A password will be e-mailed to you.

njih buk, niki Ronie, rencange Mallinda ngeband…”

__

Sebelum saya memulai kisah yang tak romantis itu. Bolehlah saya bercerita bagaimana tulisan ini bermula.

Di siang yang terik, di handphone yang baru saja terkail koneksi gratisan dari kampus, satu pesan whatsapp saya baca dengan hati-hati.

”Mal, mau menulis lagi gak Mal untuk HOOKSpace? Hhuehehehe. aku tetiba penasaran sama ceritamu dan kayaknya asik kalau dibagikan ke netizen” – Awan, pria yang biasa saya ingat sebagai Awan Lintang. Ihirrr.

Cerita yang dimaksud Awan adalah cerita yang bermula dari sharing session Ronie soal awal mula terbentuknya Rubah di Selatan di acara Sangat Talks #10, April lalu.

Iya benar dia, Ronie Udara sang up-to-date itu, yang memilih jalan hidup sebagai pemain udupot di antara begitu banyak instrumen yang ada itu. Masih lekat dalam ingatan, ketika satu kiriman instastory saat Ronie berbicara tentang topik ini saya buka, tanpa permisi sebuah kata terucap manis lewat bibir ini: ”Sialan…”

Nah, Ini cerita soal momen itu dari sudut pandang seorang Mallinda. Bismillahirrohmanirrohim.. semoga tidak membosankan..

__

Tak ada buku yang begitu saja terbuka tanpa permulaan. Begitu juga kami, sebuah band yang terbentuk hampir 4 tahun yang lalu.

Mula kami itu terjadi di bulan Desember yang tak hujan padahal aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember, di bulan Desember. Di gigs kami yang kesebelas, di hari ke-18 tahun 2015, saya yang mulai dikenal dengan Mallinda Rubah di Selatan (RDS), Mbak Rubah, sampai yang biasa, Mallinda Zky, bertolak ke Surabaya bersama RDS untuk mengikuti acara Rising Up di Royal Plaza. Kala itu, RDS masih bertiga: Saya, Ronie, dan Gilang saja. Untungya ada Hanif, seorang keyboardist yang bersedia membantu kami, 5 bulan sebelum kami bertemu Adnan.

Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa sebelum berpergian maupun pentas, kami selalu meminta izin kepada orangtua kami, atau setidaknya memberi kabar terlebih dahulu. Ya tapi saya tidak selalu, sih. Saya anaknya memang begitu. Nacqal.

Masih tersimpan rapi dalam ingatan, di gig ini saya meminta izin kepada ibu saya. Dilalah, kala itu saya dan ibu saya sedikit berargumen, hanya sedikit, tentang kuliah dan band. Memang benar topik klise itu terjadi ke mayoritas kita, tidak terkecuali kepada saya.

Sampai akhirnya, satu solusi kami luncurkan: menelepon dan meminta izin orang tua saya secara langsung. Yang meminta izin bukan saya tentu saja. Selain saya terlalu nacqal, tidak akan ada efek berarti kalau saya lagi saya lagi yang meyakinkan ibu.

Saya telepon ibu saya. Setelah terucap kata halo dari seberang, kuhantarkan handphone itu kepada Ronie. Iya, Ronie sang up-to-date.

Ronie? Why Ronie? Karena ia satu-satunya yang bisa berbahasa jawa krama inggil dalam RDS maupun dalam mobil Yaris yang kami sewa waktu itu. Saya memang dibesarkan dalam keluarga yang terbiasa berkomunikasi dengan bahasa jawa krama. Bukan, bukan berarti bapak dan ibu saya tak mengerti bahasa, hanya saja memang begitulah cara mereka membesarkan saya. Begitulah saya, nacqal namun santun.

Dimulailah perkenalan ini-itu antara Ronie sebagai perantara RDS kepada ibu saya. Tak berlangsung lama karena memang hanya meminta izin saja untuk mengajak nge-band. Selesai.

Mari saya luruskan dan sedikit tarik ke belakang. Setelah berkomitmen hadir dalam band ini dan melewati gigs pertama, saya bercerita kepada orangtua tentang apa yang saya lakukan. Meski saya bukanlah anak yang selalu bercerita segala hal kepada orangtuanya, namun untuk yang satu ini saya fikir perlu. Yang pasti kala itu kami bercerita dalam situasi santai, tak perlu dikala senja, beserta teh maupun kopi, cukup itu saja, santai. Puja-puji semesta, saya dilahirkan dalam keluarga yang tidak ‘terlalu’ mengekang. Terlebih memang sejak kecil saya aktif menyanyi, dan mereka mengetahui hal tersebut. Satu pesan yang selalu mereka ucapkan ketika saya berbicara tentang sebuah keputusan adalah saya harus bertanggung jawab atas segala hal yang saya lakukan. Terkesan bebas bukan? Tetapi bagi saya, hal itu dapat menjadi boomerang, bukan aplikasi, yang siap menyerang di saat lengah. Wush.

