A password will be e-mailed to you.

Berbicara soal Malioboro, saya biasanya akan langsung mendaftar panjang tetek bengek impresi saya terhadap salah satu daerah paling ramai di Yogyakarta ini. Jalanan yang macet, ribuan manusia yang tumpah ruah, dan gaya selfie wisatawan yang ngegilani adalah salah tiganya. Saya juga suka duduk melamun sambil ngeliatin siswa sekolah menengah sedang studi wisata pakai baju kembaran satu angkatan. Lucu sekali ya. Sayanya.

Tapi tenang, tulisan ini tidak akan membahas soal impresi umum Malioboro tersebut. Saya lebih berniat membahas iseng soal soundscape di Malioboro. Bukan supaya kelihatan ilmiah, tapi karena hampir setiap bulan saya suka jalan sendiri di kawasan ini. Iya, sendirian, mengapa memangnya?

Ditambah lagi, karena tulisan ini diterbitkan di situs musik, tentu saja opini yang saya tulis paling tidak harus sedikit mlipir alus ngomongin soal musik, dong.

Mari kita samakan persepsi tentang yang saya maksudkan dengan soundscape. Bayangkan Anda sedang berada di Malioboro dan kemudian memejamkan mata. Nah, segala bunyi dan suara yang masuk ke telinga Anda adalah soundscape-nya (Nakagawa, 2000). Suara pengumuman, bunyi kendaraan, suara orang berjualan, musik pop yang disetel toko, sampai kawanan pengamen bisa menjadi objek relevan untuk dikulik. Contoh terakhir akan saya bahas pertama.

Jikalau melenggang di Malioboro, apalagi di sore hari, pasti Anda tidak asing dengan kehadiran para musisi angklung jalanan yang bersemayam di sana. Mereka biasa memainkan musik-musik keroncong, dangdut, hingga pop kekinian. Angklung sebagai highlight penampilan dilengkapi oleh iringan beberapa alat musik pendamping macam drum yang dibuat dari jerigen biru berlapis karet. Spirit Do-It-Yourself tersebut berhasil menciptakan pengalaman organik bagi wisatawan, terutama bagi mereka yang baru pertama kali bertandang (kemane aje lo!?).

Kehadiran musisi jalanan jenis ini sangat penting bagi imej Yogyakarta sebagai kota seni. Banyaknya musisi jalanan berjejalan menegaskan bahwa Malioboro adalah jantung dari kota seni tersebut, tempat di mana kreatifitas tumbuh tak terbatas.

Kedua, fenomena soundscape yang tak kalah menarik adalah suara dari belasan pertokoan yang sedang menyetel musik keras-keras. Kumpulan musik gending a la jawa atau pun lagu TOP 40 yang menggelegar dari pengeras suara toko seolah menjadi simbol eksistensi— dan simbol kompetisi untuk menarik orang-orang masuk pertokoan. Lagu-lagu tersebut seolah telah menjadi modal ekonomi pertokoan besar untuk menarik pengunjung agar datang dan menghabiskan uang. Yang menarik, beberapa toko sering punya original soundtrack mereka sendiri. Mungkin ini merupakan usaha pedagang untuk menampilkan otentisitas yang bisa jadi pembeda identitas di antara mereka meskipun komoditas yang dijual nyaris serupa: batik, tekstil, makanan, dan baju-baju murah (yang tidak begitu murah).

Dalam satu tulisan Rizky Sasono (2018), musik yang demikian dianggap telah menjadi rasionalitas kapitalis dalam skema ruang. Sabar, jangan pusing dulu bacanya ya. Intinya, musik tidak lagi berdiri sendiri, namun sudah menjadi produk komodifikasi dalam relasi ekonomi sebuah produksi. Duh, kok masih susah bahasanya. Gini saya sederhanakan lagi: musik seringkali dimanfaatkan untuk keuntungan ekonomi sebuah usaha. Nah, gitu.

Satu hal spekulatif yang saya garis bawahi dari pengamatan iseng ini adalah bagaimana pengeras suara, menurut saya, seolah menjadi modal penting dari kontestasi ekonomi di kawasan perekonomian Malioboro. Suara-suara musik pertokoan bertabrakan, membentuk konstelasi chaos nan harmonis, yang seluruhnya memiliki tujuan sama: berlomba menarik pasar.

