A password will be e-mailed to you.

Beberapa bulan yang lalu, saya sempat berkunjung ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah untuk sekadar… yah… refreshing dan mengunjungi teman-teman yang saya kenal lewat jejaring dunia maya.

Di sana, saya bertemu Fitra (Kelinci Pohon/Penumbra) yang kemudian memperkenalkan saya kepada teman-temannya yang lain. Saat itu, satu hal menyita perhatian saya. Sebuah CD dari band alternatif bernama Dwazed diberikan kepada saya oleh Hasymi, frontman band ini. Cindera mata dari Kalimantan Tengah ini melengkapi tukar pikiran dan obrolan yang kami lakukan di salah satu kafe di Jalan Yos Sudarso (kalau tidak salah). Seumpamanya nih ya, Anda ingin mendapatkan rilisan fisik album berjudul Fragmen, bisa segera kontak mereka disini atau dengarkan beberapa lagu mereka di link Bandcamp berikut.

Beberapa bulan setelah pulang ke Jawa, saya menginisiasi sebuah wawancara digital dengan Dwazed. Sesi tanya jawab kami lakukan lewat grup WhatsApp bersama personel Dwazed sendiri: Hasymi (gitar/vokal), Bayueko (bas/vokal), Rico (gitar), dan Brata (drum). Selengkapnya, monggo disimak!

Bagaimana awal mula Dwazed terbentuk?

Enrico : Awal mula Dwazed terbentuk itu.. waktu aku dan kak Amy (Hasyimi) bertemu. Sembari ngobrol kemana-mana lalu keluarlah pikiran kotor di dalam otak kami yang ingin membuat band suka-suka tapi serius gitu, Bang Ryo.

Hasymi : Jadi, pertama itu saya pengin bikin band yang memainkan musik yang saya sukai sekaligus lebih mewarnai skena musik Palangka Raya. Nah Rico, Bayu, dan Brata ini saya ajak awalnya buat main-main, soalnya kami punya band masing-masing juga (waktu itu).

Lalu pas bikin lagu, rekaman, sampe manggung pertama itu kita makin intim. Eh, taunya malah lebih fokus di Dwazed dari pada band masing-masing.

Cuman intinya Dwazed terbentuk itu karena kami berempat pengen mainin musik yang kami suka, yang gak punya aturan, dan bisa bikin kami bener-bener senang dalam bermusik.

Genre Dwazed sendiripun kami tidak pernah bentuk sedemikian rupa, berjalan sesuai waktu saja. Sampai pas selesai rekaman, malah kami semua bingung apakah genre Dwazed ini 😅

Brata : Tambahan juga untuk meluapkan “uneg-uneg” dari band kami sebelum gabung di Dwazed, yang akhirnya bisa kami jadikan warna musik di Dwazed.

Bagaimana pendapat Dwazed soal skena musik indie di Palangka Raya dan bagaimana kalian survive di skena tersebut?

Hasymi : Satu-satunya cara agar bertahan di skena Palangka Raya yang tandus ini adalah dengan menjadi ‘banci panggung’. Jadi mau event apapun ya main terus kalo memang dibolehin sama yang punya acara.. Ngenes ya?

Sebenernya kita belum pernah mikir gimana caranya kami bisa survive di skena Mas. Tapi, kami justru lebih mikirin gimana caranya bisa mengangkat nama Palangka Raya di media luar. Secara tidak langsung, kami bergerak lebih global agar nama Dwazed dan kota Palangka Raya bisa terangkat juga.

Kalo buat skena di sini sih, emang belum bisa serius.

Seperti beberapa waktu lalu, kami berhasil merilis sebuah EP bertajuk Fragment, dan alhamdulillah puji tuhan, berkat usaha kami dan bantuan besar manajer kami Theo Nugraha, kami berhasil merilis album digital via data.imp dipayungi Creative Commons Indonesia.  Dari sinilah kami lalu berhasil diliput oleh beberapa media digital seperti DCDC, Unite Asia, PamitYang2an, dan Dapurletter.

Soal album, Bagaimana proses kreatif dalam album Fragmen yang seperti nya sangat DIY-ism?

Hasymi : Album fragmen dimulai ketika saya membuat kerangka lagu berjudul “Paradoks” untuk menjadi patokan lagu kami selanjutnya. Saya duluan bikin lagu karena kami mau cari benang merah dulu seperti apa lagu-lagu kami nanti. Setelah “Paradoks” beres, sisa lagu lainya bari kami bagi secara merata pembagiannya. Temanya pun bebas. Saking bebasnya, keresahan kami akan perut yang membuncit saja akhirnya jadi lagu, judulnya ‘Sentimental’. Hahaha..

Di album ini, kami dibantu Riduan sebagai sang eksekutor mixing mastering-nya. Sedangkan Artwork serta video-video kami diprakarsai oleh Ewaldo Sebastian. Sisanya kami bikin dengan tangan kami sendiri: burning sendiri, bikin cover sendiri, yah smuanya sendiri lah…

Brata : Tambahan juga.. di beberapa lagu ada seniman yang ikut bikin art untuk track lagu seperti pada track “Paradoks” dibikinin art oleh Unclebow, dan track “Sentimental” dibikinin art oleh Zarinka Soiko.

Bagaimana kalian mendistribusikan album Fragmen? Seperti apa tanggapan yang kalian dapat sejauh ini?

