A password will be e-mailed to you.

OPINI – Selain Tim Ayam Geprek Bu Rum melawan Tim Ayam Geprek Bu Made, dikotomi antara musisi cover melawan musisi orisinil adalah topik perdebatan abadi. (redaksi)

Perkembangan musik di media sosial saat ini sudah seperti jomblo tahunan yang tau-tau melihat cewek idamannya: agresif, bos!

Keagresifan tersebut ditimpali dengan antusiasme musisi dalam mengekspresikan warna bermusiknya. Mereka berbondong-bondong mengunggah proses keseniannya. Melihat ada wadah yang potensial, ya langsung dimanfaatkan. Yang penting berkarya.

Sebelum melanjutkan bacaan, ada baiknya kita hening sejenak untuk mengucapkan terima kasih kepada para pencipta Soundcloud, YouTube, Instagram dan media sejenis yang sudah dengan baik mengakomodasi kehausan berkarya kita. Karena platform tersebut lah, kita bisa dengan mudah menyebarkan, mengapresiasi, dan menikmati karya musik. Ayo pejamkan mata, jangan malas.

Oke.

Bicara soal jargon “yang penting berkarya” tadi, salah satu perdebatan terbesar tentang musisi online adalah musik cover versus orisinil. Meski pun banyak sekali yang melakukan keduanya, namun dikotomi dua tipe musisi ini terlanjur marak.

Menurut teman-teman, lebih baik membawakan lagu cover atau lagu sendiri?

Gimana, pertanyaan saya lumayan provokatif, kan? Udah cocok belum terjun ke dunia politik?

Biar lebih hot, mari kita telaah satu persatu. Lalu, di akhir, mari kita coba simpulkan yang mana yang lebih baik.

Musisi Cover

Musisi cover adalah musisi yang memainkan lagu orang lain. Musisi cover beda dengan cover boy, apalagi cover mudik (baca: koper mudik).

Menurut saya, mereka-mereka ini adalah orang yang telah sukses melakukan re-interpretasi terhadap lagu ciptaan orang lain. Ada banyak contoh kasus pendengar malah justru lebih suka versi cover-nya ketimbang versi aslinya. Ini membuktikan bahwa si musisi cover ini telah memberikan nilai lebih pada lagu tersebut.

Apa saja nilai lebihnya? Ya bisa instrumentasi, progresi kord, melodi, hingga warna suara dan gaya bernyanyi yang unik. Sentuhan visual yang menarik juga bisa. Intinya ada sesuatu yang beda dari lagu aslinya deh, ada proses kreatifnya di situ.

Tapi, menjadi musisi cover bisa dibilang lebih ribet daripada musisi yang punya lagu sendiri.

Pertama, kalau memang versi cover mau dikomersilkan, wajib hukumnya bab-bab perizinan hak cipta langsung dibicarakan. Pembicaraan ini dilakukan ke penulis lagunya lho ya, jangan ke forum keluarga mahasiswa.

Lalu, misal lagunya ingin dibawakan secara live di suatu acara yang komersil, ya si musisi ini akan terkena performance right dari lagu tersebut. Artinya, si pencipta lagu mempunyai hak untuk mendapatkan uang dari penampilan si musisi cover. Atau kondisi idealnya: para promotor/pihak penyelenggara baiknya meminta setlist atau lagu yang akan dibawakan seorang musisi cover di acara yang diselenggarakannya, kemudian promotor itu lah yang akan mengurus perizinan dan membayar performance right tersebut. Ini idealnya lho, ya.

Menyanyikan Lagu Sendiri

Sejujurnya, I always challenge myself to keep writing songs. Kenapa? karena di situ proses kreatif dimulai dari nol. Kalau dimulai dari sepuluh, namanya hitung mundur.

Dari proses mencipta lagu, saya bisa tumpahin semua: apa yang sedang saya pikirkan, curhat penting-gak-penting, cerita apa aja deh. It takes a lot of process. Kebetulan saya anaknya penuh cerita dan perasaan.

Meski pun hasilnya cuma 2-5 menit, tapi proses bikin dari awal sampai beres rekaman bisa berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, bergenerasi-generasi (ini ciptain lagu apaan dah lama bet). Dari mulai mulai nada kasar atau kunci sederhana ((KUNCI)). Dari nananana sampai strategi pemasaran produk. Semua seru. Yah, bukan berarti menyanyikan lagu orang tidak ada strateginya. Hanya saja, kalau menyanyikan lagu orang kan pasarnya sudah jelas ada. Intinya, menciptakan lagu mempunyai proses kreatif yang berharga sekali.

Nah, jika anda adalah seorang musisi dan diminta memilih, anda akan membawakan lagu cover atau lagu sendiri ya?

Kalo saya sih dua-duanya WKWKWKWKWKWKWK. Kenapa sih berkesenian saja musti pilih-pilih?!

No more articles