A password will be e-mailed to you.

Sudah setiap hari selama 2 bulan lebih sedikit saya dan tim HOOKSpace mengurus blog musik ini. Banyak hal terus kami lakukan untuk perlahan-lahan memperbaiki dan meningkatkan kualitasnya. Pelan-pelan pula, kami mulai memahami dan menguasai masalah yang datang.

Amin misalnya, saya masih ingat setengah tahun yang lalu dia selalu mengeluh soal sulitnya mengubah template ini, desain itu, visual ini, layout itu. Sekarang, Amin sudah bisa sok keren setiap rapat dengan bilang “Gimana website-nya? Ada yang mau diubah gak?”. Meski pun ketika kami melempar saran, dia akan kebingungan juga. Gapapa, yang penting keren dulu.

Ada juga Juan dan tim produksi video yang kemampuan editing-nya semakin efektif saja. Sebagai blog yang tayang tiap hari, hanya Juan dan tim video yang praktis belum pernah kelewatan hari tayang. Podcast sudah pernah bolos, Tulisan apalagi.

Nah, sebagai pengampu rubrik Tulisan, tentu saya dan Liesta punya banyak alasan mengapa kami beberapa kali bolong artikel. Lha gimana, tidak setiap minggu akan ada rilis pers masuk ke Redaksi, tidak setiap waktu ada teman-teman praktisi yang bisa membagikan ceritanya. Apalagi, tidak semua yang memiliki cerita sanggup menuliskannya. Poin terakhir ini lah yang mau saya bahas di tulisan ini: wa bil khusus, menulis rilis pers.

Begini, saya paham tidak semua orang bisa menulis. Kemampuan menulis lirik tentu tidak bisa saya harapkan untuk serta merta diimplementasikan dalam menulis rilis pers, ya karena memang berbeda juga pendekatannya. Tapi, saya kira ada beberapa poin yang bisa saya bagikan supaya teman-teman band punya pegangan tentang menulis rilis pers, berdasarkan apa yang HOOKSpace terima 2 bulan belakang.

Pertama, sebelum ke substansi rilis pers, mari kita sepakati satu hal terlebih dahulu: apabila ingin mengirim rilis pers ke suatu media, pastikan Anda menautkan file, bukan menulis di badan email. Rilisan pers adalah materi, sedang badan email diperuntukkan sebagai pengantar materi tersebut. Tentu akan lebih baik apabila badan email dipergunakan sebagai wahana memperkenalkan diri, band, dan maksud tujuan pengiriman. Jangan biarkan badan email kosong. Percayalah, ini bukan hanya berguna bagi kemaslahatan anak band saja, tapi di semua lini kehidupan. Ada yang bilang dosa terbesar manusia, selain mengadu ikan cupang, adalah membiarkan badan email kosong. Jangan tanya saya siapa yang bilang.

Kedua, dan masih belum menyentuh substansi rilis pers, jangan hanya mengirim tulisan rilis pers saja di email. Bersamaan dengan rilis pers tersebut, tautkan juga beberapa materi pendukung seperti artwork, profil band, tautan/materi lagu (bagi yang rilis lagu), atau pun foto resmi band/solois. Tidak perlu menautkan artikel “Resep Menjadi Keluarga Bahagia”. Selain tidak nyambung, kami juga belum ada yang menikah.

Terakhir, mari masuk ke dalam substansi rilis pers. Begini, menurut saya sih, rilis pers dibuat untuk mengampanyekan sebuah isu. Bisa tentang video klip yang baru tayang, lagu baru yang baru launching, sampai promo tur luar angkasa. Sebagai landasan, tentu prinsip 5W+1H wajib ada. Misalkan rilis tentang lagu, di rilis pers wajib hukumnya ada judul lagu, cerita di balik lagu, bagaimana prosesnya, kapan dibuat, siapa yang berperan di balik lagu itu, apa tujuan perilisan lagu, dan lain sebagainya. Itu info yang mendasar ya.

Selain info mendasar, ada info khusus yang biasanya mau dikedepankan (saya selalu menghindari penggunaan kata gimmick). Misalkan, dulu Batiga merilis video klip “Cinta Bertuan” menggunakan kamera handphone. Nah, di beberapa rilisan, info ini mempunyai porsis khusus dalam pembahasan. Sifatnya tidak wajib, tapi tentu akan menambah nilai apabila ada.

Saya tidak menggurui lho, semua rilis pers yang masuk ke HOOKSpace juga selalu kami muat. Saya dan Liesta mung sambat karena lumayan lelah menyunting rilis pers yang amburadul. Bhay.

No more articles