Hasymi : Sejauh ini belum terlalu leluasa dalam penyebaran album fisik, sih. Kami cuma masih kirim-kirim ke rekanan sesama musisi, cuman ya gak banyak juga. Kemaren juga saat Record Store Day Palangka Raya, kami juga menjual album dan alhamdulillah ya ada yang beli. Hehe..

Sejauh ini yang paling efektif tentu dengan menyebarkannya via digital. Kami meminta teman-teman untuk dengerin album digital Dwazed. Ya gitu aja sih, Mas. Kalo soal penyebaran kami masih awam banget. Hahaha..

Untuk tanggapan yang kami dapat, rata-rata positif. Menyenangkan lah.

Kami paling banyak dapat kritik di bagian kualitas rekaman. Banyak yang bilang, “rekamannya di tempat yg lebih bagus dong“, “rekamannya harus ngikut standar dong”. Yah pokoknya kami tampung semua lah. Kami juga pengen kok punya kualitas rekaman yang mengakomodasi musik kami dengan detail.

Mengenai lagu-lagu di album Fragmen, kalian lebih suka menjadi diri sendiri atau terpengaruh band kesayangan kalian masing-masing? Ceritakan dong makna dalam lirik-lirik lagu kalian.

Hasymi: Jelas kami lebih suka jadi diri kita sendiri, bahkan kami sering bingung kalau ditanyain “band yang kayak kalian siapa sih?”. Kami berempat memang gak pernah mematok band ini akan jadi seperti apa. Kami mainin aja yang bikin kami suka, yang bikin kami puas. Walaupun sampai sekarang kadang kami bingung kalau ditanyain soal genre kita.. nyahahaha

Kalo saya pribadi, saya jelas terpengaruh dengan band kiblat saya, Mew. Tapi buat saya, memainkan part saya sendiri itu sudah sangat cukup. Saya tak harus memaksa teman-teman untuk memainkan part yang saya suka.

Enrico : Soal makna dalam lirik lagu, coba kami buat studi kasus lagu kami berjudul “Orbod”. “Orbod” itu artinya orang bodoh. jadi lagu itu sebenarnya menceritakan seseorang yang memiliki kepribadian ganda, tapi tidak menyadarinya. Wanjay.. 😂😂

Hasymi: Bicara lirik, kami sengaja bikin lirik kita dalam Bahasa Indonesia semua dengan maksud bisa lebih amanah lah di telinga orang Indonesia sendiri. Lagu-lagu kami kan sudah reverbnya tebal, intonasinya gak jelas pula. Ya jadi minimal Bahasanya Indonesia lah.

Dalam lagu “Hanum”, kami menceritakan kisah nyata tentang seorang anak yang ditinggal orang tuanya pada umur yang masih sangat belia. Tidak mengerti namun merasa. Di lagu ini, kami coba membahasakannya sebagai orang tua yang meninggalkan anaknya tersebut.

Di lagu “Meta”, kami bercerita tentang ketidakadilan (menurut kami) mengenai seseorang yang hanya merugikan dirinya sendiri, tidak merugikan orang banyak, namun dianggap seperti parasit bagi kebanyakan orang. Kemudian lagu “Apologi”, lirik di lagu ini saya tulis dengan tema unconditional love, jadi saya berandai bagaimana jika ‘sang malam’ dapat berkeluh kesah kepada kami. Nah, lirik lagu inilah yang jadi imajinasi saya ketika ‘sang malam berbicara.

Brata : Lagu “Sentimental” berawal dari musiknya yang sudah jadi duluan. Kami baru memikirkan liriknya belakangan. Saat proses pembuatan lirik, posisi kami duduk melingkar bersila. Di saat itu pula saya terbesit untuk membuat lagu tentang keresahan kami berempat: “perut buncit“, sehingga terjadilah lirik “sesak diafragma..” dalam lagu sentimental 😆

Panggung mana yang membuat kalian memiliki kesan tersendiri sejauh ini?

Brata : Kalo dari gue sih Ramadhan Fest. Soalnya itu tuh panggung pertama kami. Di situ lagu “Paradoks” pertama kali berkumandang sehingga rasanya paling berkesan.

Hasymi : Kalo saya di event Community Day 2017 karena buat saya itu adalah event pertama yang bisa buat kita lupa diri diatas panggung, main lepas, pake hati dan intim lah.

Enrico :  Kalo saya pribadi waktu itu di acara Mods Mayday 2018. Di acara itu kami mengalami trouble yg di luar kemampuan kami sehingga Dwazed jadi berhenti main di pertengahan lagu. Sejak saat itu saya dan temen-temen Dwazed jadi lebih prepare terhadap situasi terburuk yg kira-kira bakalan terjadi..

Apa dan bagaimana pendapat kalian untuk skena indie di kota Palangka Raya ke depan?

Brata : Kalo dari saya, harapannya semoga pelaku maupun penikmat musik di Palangka Raya bisa membuka diri dengan  menerima musik-musik yang ada di jalur Indie.

Enrico : Saya berharap warga masyarakat di Palangka Raya bisa lebih mengapresiasi para pekerja seni, khususnya seni musik. Karena apabila masyarakat Palangka Raya bisa mengapresia, tidak menutup kemungkinan para musisi-musisi di Palangka Raya bisa membuat pasar menjadikan musik salah satu pekerjaan yang menghasilkan..

No more articles