang tidak mengerti liriknya.

Paradoks tersebut kerap dimaknai bahwa kita harus tetap tegar dan tak putus harapan kala nasib sedang tidak menyertai.

Terlepas dari itu semua, lagu ini sukses memperkenalkan ranah Minang ke seantero Nusantara. Salah satu contohnya, terdapat penggalan nama kota di Sumatera Barat seperti Payakumbuh, Batusangkar, dan Pagaruyung.

Kampuang Nan Jauh di Mato (Sumatera Barat)

Kampuang Nan Jauh di Mato adalah lagu daerah Sumatera Barat yang diciptakan Oslan Husein pada 1931.

Lagu ini bercerita tentang perantau Minang yang merindukan kampung halaman sekaligus orang se-isinya. Ini tercantum dalam lirik: “Panduduaknya nan elok, nan suko bagotong royong, sakik sanang samo-samo diraso, den takana jo kampuang”.

Sejak dulu kala, orang Minang memang terkenal sebagai perantau. Jadi, wajar saja jika ada lagu daerah yang merepresentasikan kultur tersebut.

Seringgit Dua Kupang (Sumatera Barat)

Banyak yang menyebut bahwa lagu Seringgit Dua Kupang berasal dari Sumatera Barat. Mengutip banyak sumber, arti Seringgit Dua Kupang adalah ‘sama saja’ atau ‘setali tiga uang’.

Kalau boleh menganalisa liriknya yang sangat singkat: “Seringgit dua kupang, harum sungguh bunga melati, ditanam orang dalam jembangan”, ini adalah semacam metafora kesia-siaan.

Lagu ini kemudian banyak di-recycle dan digubah liriknya oleh musisi populer era 60-an, salah satunya Lilis Soerjani. Lagu recycle tersebut isinya juga merupakan kritik; yakni kesia-siaan orang yang berkeluarga namun kurang bisa bertanggung jawab.

Gending Sriwijaya (Sumatera Selatan)

Gending Sriwijaya adalah lagu daerah Sumatera Selatan yang bercerita tentang kejayaan pada masa kerajaan Sriwijaya, tepatnya akhir abad kedelapan.

Singkat cerita, Palembang, yang sekarang jadi ibu kota Sumatera Selatan, dulunya adalah salah satu pusat peradaban Sriwijaya. Kota tersebut bahkan jadi pusat perkembangan agama Buddha.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu ini menjadi bukti kerinduan akan besarnya wilayah Sumatera Selatan kala itu.

Lagu ini juga dipakai untuk mengiringi tarian Gending Sriwijaya. Tarian tersebut masih ditampilkan ketika ada penyambutan tamu penting atau dalam acara kenegaraan.

Lagu daerah Sumatera Selatan

Pulau Bintan (Kepulauan Riau)

Pulau Bintan adalah lagu daerah Kepulauan Riau yang menceritakan keindahan bentang alam di sana, terutama pantai dan lautan.

Keindahan tersebut tercermin langsung dalam liriknya: “Hiu-hiu di lautan biru, beranaklah due ala sayang, hatiku rindu, ape lah obatnye”.

Soleram (Riau)

Soleram adalah salah satu lagu daerah Sumatera, tepatnya dari Riau, yang sangat populer di seantero negeri.

Lagu ini bisa dianggap semacam pengantar tidur anak-anak yang berisi nasihat. Kira-kira, jika mereka nanti sudah besar, jangan pernah melupakan budayanya dan terus menjaga kehormatan.

Anak manis janganlah dicium sayang, kalau dicium, merahlah pipinya… Kalau adik dapat kawan baru sayang, awan yang lama dilupakan jangan”.

Nyok Miak (Bangka Belitung)

Nyok Miak adalah lagu daerah asal Bangka Belitung. Lagu ini secara umum menggambarkan hunian tradisional masyarakat provinsi tersebut pada zaman dahulu.

Dikutip dari Jurnal Arsitektur UMS karya Nudia Aufia dan Andika Saputra, corak rumah Bangka Belitung dulu sangat berkaitan dengan fungsi berkebun dan keagamaan (ibadah agama Islam).

Jika dibedah lebih lanjut, rumah tradisional daerah tersebut umumnya memiliki lima anak tangga di depan pintu masuk, area transit (untuk perkumpulan kelahiran/kematian), serta ruang alat berkebun.

Injit-injit Semut (Jambi)

Injit-injit Semut adalah lagu daerah terpopuler di Jambi. Lagu ini bisa dibilang seperti pantun yang dinyanyikan, karena terdapat rima dan ‘sampiran-isi’ di setiap baitnya.

Lagu ini lebih dikenal sebagai lagu anak-anak karena digunakan dalam permainan cubit-cubitan.

Seperti biasa, tentu ada nasihat di sini. Lagu ini memberikan ajaran, tepatnya kepada anak-anak, untuk menanam hal yang baik. Menanam hal baik dipercaya mendatangkan tuaian yang baik juga di masa depan.

Timang-timang Anakku Sayang (Jambi)

Mungkin ada yang baru tau kalau Timang-timang Anakku Sayang adalah lagu daerah Jambi.

