A password will be e-mailed to you.

OPINI – Dari sekian banyak pementasan musik yang ada di Jogja, Ikhwan Hastanto menceritakan tiga pementasan yang paling berkesan untuknya. (redaksi)

Sebelum dimaki-maki, Pertama-tama saya harus tegaskan bahwa tulisan di sini bersifat subjektif. Artinya, semuanya sesuai selera saya saja. Kalau Anda kurang sepakat dengan daftar di sini, ya monggo kirim ke surel redaksi berisi daftar tandingan. Gimana? Sudah kelihatan belum kalau saya panik karena butuh konten?

Kedua, karena saya membahas konser, maka jelas indikatornya adalah konser itu pernah saya datangi. Jangan harap akan ada ulasan penampilan band tertentu di Rock in Celebes atau North Sea Jazz Festival. Saya belum pernah ke sana. Uang saya tidak tumbuh dari alang-alang. Ya tapi, misalkan, misalkan lho ya, ada sponsor di masa mendatang dari acara-acara terkait yang mau memberangkatkan kami-kami untuk liputan, ya masa ditolak.

Mengingat keterbatasan saya tersebut, maka konser yang diselenggarakan di Jogja menjadi acuan daftar saya saat ini.

Ketiga, karena keterbatasan daya ingat dan tenggat waktu yang saya punya, daftar di sini hanya berisi konser yang langsung terlintas di pikiran saya ketika mulai menulis. Mungkin saja kalau saya punya lebih banyak waktu, daftarnya akan semakin bertambah.

Keempat (ini kenapa banyak banget disclaimer-nya sih!), tidak ada Grow Concert milik Stars and Rabbit di daftar ini. Selain karena mereka sudah tidak butuh exposure, saya juga TIDAK NONTON KARENA HARUS REGULERAN 🙁

Berikut list pementasan musik paling berkesan yang pernah saya alami di Jogja:

  1. Goro-Goro Diponegoro

Goro-Goro Diponegoro adalah judul pentas tunggal milik kelompok macapat modern bernama Mantradisi. Pertunjukkan yang diselenggarakan di Tembi Rumah Budaya ini menyinggung soal cerita Perang Diponegoro kisaran 1825-1830 (awas saja masih ada yang suka bercanda soal perang terjadi di waktu ba’da maghrib!).

Mantradisi sendiri berisi orang-orang yang sudah sering malang melintang di dunia musik Jogja: Paksi Raras Alit (vokal dan beberapa alat canggih), Rizky Septiandi (gitar elektrik dan akustik), Dibya Imam Prasetya (bas), Nikko YAS (drum dan perkusi), dan Jaeko (alat-alat musik tradisi yang kelihatan keren sekali itu).

Karena pengetahuan saya soal kebudayaan Jawa sangat minim, saya tidak mau menyentuh konsep pertunjukkan mau pun cerita tembang yang mereka bawakan. Pokoknya, sebagai penonton baris terdepan, durasi pertunjukkan yang kurang lebih 1,5-2 jam ini tidak saya rasakan sama sekali. Setlist-nya punya dinamika yang pas, visualnya jempolan (mereka melatarbelakangi pertunjukkan dengan animasi perang yang yahud), dan lakon pendukung di dalam diri Gardika Gigih (sungkem, Mas) sangat sangat sangat sangat meng-elevasi pertunjukan.

Di sela pentas, Alit Jabang Bayi dan Gundhissos mengambil alih panggung. Sial, lucu sekali mereka.

  1. Everyday di Ngayogjazz 2013

Kecintaan saya terhadap band ini sangat personal. Terlalu sering saya menonton Everyday mulai 2011 hingga terakhir pementasan di Artjog bulan lalu. Dari berpuluh-puluh pertunjukan mereka yang saya tonton, ada satu yang sangat membekas bagi saya: Ngayogjazz 2013.

Everyday beberapa kali mengalami pergantian formasi. Saat ini (sepertinya) mereka hanya berempat: Reagina Maria (vokal), Harly Yoga (bas), Anggrian Hidha (drum), dan Wiwit Yulian (keys/synth). Tapi di gelaran Ngayogjazz lima tahun lalu tersebut, Mas Wiwit belum bergabung. Bramantyo Wikantyoso (keys) dan Gilang Adhyaksa (keys) masih menjadi personil.

Saat itu album pertama Everyday, A Beautiful Day, sedang hangat-hangatnya. Saya menonton dilatari oleh suasana sore hari selepas hujan (atau masih gerimis sedikit) dengan berdiri paling tengah: posisi favorit saya kalau menonton konser.

Saya masih ingat sekali bagaimana jalannya penampilan mereka saat itu, seolah-oleh dimulai dari “gelap” dan menuju “terang”. Dua lagu awal adalah milik Miles Davis berjudul “U’N’I” dan “November”, lagu ciptaan mereka yang tidak ada di album. Baru pelan-pelan suasana gloomy berubah jadi nyenengi saat lagu-lagu album pertama mulai bermunculan.

Pertunjukan mereka sore itu benar-benar sempurna buat saya. Mungkin karena didukung oleh hujan yang perlahan berhenti semakin menegaskan kekuatan setlist-nya yang gelap-terang itu.

  1. Serbuk Pahit dan Jalan-Jalan Sempit

Ini adalah pementasan musik pertama yang membuat mata saya berkaca-kaca. Sumpah demi tuhan, pertunjukan ini bagus sekali. Bagus sekali.

Erwin Zubiyan (alm.) menampilkan lagu-lagu ciptaannya dalam sebuah konsep warung kopi sederhana di sisi barat Jakarta. Dengan judul Serbuk Pahit dan Jalan-Jalan Sempit, pertunjukan musik bagian dari Jogja Art Weeks 2015 ini berlangsung sekitar 1 jam saja. Bertempat di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, hanya 200 kursi tersedia dan saya salah satu yang beruntung.

Saya tidak begitu akrab dengan karya-karya almarhum sebelum menonton pertunjukan ini. Praktis hanya “Seluruh Lampu Sudah Kunyalakan” yang pernah saya dengar. Mungkin karena itu jualah dampaknya bisa begitu maksimal buat saya: sampai beberapa saat setelahnya saya menjadi sangat rapuh dan melankolis.

No more articles