Fenomena suara menarik yang terakhir saya dapatkan malahan ketika sedang tidak ingin mengamati apa-apa. Di bangku krem di sudut utara Malioboro, tiba-tiba saya mendengar sayup lagu gending jawa menyeruak telinga. Menengok kanan-kiri-depan-belakang, tidak ada satupun musisi jalanan di sekitar. Ah, mungkin mp3 player yang lupa dimatikan? Tetap penasaran, saya mencari sumber suara. Lamat-lamat saya mendekat ke tiang pendek dekat sebuah pohon. Suara itu semakin jelas terdengar.

Menengok ke atas, saya melihat sebuah pengeras suara cantik warna putih sedang nongkrong di sana! Rupanya dari sanalah gending misterius itu berasal. Bertanyalah saya dengan khalayak yang sedang bersantai di sekitaran pohon itu, mereka mengaku tidak menyadari keberadaan si pengeras suara. Malahan, mereka mulai berpaling mengamati pengeras suara itu, seolah menyimpan pertanyaan yang sama.

Tiba-tiba terdengar sapaan “..selamat siang kangmas dan mbakyu widoro..” dari pengeras suara tersebut. Penasaran, saya bertanya ke petugas unit pelaksana teknis Malioboro. Saya kemudian dibawa ke sebuah ruang siaran di kantor UPT. Di sana, petugas itu memberi jawaban singkat, padat, dan jelas:

“Oh, itu namanya Radio Widoro”.

Sebagai seorang generasi millenial, respon pertama saya tentu saja berselancar informasi di padang Google. Ternyata, Radio Widoro adalah sistem instalasi radio kabel yang terbentang di sepanjang jalan Maliboro dan merupakan saluran radio komunitas yang dikelola oleh UPT Malioboro sejak tahun 2012. Fungsinya: memberikan informasi bagi masyarakat di sekitar Malioboro sekaligus sebagai alternatif hiburan musik bagi pedagang dan wisatawan yang sedang bertandang. Setidaknya begitu kata pihak pengelola.

Rasa penasaran membuat saya membuat sebuah pengamatan kecil. Ternyata, beberapa wisatawan yang saya tanyakan mengaku tidak memperhatikan adanya keberadaan Radio Widoro ini. Suara sayup radio ini dianggap seolah angin lalu. Sedangkan pedagang terbelah menjadi dua kubu: ada yang merasa terhibur dengan eksistensi Radio Widoro, ada pula yang merasa terganggu. Pihak terhibur mengatakan bahwa radio ini seringkali memutarkan lagu dangdut dan campursari kesukaannya, sedangkan pihak terganggu merasa volume radio terlalu keras. Yah, lebih baik daripada hanya dianggap angin lalu.

Meski pun Radio Widoro nampaknya tidak punya signifikansi bagi denyut kehidupan di Malioboro. Namun, beberapa orang yang menyadari kehadirannya terlihat menikmati irama lagu, berdendang, bahkan berjoget kecil.

Ketika saya bertanya kepada mereka yang menikmati alunan Radio Widoro, fakta menarik saya dapatkan: ternyata mereka tidak tahu menahu tentang darimana asal suara musik tersebut berasal, apalagi soal Radio Widoro. Pokoknya mereka ya hanya berdendang dan berjoget saja. Persis adegan di drama musikal: fenomena musik yang muncul dari alam.

MENDENGAR BUNYI MALIOBORO HOOKSPACE MUSIK JOGJA

Rujukan :

  • Nakagawa, Shin. 2000. Musik dan kosmos : sebuah pengantar etnomusikologi. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia
  • Sasono, Rizky M. 2018. Konstelasi Musikal Jakal. Lanskap : Mosaik Musik Dalam Masyarakat. Yogyakarta : Yayasan Kajian Musik Laras
  • Adorno, Theodor W. 1991. The Culture Industry. London dan New York : Routledge

Tulisan ditulis berdasarkan amatan singkat yang dilakukan mulai tahun 2017 hingga Juli 2018.

 

No more articles