Sebenarnya, hal itu wajar karena lagu ini dibawakan ulang oleh banyak penyanyi ternama dalam negeri. Beberapa di antaranya adalah Betharia Sonata dan Iis Dahlia.

Seperti Injit-injit Semut, tema ‘anak-anak’ kembali diceritakan. Lagu ini adalah wujud rasa syukur para orang tua akan kehadiran sang buah hati dalam kehidupannya.

Melihat liriknya, ada pula semacam doa agar sang anak kelak tumbuh menjadi orang yang hidup bahagia. Ini tercantum dalam penggalan lirik: “Setiap waktu ku berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, jika kau sudah dewasa, hidupmu bahagia sentosa”.

Lalan Belek (Bengkulu)

Pernah dengar cerita seorang bujang mencuri pakaian bidadari yang sedang mandi di sungai dan kemudian menikahinya? Inilah lagunya.

Lalan adalah bidadari yang diceritakan dalam lagu ini. Lalan Belek sendiri bermakna “Lalan Kembali”, dimana pernikahan antara manusia dan bidadari tersebut gagal bertahan.

Sewaktu awal menikah, keduanya berjanji untuk tidak saling membohongi. Namun, mereka sama-sama melanggar, dan kemudian Lalan kembali ke kahyangan. Secara garis besar, “Lalan Belek” bercerita tentang kesedihan sang bujang karena Lalan tak pernah kembali lagi.

Cangget Agung (Lampung)

Cangget Agung adalah lagu daerah Lampung yang umumnya digunakan kala mengiringi upacara dan tarian Cangget Agung.

Dikutip dari laman Kabupaten Lampung Utara, Cangget Agung adalah upacara sakral untuk naik tahta yang umumnya digelar bersamaan dengan perkawinan. Di dalamnya, terdapat juga prosesi pemberian gelar secara simbolis.

Lagu ini sekaligus menjadi unsur penegas mengenai identitas kultural orang Lampung sendiri.

Lagu Daerah Jawa, DKI, dan Madura

Kicir-kicir (DKI Jakarta)

Budaya tradisional DKI Jakarta

Lagu Kicir-kicir adalah salah satu kebanggaan masyarakat Betawi. Lirik ini tak lepas dari gaya pantun, dimana rimanya selalu berakhiran a-a-a-a atau i-a-i-a.

Dilihat dari penggalan baitnya, lagu ini punya pesan penghiburan: “Kicir-kicir ini lagunya, lagu lama ya tuan dari Jakarta, saya menyanyi ya tuan memang sengaja, untuk menghibur, menghibur hati nan duka”.

Kalau kita pergi ke festival atau peringatan ulang tahun DKI Jakarta, Kicir-kicir sudah pasti jadi lagu wajib putar.

Ondel-ondel (DKI Jakarta)

Lagu Ondel-ondel bercerita tentang ondel-ondel itu sendiri. Gak usah dikasih tau lah, ya. Ha ha ha.

Ondel-ondel itu kan simbol kebudayaan khas Jakarta berupa boneka raksasa (berukuran 2 meter dan berbobot 20 kg) yang dikenakan oleh peraga. Konon, ondel-ondel udah ada sejak abad ke-16, dimana waktu itu lebih digunakan untuk mengusir roh jahat.

Boneka raksasa ini sering banget dijumpai dalam acara budaya Betawi. Bahkan, buat yang tinggal di Jakarta, pasti kamu gak asing karena sering dipakai ngamen bocil di pinggir jalan.

Untuk mengapresiasi simbol kebudayaan ini, Benyamin Sueb kemudian menciptakan lagu Ondel-ondel pada 1971. Secara perlahan, pun ondel-ondel semakin dikenal di seantero Indonesia.

Selain mendeskripsikan bentuk ondel-ondel, liriknya bermaksud mengajak pendengar untuk menonton dan mengaraknya ketika pesta.

Dengan komposisi yang sangat catchy, Ondel-ondel tergolong sangat mudah dihafalkan. Masa sih, ada yang belum pernah denger lagu ini?

Jali-jali (DKI Jakarta)

Dilihat dari tiga lagu daerah Jakarta yang dibahas di sini, semua judulnya ternyata berupa pengulangan kata, ya?

Jali-jali juga memperlihatkan konsistensi budaya interaksi Betawi, dimana liriknya berisi pantun yang dinyanyikan.

Lagu ini sendiri dipopulerkan M. Sagi bersama orkes keroncongnya pada 1942. Jali-jali berasal dari buah Jali, yang kemudian dijadikan sampiran: “Ini dia si Jali-jali, lagunya enak merdu sekali, capek sedikit tidak perduli, asalkan tuan senang di hati”.

Dayung Sampan (Banten)

Dayung Sampan adalah lagu daerah Banten yang bercerita tentang kehidupan nelayan. Maklum, daerah ini pnya garis pantai yang cukup panjang dan cenderung dekat dengan lautan.

Oleh karenanya, seperti lagu-lagu yang dibahas sebelumnya, wajar jika terdapat lagu yang mengangkat bentang alam semacam itu.

Manuk Dadali (Jawa Barat)

Manuk Dadali adalah lagu ciptaan pencipta lagu sekaligus penyiar RRI, mendiang Sambas Mangundikarta.

