A password will be e-mailed to you.

Satu tahun menjamah panggung musik endonesa, Tashoora menggenapinya dengan menggelar sebuah showcase intim bertajuk (tajuuuukkk) Ruang Pertama Tatap Muka. Acara ini dihelat di Padepokan Bagong Kussudiardja pada Selasa, 2 Oktober 2018, lalu dengan membagi undangan menjadi 2 shift: sore dan malam. Shift sore diperuntukkan kepada awak media, shift malam dikhususkan mengundang band-band kenalan. Saya datang di malam hari karena kebetulan saya anaknya night life banget.

Acara dimulai sekitar pukul 19.00 lebih sedikit. Saya sudah duduk rapih di barisan depan tengah 15 menit lebih awal. Di dalam venue, saya melihat tim produksi lalu lalang melakukan final check. Melihat yang terlibat di sini adalah salah satu tim produksi terbaik yang dimiliki Jogja, ekspektasi saya membuncah.

(MEMBUNCAH)

Saya, dan tentunya undangan lain, menanti acara dimulai sembari disuguhi voice over 5W+1H tentang Tashoora yang diulang 200 kali. Saat registrasi, kami pun dipegangi cinderamata berisi sticker, artwork lirik, serta profil Tashoora + acara yang dicetak A4 (atau A3? Entahlah, saya kurang pandai soal ukuran) dengan sampul foto resmi band ini. Yang jelas, kita jadi merasa lebih mengenal Tashoora bahkan ketika acaranya belum dimulai.

Satu hal yang langsung saya notice dari acara ini adalah logo baru Tashoora karya Farid Stevy. Sedap, cuy. Mantap, cuy. Pertama kali melihatnya di poster, saya dipaksa berspekulasi tentang arti dari logo tersebut. Maklum lah, namanya juga warganet.. Ada satu mata di lempitan huruf ‘O’ dan segitiga/piramida yang menyimbolkan huruf ‘A’. Piramida dan satu mata. Kini sudah jelas ya Tashoora ini agen apa. Yak betul, bajak laut dari Mesir.

Acara dimulai. Lima lagu yang sudah begitu familiar (untuk kamu-kamu yang pernah nonton Tashoora tentu saja) dengan beberapa penyempurnaan aransemen menghentak: “Tatap”, “Nista”, “Sabda”, “Terang”, dan “Ruang”.

Lagu-lagu pusaran isu sosial tentang gender, toleransi beragama, sampai konsep ketuhanan menjadi ceruk yang mereka ambil. Terinspirasi dari pemberitaan-pemberitaan jurnalistik dan media sosial, Tashoora mengemasnya menjadi karya layak dengar. Sangat layak. Terlalu layak malah. Bagi saya, munculnya isu tabu seperti ini ke ranah musik populer membuka peluang baik di masa depan agar diskusi tentangnya menjadi lebih.. tidak tabu.

Sebelum lagu terakhir, Danang Joedodarmo (gitar, vokal) mengatakan bahwa penampilan malam itu hasilnya akan diproses sebagai EP (Extended Play). Presentasi karya yang mereka buat di acara ini membuat para penonton berubah menjadi lebih dari sekadar penonton. Mereka adalah saksi yang menatap langkah pertama band ini menghasilkan diskografi pertamanya. Rencananya, mereka akan merilis EP sebelum tahun ini berakhir. Mari kita kawal janji manis ini.

Kembali ke masalah ekspektasi saya tadi, Ruang Pertama Tatap Muka –mengutip ucapan Danang ke saya beberapa saat lalu– menegaskan Tashoora bukan hanya sebagai band yang enak didengar, namun juga enak dilihat. Lighting-nya juara, sound-nya juara, jajanan depan venue-nya juga juara. Pengemasan acara model begini tentu menjadi pelajaran yang bagus untuk band-band lain yang berniat melakukan hal serupa.

Selamat, Tashoora!

No more articles