A password will be e-mailed to you.

Sebagai insan band-bandnan yang sahih, tentu bulan lalu saya turut serta pula menonton film Bohemian Rhapsody. Ada beberapa alasan saya menonton film tersebut. Pertama, saya tertarik melihat Rami Malek memerankan Freddie Mercury. Kedua, reviu media sosial yang bagus (saya percaya netijen sepenuh hati). Ketiga, ada promo 50% apabila membeli tiket menggunakan rekening bank tertentu. Bisa dibilang alasan terakhir adalah alasan paling kuat. Kapan lagi nonton dapat diskon setengah harga?

Saya tidak akan bercerita tentang film Bohemian Rhapsody. Selain karena saya bukan kritikus film yang semlehoy, Vega sudah melakukannya di tulisan lain.

Tapi, ada satu bagian film yang membuat saya hampir menitikkan air mata: reka ulang adegan Queen manggung di Live Aid, sebuah acara charity yang selalu dipenuhi band-band besar. Pada scene tersebut, saya merasa film ini sangat sukses menciptakan kembali atmosfer sebenarnya dari konser yang asli, khususon soal koor massal di Wembley oleh lebih dari jutaan orang.

Dari situ, saya menyimpulkan ada beberapa persamaan antara Queen dengan band saya, Olski: sama sama pernah main di acara charity, sama-sama terdiri dari 5 huruf (iki ra penting sakjane), dan sama-sama pernah bikin koor massal meskipun beda skala. Koor massal inilah yang akan saya ceritakan di tulisan ini.

Sombong sekali sih, bisa bikin penonton nyanyi bareng lagu sendiri aja dibangga-banggain!

Gini, ndes. Menurut kami, menjadi performer itu cukup berat. Selain karena tugasnya adalah menghibur, kami juga harus memastikan bahwa kami juga terhibur dengan segala hal yang terjadi di pertunjukan tersebut. Inilah yang setidaknya kami sepakati bertiga di Olski: bahwa perasaan bahagia itu menular.

Izinkan saya bercerita dari masa Olski masih berempat, sekitar tahun 2015.

Dengan formasi masih kuartet-akustik dengan Adska Dorra dan Atika masih belum hijrah ke pekerjaan lain, kami bermain di acara Elins UGM. Waktu itu, Adska belum datang padahal Olski sudah dipanggil ke atas panggung.Mood saya sebelum manggung cukup hancur. Sumpah serapah keluar dari mulut saya. Kalian pasti gak percaya kan pribadi saya yang tenang dan ngayomi kok bisa-bisanya misuh?

Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Adska datang dan kami naik panggung. Namun, kondisi mood saya sudah terlanjur kacau. Pada momen itu, saya berharap dielus Paramitha Rusady.

Olski bukanlah bintang tamu utama, masih ada beberapa band lain akan tampil setelah kami. Jadi, saya pikir, yaudahlah paling yang nonton juga cuma beberapa. Ekspektasi saya rendahkan untuk memperbaiki mood.

Eh ternyata, keadaan di lapangan berbeda. Saat itu cukup banyak penonton tiba-tiba merapat ketika Olski tampil. Melihat fenomena ini, mood saya kok membaik?

Puncaknya, ketika kami membawakan lagu “Tunggu”, hampir semua penonton ikut bernyanyi. Saya tidak percaya, ini pasti ada panitia yang membunyikan sequencer untuk menyenangkan hati Olski. Akhirnya setelah lagu selesai, saya meminta penonton untuk menyanyikan bersama refrain lagu “Tunggu” sekali lagi. Eh, beneran pada nyanyi bareng! Lagu band saya kok sudah pada hapal?! Apakah ini yang dinamakan Raisa Moment?

Turun panggung saya tersenyum lebar, masih shock bahwa yang dinyanyikan oleh penonton tadi adalah lagu kami sendiri. Bukan cover “Akad”-nya Payung Teduh, “Kangen”-nya Dewa 19, atau “Benci Untuk Mencinta”-nya Naif. Lagu band saya sendiri!