Adapun lirik Manuk Dadali sendiri bercerita tentang rasa patriotisme, dengan penggambaran burung Garuda sebagai lambang kejayaan Indonesia.

Hal tersebut terpampang jelas dalam dua baris pertama refrain-nya: “Manuk dadali, manuk nggagahna, perlambang sakti Indonesia Jaya”, yang artinya “Burung Garuda, burung paling gagah, lambang sakti Indonesia Jaya”.

Lagu ini sangat melekat dengan daerah Jawa Barat karena beberapa alasan.

Pertama, lirik lagu ini full berbahasa Sunda. Kedua, Manuk Dadali sempat menjadi anthem klub sepak bola Persib Bandung pada zaman dahulu. Ketiga, lagu ini cukup lama memuncaki chart lagu RRI Bandung sepanjang 1962.

Bubuy Bulan (Jawa Barat)

Sama seperti Manuk Dadali, Bubuy Bulan adalah lagu berbahasa Sunda yang populer pada 1960-an. Lagu ini diciptakan oleh Benny Corda, komponis legendaris asal Jawa Barat.

Pada 1988, Bubuy Bulan kembali dipopulerkan oleh Nining Meida. Nama terakhir adalah penyanyi kenamaan Sunda pada masa itu.

Bubuy Bulan sendiri bercerita tentang seorang gadis yang sedang jatuh cinta kepada seorang lelaki.

Penggambarannya tertulis jelas di dua baris terakhir bait pertama: “Unggul bulan, unggul bulan abdi teang, unggal poe, unggal poe oge hade,” yang artinya “Tiap bulan, tiap bulan temui saya, iap hari, tiap hari juga baus”.

Sampai sekarang, Bubuy Bulan adalah salah satu lagu wajib dalam acara bernuansa Sunda, bahkan masih terus diperkenalkan di pelajaran musik sekolah dasar.

Tokecang (Jawa Barat)

Tokecang adalah lagu daerah Sunda yang umumnya dinyanyikan anak-anak ketika sedang bermain. Dengan kesamaan nada di setiap bait, Tokecang terbilang sangat mudah dihafalkan.

Lagu Tokecang bahkan sangat populer pada akhir 2000-an, tepatnya ketika ada sinetron televisi yang berjudul serupa.

Lagu ini sendiri memiliki pesan moral bahwa seseorang tak boleh terlalu rakus dan serakah. Pesan yang penting buat ditanamkan ke anak-anak sejak dini.

Cing Cangkeling (Jawa Barat)

Cing Cangkeling juga merupakan lagu daerah Jawa Barat yang sering menjadi materi belajar kesenian bagi anak-anak.

Mengutip buku Kumpulan Lagu Wajib Nasional & Tradisional karya Hani Widiatmoko, Cing Cangkeling diambil dari catatan Sanghyang Mugni Pancaniti, yang berarti “cing-cing eling” atau “ayo segera sadar”.

Adapun penggalan lirik baris berikutnya adalah: “manuk cingkleung cindeteun”, yang berarti “hati yang bebas adalah kedamaian”.

Kesimpulannya, jika seseorang punya kedamaian dalam diri, ia bakal selalu merasa cukup sepanjang hidupnya. Ini sepenuhnya tidak lepas dari berkah Tuhan.

Es Lilin (Jawa Barat)

Ini adalah lagu daerah yang memperkenalkan Es Lilin, jajanan tradisional khas Jawa Barat.

Belum bisa dipastikan siapa yang menciptakan lagu ini, namun yang jelas lagu ini pernah dipopulerkan oleh penyanyi kenamaan Sunda, Nining Meida.

Menurut Kumpulan Lagu Daerah Indonesia Terpopuler karya Sarah & Ibrahim Ismullah, lagu Es Lilin juga mengandung pesan permohonan maaf kepada seseorang atas kesalahan yang diperbuat.

Baca Juga: Sedapnya Profesi Sinden Sebagai Alternatif Pekerjaan Masa Depan

Lir-ilir (Jawa Tengah)

Lir-ilir adalah lagu yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga pada abad ke-16. Lagu ‘dolanan’ ini dibuat dalam rangka penyebaran ajaran agama lewat kesenian.

Makna yang terkandung di dalamnya ialah tentang pemanfaatan waktu. Intinya, selagi masih diberikan kesempatan, ada baiknya kita terus berbenah untuk menjadi semakin baik.

Itu semua tersirat dalam tiga baris terakhir lagu: “Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane, a suraka surak-iya”, yang berarti “Selagi terang rembulannya, selagi banyak waktu luang, mari soraki-sorakilah”.

Jaranan (Jawa Tengah)

Jaranan, lagu daerah Jawa Tengah

Jaranan adalah tembang ‘dolanan’ anak-anak yang diciptakan oleh Ki Hadi Sukatno.

Nama yang disebutkan terakhir adalah pencipta puluhan lagu daerah berbahasa Jawa dan penulis operet anak terkenal seperti Arya Penangsang dan Jaka Tingkir.

Jaranan sendiri diambil dari kata ‘jaran’ atau kuda. Lagu ini dipakai untuk mengiringi tarian anak-anak yang menggunakan properti kuda mainan.