Meski izin telah dikantongi, beberapa argumen masih sering saya dapati dari orangtua. Seperti halnya ketika dalam perjalanan menuju Surabaya itu, ibu saya sedikit ngomel. Namun jika diingat lagi, ibu hanya khawatir. Bagaimana tidak? Kekhawatiran itu cukup beralasan karena saya satu-satunya perempuan (ya meski sampai sekarang juga sih. mwahaha). Selain itu, saya baru masuk tahun kedua perkuliahan yang notabene adalah seorang anak baru perantauan. Tapi poin utama adu argumennya adalah saya pergi ke Surabaya pada hari Jumat yang normalnya saya harus kuliah. Nah loh!

Tetapi setelah adanya fenomena telfon-izin tersebut, orangtua saya luluh. Mereka menjadi lebih mengerti dan percaya terhadap apa yang saya lakukan. Sungguh jawa krama dan Ronie Udara adalah perpaduan yang ampuh.

Rasa percaya tidak hanya dibutuhkan oleh sejoli muda mudi yang sedang memadu kasih, dalam band pun juga demikian. Bukan hanya antar-personil, tetapi juga setiap unsur di dalamnya. Karena percaya atau tidak, jika segala halnya dimulai dengan rasa percaya, maka semesta tahu bagaimana keberuntungan itu bekerja. Perlu interaksi langsung, antara personil band dengan orangtua masing-masing. Dengan adanya komunikasi inilah rasa percaya itu dapat hadir di dalam benak mereka. Setelah itu, jagalah!

Bukan berarti tidak akan pernah ada argumen di antara saya dan orangtua saya selanjutnya. Hanya saja, argumen itu lebih bersifat mengingatkan. Begitulah orangtua, bertugas mengingatkan, meski terkadang caranya itu.. hm… menyebalkan. That’s it! Sense of being parents! Keadaan ini pun tidak bisa serta merta saya persalahkan, karena saya harus ingat bahwasanya tahun 2014 silam saya merogoh izin dari orangtua saya untuk kuliah. Oleh karena itu, mereka berusaha membantu, menuntun saya untuk memenuhi tanggung jawab saya empat tahun silam. Cobalah melihat dalam sudut pandang mereka, agar sedikit banyak kamu mengerti. Bagi saya hanya ada dua koentji, yaitu tahu diri dan tahu porsi, bukan tahu bulat digoreng dadakan. Ih!

Tidak semua hal yang telah saya ucapkan dapat diterapkan dan sesuai dengan setiap orang, karena setiap orang atau band pun memiliki treatment yang berbeda. Namun tidak salah dan tidak hina jika kalian ingin mencoba. Satu hal yang kalian harus tahu, bahwa hanya orangtua saya yang belum pernah bertemu langsung dengan RDS. Fenomena telfon-izin tersebut merupakan kali pertama dan terakhir orangtua saya berkomunikasi langsung dengan RDS sampai menginjak tahun hampir-keempat ini. Rasa percaya yang hadir dalam orangtua saya telah membawa saya sampai pada titik yang sekarang ini. Memang belum seberapa, hanya saja cerita yang kami cipta telah cukup memenuhi satu buku harian yang dapat saya ceritakan kepada anak cucu saya nanti. Amin.

Seperti itulah cerita yang tak pernah terfikir akan ter-publish begitu gamblang dalam lingkaran obrolan oleh Ronie dan teman-teman. Sebelum saya benar-benar menyudahi tulisan ini, tahukah kalian bahwa ada 64 kata “saya” dan 10 kata “izin” dalam tulisan ini, which is berbanding lurus dengan tahun 64 kelahiran bapak saya di bulan kelahirannya ini (Oktober). Terima kasih. Semoga terhibur, terilhami, dan membuat kalian tersenyum simpul atau hanya mengangguk tipis pun tak apa.

Satu pesan penutup untuk tulisan ini. Selamat ulang tahun bapak, panjang umur dan berbahagialah!

No more articles