Sebenarnya, koor masal di sebuah pertunjukan juga tidak lepas dari peran penonton yang kooperatif. Jadi, tidak sepenuhnya semua kehebatan ada pada kekuatan Olski. Saya beri satu contoh menyenangkan lagi.

Beberapa minggu kemarin, Olski berkesempatan manggung di kampung halaman saya di Wonosari, tepatnya di SMA 1 Wonosari. Saya sangat amat excited karena ini adalah kali pertama saya manggung bareng Olski di “rumah” saya. #WonosariPride #WonisariMendunia

Nah, ada bagian yang menunjukkan betapa menyenangkannya mendapatkan penonton yang kooperatif: Beberapa hari sebelum manggung, Instagram Olski mendapat mention dari salah satu murid SMA tersebut yang memberi tahu bahwa mereka siap untuk nyanyi bareng Olski. Dia mengirimkan juga video di IG Story berisi screen-capture percakapan WhatsApp yang berisi siswa SMA 1 Wonosari saling share lirik lagu Olski. Kemudian, panitia juga menanyakan list lagu yang akan dibawakan kami nanti. Ya, mereka benar-benar bersiap untuk menikmati acara mereka. Untuk membuat segalanya lebih baik, pada saat acara berlangsung, kami mendapat kabar kalau tiket sold out, dan venue sudah penuh terisi penonton.

Sampai akhirnya giliran kami manggung tiba.

Teriakan penonton saat Dea masuk panggung menusuk telinga kami. Lagu pertama yang kami bawakan, “In the Wood”, direspon dengan cukup malu-malu. Hanya di bagian refrain saja beberapa penonton ikut bernyanyi. Mungkin karena lagunya berbahasa inggris.

Baru saat lagu kedua, “Tunggu”, penonton berteriak histeris saat intro-nya dimainkan. Lagu ini disambut dengan nyanyian bersama dari para penonton.

Saya langsung ngomong ke Sobeh di atas panggung, ”Gila ini.” Dan memang segila itu menurut saya. Kami bahagia melihat penonton sebanyak itu ikut menyanyikan tiap bait lagu-lagu kami.

Agar terlihat seperti rockstar, pada saat lagu “Datang Bulan”, saya sempat meminta penonton menyalakan flash light. Hampir semua penonton meresponnya dengan baik. Kebahagiaan ini berlipat-lipat karena penonton yang kooperatif menyalaka senter hape-nya. Percayalah, menyaksikan hal sederhana seperti itu dari atas panggung benar-benar magis.

Ternyata, SMA 1 Wonosari paling menantikan lagu “Rindu” dan “Titik Dua dan Bintang“. Sambil menikmati dua lagu tersebut, saya melihat jelas ada penonton memeluk pacarnya, ada pula sekelompok penonton yang membuat koreografi tangan. Tanpa pikir panjang, saya lalu berpikir untuk meletakkan gitar dan melompat ke arah penonton. Tapi tidak saya lakukan dong, kan masih manggung.

Hingga lagu terakhir, “Titik Dua dan Bintang”, para penonton masih saja ikut bernyanyi, saya heran mereka kok tidak menyimpan energi mereka. Padahal, masih ada band utama yang akan tampil.

Saat outro lagu dan penampilan, Olski biasanya selalu mengajak  penonton menyanyikan bersama kalimat “titik dua dan bintang..” dan Di SMA 1 Wonosari pun kami melakukan hal yang sama. Saat Dea selesai menghitung untuk memberikan aba-aba, terdengar begitu jelas suara penonton yang banyak sekali itu. Merinding.

Rasanya ingin langsung loncat ke arah penonton untuk menyalami satu-satu, berterimakasih. Malam itu kami benar benar bahagia. Saya turun panggung dengan senyum sumringah sambil mengumpat kegirangan. Anjir band apaan ini anjir.

Pengakuan teman saya yang ikut nonton dari depan panggung bilang bahwa suara Dea malam itu hampir tidak terdengar karena tertutup koor penonton yang bernyanyi bersama. Gila ah! Baru penonton segitu saja saya bahagianya bukan main, bagaimana perasaan Queen ya saat satu Stadion Wembley nyanyi bareng?

No more articles