Lagu ini terinspirasi dari kesenian Jaranan, atau sejenis kuda lumping, yang sudah ada sejak abad ke-11. Lewat lagu ini, Ki Hadi Sukatno bertujuan memperkenalkan Jaranan kepada anak-anak sejak dini, sekaligus ‘merasakan’ simulasi pementasannya.

Gundhul Pacul (Jawa Tengah)

Banyak yang bilang kalau Gundhul Pacul adalah lagu daerah ciptaan R.C. Hardjosubroto. Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu ini sudah ada sejak zaman Sunan Kalijaga pada abad ke-15.

Lagu ini secara tersirat membahas tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin harus mengedepankan indranya demi kebaikan semua orang.

Ketika seorang pemimpin tidak berhati-hati (“nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan”), semuanya akan berantakan dan terhambur sia-sia (“wakul nggelimpang segane dadi sak latar”).

Suwe Ora Jamu (DI Yogyakarta)

Lagu Daerah Yogyakarta

Banyak sumber yang mengatakan kalau lagu Suwe Ora Jamu berasal dari DI Yogyakarta. Hal ini bisa jadi benar karena yang menciptakannya pun R.C. Hardjosubroto, penulis lagu karawitan kelahiran Yogyakarta.

Lagu ini diciptakan dengan bahasa Jawa ngoko, yang berarti pemakaiannya hanya untuk orang yang lebih akrab atau sebaya saja.

Jika diartikan secara harfiah, Suwe Ora Jamu berarti “udah lama nggak minum jamu”. Tetapi, isi lagu ini berada di dua baris berikutnya, yakni keresahan akan orang yang membuat kesal usai lama tak bertemu.

Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh penyanyi legendaris campursari, Waldjinah, dengan penambahan beberapa bait lirik.

Walang Kekek (DI Yogyakarta)

Walang Kekek adalah lagu yang dipopulerkan oleh Waldjinah sekitar 1968-69. Asal-usul agu ini tak sepenuhnya jelas, namun banyak sumber yang menyebut dari DI Yogyakarta.

Dikutip dari Kompas, Waldjinah mengaku bahwa Walang Kekek bermakna sebagai sindiran kepada masyarakat. Kala itu, laki-laki dianggap kurang menaruh hormat kepada perempuan, diumpamakan seperti belalang yang hinggap sana-sini.

Saat itu, pria yang sudah beristri pun dikisahkan sering keluyuran dan jarang pulang. Ujung-ujungnya pun, marak terjadi praktek poligami.

Keresahan itulah yang membuat Waldjinah mengambil sikap keras meski kesan yang ditunjukkan dalam lagu ini cenderung halus dan kemayu.

Baca Juga: Mendengar Bunyi Malioboro

Cublak-cublak Suweng (Jawa Timur)

Lagu daerah Jawa Timur ini adalah pengiring permainan anak-anak yang bernama Cublak-cublak Suweng. Lagu ini adalah salah satu yang paling sering diajarkan kepada anak-anak sejak dini.

Aturan main cublak-cublak suweng sendiri adalah satu orang jaga (berbaring telungkup di tengah) dan yang lain melingkari. Permainan dimulai dengan menyanyikan lagu, dan yang berada di lingkaran akan mengoper kerikil secara terus-menerus ke samping.

Ketika lagu sudah mencapai “sopo ngguyu ndhelikake”, permainan berhenti. Orang yang jaga (Pak Empong) akan bangun dan menebak di tangan siapa kerikil berada.

Ketika tebakannya salah, ia kalah dan harus jaga lagi. Namun, jika benar, yang memegang kerikil akan bergantian jaga.

Rek Ayo Rek (Jawa Timur)

Umur lagu Rek Ayo Rek bisa dibilang belum setua yang lainnya. Namun, popularitasnya sudah cukup setara berkat banyaknya musisi yang mempopulerkan.

Tak cuma musisi asal Jawa Timur saja, legenda campursari sekelas Didi Kempot juga membuat versi recycle-nya pada 2017.

Lagu ini sendiri diciptakan oleh Is Haryanto, musisi nasional yang tenar pada 1970-an. Ia sebenarnya orang Jawa Tengah, namun cukup fasih memainkan diksi dan mengangkat keunikan Jawa Timur.

Beberapa simbol Jawa Timur yang dalam lirik lagu ini adalah makanan Rujak Cingur, daerah Tunjungan (Surabaya), dan rek (sapaan khas Jawa Timuran).

Tanjung Perak (Jawa Timur)

Tanjung Perak, ikon Surabaya yang dijadikan lagu daerah Jawa Timur

Mengutip Perak Project, lagu legendaris ini menceritakan sibuknya Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya. Pada era 1930-an, tempat tersebut menjadi pusat perniagaan paling ramai seantero Hindia Belanda.

Bagian liriknya yang paling dikenal adalah “Tanjung Perak, tepi laut… Siapa suka, boleh ikut…”.

Konon, notasi dan irama Tanjung Perak menyadur dari lagu Belanda berjudul We Gaan Naar Zandvoort Aan De Zee.

Tiap dekade, ada saja penyanyi yang mempopulerkan lagu ini. Beberapa nama di antaranya adalah Waldjinah (versi keroncong), Didi Kempot (versi campursari), hingga salah satu kontestan Indonesian Idol bernama Dion pada 2012.

Tanduk Majeng (Madura)

Tanduk Majeng adalah lagu daerah Madura yang bercerita tentang kehidupan masyarakat nelayan di sana.

Kehidupan sebagai nelayan dikisahkan tidak semudah itu. Mereka terkadang harus bertaruh nyawa karena banyak hambatan di luar dugaan yang terjadi. Belum lagi, ada keluarga yang ditinggalkan di rumah.

Lagu ini sendiri diciptakan oleh R. Amiruddin Tjitraprawira. Ia adalah salah satu tokoh seni paling berpengaruh di Madura pada 1940 hingga 1970-an.

Lagu Daerah Bali & Nusa Tenggara

Janger (Bali)

Lagu Daerah Bali

Janger adalah lagu daerah Bali yang diciptakan oleh I Gede Dharna. Lagu ini biasa digunakan sebagai pengiring tarian grup laki-laki dan perempuan yang berpasangan.

Penggunaan lagu ini umumnya tak cuma di Bali. Grup paduan suara atau orkestra yang ingin memainkan lagu daerah Bali umumnya memilih lagu ini. Selain bisa dilakukan penambahan ornamen, lagunya bisa dibuat upbeat dan cocok sebagai penutup komposisi aransemen.

Tutu Koda (NTB)

Tutu Koda adalah lagu daerah Nusa Tenggara Barat. Beberapa sumber menyebutkan bahwa lagu ini bercerita tentang pengalaman hidup anak kampung yang cukup keras.

Dalam Jurnal Musikologi ISI karya Christine Bernadette, lagu Tutu Koda juga biasa digunakan untuk mengiringi upacara adat Pasola di Sumba.

Bolelebo (NTT)

Bolelebo adalah lagu daerah Nusa Tenggara Timur. Ini sudah sah tercatat di dokumen Pemprov tersebut.

Dikutip dari buku Beta Orang Kupang terbitan Yayasan Pustaka Obor, Bolelebo menceritakan tentang kerinduan orang Kupang terhadap kampung halamannya saat dalam perantauan.

Lagu ini bahkan dipopulerkan oleh band legendaris Indonesia, The Tielman Brothers, yang memang berasal dari Kupang, pada 1949. Kala itu, para personil band tersebut menari dengan iringan Bolelebo di depan Presiden Soekarno.

Hingga Tielman Brothers aktif di skena musik internasional, Bolelebo pun menjadi salah satu lagu pilihan dalam setlist mereka.

Jadi, kita sebenernya bisa juga lho manggung bawain lagu daerah kalau dapet kesempatan main ke luar negeri.

Anak Kambing Saya (NTT)

Anak Kambing Saya mungkin lebih populer sebagai lagu anak-anak. Namun, melacak asal-muasalnya, lagu ini berasal dari Nusa Tenggara Timur.

Ada yang mengartikan bahwa lagu ini berisi tentang orang yang mencari hewan peliharaan. Namun, ada pula yang memaknai sebagai orang tua yang sedang mencari anaknya.

Popularitas lagu ini bahkan tak cuma sekadar di Indonesia saja. Negara tetangga macam Malaysia pun kabarnya cukup akrab dengan nada lagu ini.

Lagu ini punya sisi ‘interaktif’ untuk diajarkan kepada anak-anak, yakni dengan tanya-jawab setiap baris ganjil dan genap: “Mana dimana, anak kambing saya? Anak kambing saya, ada di Pohon Waru”.

Apalagi, ada line ikonik “caca marica hey hey!“. Nggak gampang, kan, bikin semacam itu?

Potong Bebek Angsa (NTT)

Ini adalah lagu anak asal Nusa Tenggara Timur kedua yang melegenda setelah Anak Kambing Saya. Kenapa ya, dalam dua lagu tersebut, selalu ada unsur hewan yang diangkat?

Lagu ini dipercaya tak bermaksud mengedepankan ‘potong angsa’-nya, tetapi lebih kepada sebuah ajakan berdansa. Lagipula, bentuk lirik dua baris awalnya juga seperti pantun.

Isi sebenarnya adalah: “Nona minta dansa, dansa empat kali. Sorong ke kiri, sorong ke kanan, la la la la la la la la la, la la”.

Baca Juga: Peradaban Musik Indonesia Lahir dari Timur

Lagu Daerah Kalimantan

Ampar Ampar Pisang (Kalimantan Selatan)

Ampar Ampar Pisang adalah lagu asal Kalimantan Selatan. Lagu yang yang diciptakan oleh Hamiedan AC ini berbahasa Banjar.

Lagu ini memperkenalkan makanan khas daerah tersebut berupa pisang yang diolah dengan cara dijemur. Masyarakat Kalimantan Selatan sendiri memang punya kebiasaan menyusun pisang yang sudah masak.

Pisang yang sudah masak itu biasanya kemudian dikerubungi dan dimakan oleh anak-anak. Ini diceritakan dalam lirik “Masak sabigi, dihurung bari-bari”, atau “masak sebuah, dipenuhi bari-bari”.

Ampar-ampar Pisang umumnya menjadi lagu daerah yang diperkenalkan kepada anak-anak. Selain menjadi hafalan wajib, lagu ini sering dinyanyikan pula dalam pementasan.

Cik Cik Periuk (Kalimantan Barat)

Cik Cik Periuk berasal dari Kalimantan Barat. Lagu yang diyakini sudah berumur lebih dari 1,5 abad ini diciptakan oleh masyarakat asli Dayak dan menggunakan Bahasa Sambas.

Lagu ini adalah bentuk kritik kepada para pendatang di sana pada saat itu. Isinya terdapat di bagian lirik “Cak cak bur dalam belanga’, idong picak gigi rongak. Sape kitawa’ dolok, dipancung raje tunggal, hei!”.

Arti “Cak cak bur dalam belanga’, idong picak gigi rongak” kurang lebih ialah kita sering melihat orang dengan kekurangan dalam dunia yang sibuk nan ramai ini.

Lanjutannya, “Sape kitawa’ dolok, dipancung raje tunggal”, ialah konsekuensinya. Siapa yang menertawakan orang dengan kekurangan itu, ia akan dihukum oleh raja tunggal (Tuhan).

Siapa sangka ya, dalam lagu berirama ceria ini, tersimpan pesan yang luhur.

Burung Enggang (Kalimantan Timur)

Burung Enggang adalah lagu daerah Kalimantan Timur. Melhat nama judulnya, hewan dengan sayap tebal dan ekor panjang itu memang dianggap sangat berharga di sana.

Dikutip dari Multimedia Center Kalimantan, sayap dan ekor bermakna sebagai pelindung dan kemakmuran bagi yang ada di sekitarnya. Ini pun diartikan bahwa seseorang harus saling menjaga satu sama lain, minimal dalam lingkungan keluarga masing-masing.

Menurut Kumpulan Lagu Daerah karya Puspa Swara, bulu Burung Enggang bahkan dijadikan bahan hiasan aksesoris kepala pria (topi tradisional) di Dayak.

Isen Mulang (Kalimantan Tengah)

Isen Mulang adalah lagu daerah yang melambangkan prinsip hidup orang Dayak, tepatnya di Kalimatan Tengah. Mereka tak akan pulang sebelum memenangkan pertempuran.

Saking melekatnya prinsip tersebut, judul lagu ini bahkan dijadikan julukan tim sepak bola Kalimantan Tengah, yakni “Laskar Isen Mulang”.

Bebilin (Kalimantan Utara)

Bebilin mungkin masih jadi lagu daerah terpopuler di Kalimantan Utara. Berhubung provinsi yang baru ada pada 2012 ini berbatasan langsung dengan Malaysia, ada pula versi Bebilin dengan Bahasa Melayu.

Lagu tersebut bercerita tentang persatuan dan himbauan agar tidak berhenti berjuang. Pesan untuk terus bersatu terletak dalam lirik awal: “Teriring pesan untuk dipikir, tidak menghendaki dasar perahu terpisah”.

Lagu Daerah Sulawesi

Anging Mammiri (Sulawesi Selatan)

Anging Mammiri adalah salah satu lagu daerah terpopuler di Sulawesi Selatan. Lagu ini sendiri diciptakan oleh Bora Dg. Ngirate.

Dikutip dari Kumpulan Lagu Wajib Tradisional karya Hani Widiatmoko, lagu ini menceritakan tentang seseorang yang merasa dilupakan kekasihnya. Ia berharap kerinduannya akan sampai lewat “anging mammiri”, atau angin yang berhembus.

Lagu ini juga biasa digunakan sebagai pengiring tarian Anging Mammiri.

Dengan komposisinya yang sangat menarik, lagu ini banyak dinyanyikan dan dipopulerkan oleh musisi ternama.

Salah satu versi terpopulernya adalah aransemen komponis legendaris Indonesia, Addie MS. Ia menggubah dengan versi orkestra instrumental di album The Sound of Indonesia.

Tenggang Tenggang Lopi (Sulawesi Barat)

Tenggang Tenggang Lopi adalah lagu daerah Sulawesi Barat. Lagu ciptaan A. Syaiful ini menceritakan kehidupan nelayan di daerah Mandar.

Dikutip dari Jurnal Walasuji karya Abdul Asis, “Tenggang-tenggang” artinya “goyang-goyang” atau “ayun-ayun”. Makna frase tersebut adalah perahu kecil yang terayun di pesisir pantai karena gelombang air laut.

Bukti dari cerita kehidupan nelayan sendiri ada dalam penggalan kalimat “anaq koda ipanjaja, ipanjaja uluanna”, yang berarti “nakhoda perahu mengatur haluan”.

Palu Ngataku (Sulawesi Tengah)

Palu Ngataku adalah lagu daerah Sulawesi Tengah ciptaan Hasan Bahasuan. Jika kalian pernah ke sana, dari judul lagunya saja mungkin sudah tidak asing, karena Palu adalah ibukota provinsi tersebut.

Dikutip dari Jurnal Penelitian Sejarah dan Nilai Tradisional karya Subair (2016), Palu Ngataku menceritakan keindahan Palu serta kerinduan anak rantau akan kampung halamannya.

Cerita keindahan tersebut bisa ditemukan dalam penggalan lirik “Ngataku nasugi, Ngataku nagaya karona ritatangana”, yang artinya “Tempat lahirku subur, tempat lahirku indah, letaknya di tengah-tengah gunung dan teluk”.

Sementara itu, cerita rindu anak rantau Palu tercermin dalam bait terakhir: “Mau yaku ringatan ntona, Ngatan ntona naroa Palu kana ko tora tora”, yang artinya “walau aku di negeri orang, negeri orang yang ramai, Palu tetap kuingat”.

Tana Wolio (Sulawesi Tenggara)

Lagu Tana Wolio adalah salah satu lagu daerah populer Sulawesi Tenggara yang diciptakan oleh La Ode Imaduddin.

Serupa dengan pembahasan sebelumnya, Tana Wolio juga menceritakan keindahan alam. Lagu ini berbicara tentang Kampung Bau-Bau, yang menjadi salah satu daya tarik pariwisata provinsi tersebut.

Si Patokaan (Sulawesi Utara)

Lagu ini konon terinspirasi dari sejarah daerah Patokaan, yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Dikutip dari Berita Manguni, Patokaan dulunya adalah daerah terpencil yang menjadi sarang malaria. Meski begitu, ada saja yang nekat tinggal dan mencari penghidupan di sana.

Ketika datang tentara Jepang pada 1940-an, warga setempat dikerahkan untuk membangun lapangan terbang di daerah Patokaan. Alhasil, selain lelah kerja paksa, kebanyakan dari mereka makin sengsara karena penyakit.

Kemudian, muncul-lah bait ‘cemoohan’ dari orang Tatelu kepada orang Patokaan di baris pertama lirik lagu: “Sayang, sayang, si patokaan, matigo-tigor-gor okan, sayang,”; yang berarti “Kasihan, orang Patokaan, kelihatannya menggigil saja”.

Banyak juga yang mengartikan lagu ini sebagai pesan dari ibu kepada anak yang merantau.

Hal tersebut memang tertuang dalam lirik baris berikutnya: “Sako mangemo ti tanah jauh, mangemo mile-ilek lako, sayang”, yang artinya “Kalau mau pergi jauh (dari sini), berhati-hatilah”.

Dari daerah Patokaan kala itu, konon memang ada yang berhasil merantau menjadi pegawai Belanda. Bagian ini menjadi pengakuan untuk orang Patokaan, bahwa tetap ada yang bisa sukses meski kesulitannya tiada tara.

O Ina Ni Keke (Sulawesi Utara)

O Ina Ni Keke adalah lagu daerah yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara.

Dikutip dari Kumpulan Lagu Daerah karya Puspa Swara, lagu ini bercerita tentang perjalanan seorang ibu ke kota Manado (Wenang) untuk membeli kue.

Ada sumber yang menyebutkan bahwa lagu ini sudah ada sejak awal kedatangan Eropa. Namun, yang jelas, O Ina Ni Keke kembali dipopulerkan pada 1962 oleh penyanyi jazz-keroncong Belanda kelahiran Tondano, Anneke Gronloh.

Binthe Biluhuta (Gorontalo)

Binthe Biluhuta adalah lagu daerah Sulawesi Tenggara yang diciptakan oleh Rusdin Palada.

Binthe Biluhuta sendiri merupakan makanan khas Gorontalo, yakni sup jagung yang disajikan dengan daging ikan atau udang.

Dikutip dari Jurnal UNG karya Rifai Kartili, Binthe Biluhuta awalnya ditetapkan sebagai lagu daerah Sulawesi Utara oleh Depdikbud pada 1990. Namun, seiring dengan mekarnya Provinsi Gorontalo, kepemilikan lagu tersebut akhirnya ‘berpindah lokasi’.

Lagu Daerah Maluku & Maluku Utara

Borero (Maluku Utara)

Borero adalah salah satu lagu daerah asal Maluku Utara ciptaan Abdul Karim Syafar. Lagu ini menjadi praktek muatan lokal di tingkat sekolah provinsi tersebut, tepatnya Kota Ternate.

Beberapa pesan yang terkandung dalam lagu ini adalah “Upa no liho kasi nako o kia no aka wa“, yang bermakna tak boleh pulang dari rantauan ketika belum sukses.

Tak cuma itu, dalam penggalan lirik selanjutnya, ada pesan agar tetap sabar dalam menghadapi semua ujian.

Burung Kakatua (Maluku)

Burung Kakatua

Burung Kakatua adalah lagu anak-anak yang berasal dari Maluku.

Pernah denger lagu “Topi Saya Bundar”? Nah ini. Secara nada, keduanya sama persis, tetapi beda lirik saja.

Burung Kakatua sendiri memang hewan endemik yang berasal dari Indonesia Timur dan kawasan Australia.

Penggambaran fauna atau flora lokal dengan lagu seperti ini memang jamak dilakukan oleh daerah lain.

Pada 1965, lagu ini pernah dipopulerkan oleh Jack Lesmana dan kawan-kawan di album “Mari ersuka Ria dengan Irama Lenso”. Dalam album tersebut, Titiek Puspa dan Bing Slamet menjadi featuring artist bersama Rita Zahara dan Nien Lesmana.

Rasa Sayange (Maluku)

Lagu Rasa Sayange legendaris karena berbagai alasan.

Pertama, nyanyian reff yang simple, dengan disertai adu pantun di sela-selanya, membuat lagu ini sangat menempel di telinga.

Kedua, lagu folk Ambon ini menggunakan aksen khas dengan akhiran ‘-e’, yang mana menjadi khas dari perbincangan antara orang sana.

Ketiga, lagu ini pernah meledak karena diklaim Malaysia di video promosi pariwisata mereka, sekitar 2007. Setelah polemik yang cukup lama, Indonesia kabarnya punya rekaman versi tertua yang masih tersimpan di Lokananta.

Lagu Daerah Papua & Papua Barat

E Mambo Simbo (Papua Barat)

Banyak sumber yang menyebutkan bahwa E Mambo Simbo berasal dari Papua Barat.

Lagu ini bercerita tentang hilangnya seseorang anak bernama Mambo. Suatu ketika, kejadian itu membuat semua orang di sekitarnya gempar, hingga mencari ke tengah hutan dan menyusuri sungai.

Mambo kemudian ditemukan, dan “E Mambo Simbo” adalah wujud perayaan kebahagiaan akan hal tersebut.

Apuse (Papua)

Apuse ialah lagu yang berasal dari Papua, tepatnya daerah Biak. Popularitas lagu ini sudah berada di skala nasional.

Bagaimana tidak, nada lagu Apuse dipakai dalam lagu “Garuda Di Dadaku”, yang menjadi anthem wajib suporteran tim olahraga Indonesia di pentas internasional.

Bahkan, pada gelaran opening ceremony Asian Games 2018 lalu, lagu ini jadi lagu Papua pilihan yang dibawakan oleh Edo Kondologit.

Lagu ini bercerita tentang cucu yang berpisah dengan kakek-nenek. “Apuse kokondao, yarabe soren doreri, wuf lenso bani nema baki pase” kalau diterjemahkan berarti “Kakek dan nenek, aku pergi ke Teluk Doreri, membawa sapu tangan melambaikan tangan”.

Teluk Doreri sendiri adalah jalur perairan penting di daerah Papua, dimana bisa jadi pintu keluar ke pulau lain.

Adapun bait terakhir Apuse, yang nyanyiannya diulang dua kali, berisi tentang reaksi dari kakek-neneknya: “Arafabye, aswarakwar”, yakni “Kasihan aku, selamat jalan cucuku”.

Sajojo (Papua)

Sajojo sering jadi lagu buat merepresentasikan Papua di pentas-pentas skala kecil hingga besar. Banyak pula penyanyi asal Papua yang membawakan lagu ini di album atau single-nya.

Sajojo sendiri bercerita tentang seorang perempuan cantik kesayangan orang tuanya yang didambakan para laki-laki.

Lagu ini juga dipakai untuk mengiringi tarian Sajojo. Tarian itu sebenarnya nggak berkaitan langsung sama lagunya, tapi tetap cocok.

Yamko Rambe Yamko (Papua)

Yamko Rambe Yamko sudah lama identik dengan daerah Papua.

Sebenarnya, cerita dan asal-usul lagu ini masih simpang siur. Belum ada suku asli Papua yang mengakui Yamko Rambe Yamko. Pasalnya, bahasa yang dipakai bukanlah bahasa adat sana.

Dikutip dari BBC, sejumlah penelusuran sudah dilakukan. Ada yang bilang bahwa beberapa kata di lirik mirip bahasa Swahili, yakni Yamko Rambe yang artinya ‘selamat datang’. Namun, jika dilihat lagu secara utuh, tidak ada unsur bahasa Swahili lain.

Lagu ini sendiri pertama kali dibawakan oleh Corry Rumbino pada 1960, tepatnya di Istana Negara pada perayaan Hari Kemerdekaan. Sejak itu, semua orang tahunya ini lagu Papua, padahal tidak juga.

Ketua Dewan Kesenian Papua, Nomensen Mambraku, pada akhirnya tak terlalu mempermasalahkan. Menurutnya, meski Yamko Rambe Yamko dianggap sebagai ‘produk budaya’ dari orang luar Papua, paling tidak masyarakat Indonesia menyanyikan ini dengan semangat Papua.

Kesenian ala masyarakat Papua

Baca Juga: Contoh Alat Musik Tradisional Indonesia

Itulah contoh lagu daerah populer dari seantero Indonesia beserta penjelasan singkatnya. Terbukti, tiap-tiap lagu daerah memiliki pesan luhur dan cerita tersendiri di baliknya.

Pembahasan lagu daerah kali ini tentu tidak akan lengkap sepenuhnya. Masih banyak contoh lagu lain yang bisa diceritakan. Namun, ini bisa kita lanjutkan di lain kesempatan saja, ya.

Buatmu, manakah lagu daerah yang paling disuka? Mana saja yang sudah kamu pernah nyanyikan tapi baru tahu arti lagunya setelah membaca ini? Ayo, tuliskan tanggapanmu di kolom komentar!

No more articles