A password will be e-mailed to you.

Menurut sumber bbc.com, pada Februari 2018, narkoba sejumlah lebih dari dua ton berhasil dibongkar oleh aparat di Kepulauan Riau. Berdasarkan survei BNN yang diterangkan Benny Mamoto, keberhasilan itu hanya 10% saja ketimbang yang berhasil lolos. Disusul Agustus kemudian, Boengkar, pengedar sabu-sabu yang belum ada setahun keluar dari penjara kembali berulah. Untungnya, Satuan Reserse Narkoba (Satresnarkoba) berhasil menggagalkan aksinya.

Persitiwa-peristiwa tersebut adalah peringatan kepada siapapun, terutama kepada pihak yang berwajib, untuk segera meningkatkan kewaspadaan terhadap penyalahgunaan narkoba.

Untuk diingat bersama, Indonesia merupakan negara dengan intensitas penyalahgunaan narkoba yang tinggi. Presentase terbanyak dari survei penyalahgunaan narkoba yang dilakukan BNN adalah jumlah pekerja sebanyak 72,67 juta jiwa dan pelajar sebanyak 51,87 juta.

Pelajar yang notabene berusia belasan tahun dengan rasa penasaran yang tinggi terhadap hal baru menjadi target pasar peredaran narkoba. Sekalipun mengerti bahaya narkoba berkat kampanye-kampanye yang masif, keisengan mereka untuk mencoba-coba bisa berimbas candu. Kadang, di lingkungan pergaulan yang kurang sehat, seorang remaja terpaksa ikut-ikutan mencicipi obat-obatan terlarang demi pembuktian diri. Perasaan rendah diri, kecewaan-kekecewaan dalam kehidupan yang tak bisa diredam, dan buruknya manajemen diri karena kondisi psikis yang labil, merupakan titik lengah remaja sehingga mudah sekali digiring ke rimba narkoba.

Ketika seseorang sudah terlanjur mencandu narkoba, maka apapun akan dilakukan untuk mendapatkan zat-zat itu. Tak ayal, waktu akan banyak terbuang untuk sekadar mabuk sebagai efek dari zat-zat yang terkandung di dalam narkoba. Kenikmatan sesaat tersebut lantas memaksa para pecandu terus mengonsumsinya jika sudah dilanda sakau. Ketika pada satu titik mereka ingin lepas dari jerat narkoba, nyatanya itu justru jauh lebih berat dari usaha untuk tidak mencoba-coba mengonsumsinya.

Sulitnya Lepas dari Narkoba

Lebih mudah untuk menjauhi narkoba daripada berhenti memakainya. Kita tak kurang-kurang contoh penyalahguna narkoba, baik yang berakhir dengan keberhasilan lepas darinya _tentu setelah bersusah payah_ hingga mereka yang mati dengan sebab umum: overdosis.

Ari Lasso, solois, dalam suatu wawancara bersama Tribunnews, mengatakan: “Nikmat narkoba itu cuma Ilusi, saya bisa produktif setelah bebas darinya.” Pelantun Misteri Ilahi itu berusaha berhenti sejak 1997. Namun, ia baru benar-benar sembuh empat tahun kemudian. Kerugian yang ia alami ketika menjadi pecandu narkoba adalah harus memenuhi hasrat menggunakan narkoba dahulu sebelum latihan atau manggung bersama Dewa19. Di Youtube, kita dapat melihat penampilan buruknya sewaktu melantunkan Kirana sebab sedang sakau. Labih naas lagi, Ari harus keluar dari band yang membesarkan namanya itu.

Hal senada juga dialami sebagian besar personil Slank. Dari narkoba pula, band legendaris itu sempat bubar. Bimbim, Kaka, dan Ivanka sempat dijauhkan dari alat komunikasi selama dua tahun guna menghindari transaksi narkoba. “Kami nggak boleh bawa HP, dompet dan selalu dikawal,” kenang Bimbim. Pada masa awal milenium, biaya untuk mengikuti rehabilitasi begitu mahal, sehingga sempat putus asa. Namun, pertemuan dengan seorang dokter yang peduli pada para pecandu narkoba membawa mereka ke gerbang kesembuhan. Tahun 2004, mereka direhabilitasi secara gratis.

Bayangkan, harta yang dihasilkan oleh artis sebeken mereka saja bisa ludes terkuras oleh narkoba. Bagaimana dengan rakyat biasa? Sudah tentu, bila mereka menjadi pecandu narkoba bukan hanya akan kehilangan materi saja. Harus mencuri, membohongi keluarga dan teman, menyakiti diri sendiri demi narkoba: itulah manusia yang kehilangan kemanusiaannya.

Bagi Ari Lasso maupun para personil Slank, lepas dari narkoba adalah peristiwa luar biasa sepanjang hidup mereka. Seperti yang dikatakan di atas, Lasso kemudian menghasilkan sejumlah album solo serta memperoleh banyak penghargaan, termasuk Best Inspirasional Artist. Dan, Slank masih tetap eksis hingga usianya kini mencapai 33 tahun. Sebagai ungkapan penyesalan, keduanya aktif mengkampanyekan anti narkoba melalui kisah-kisah yang diceritakannya. Slank bahkan sudah menyediakan ruang rehabilitasi di markas besarnya: Potlot.

Produktif Berkarya Tanpa Narkoba

Deretan publik figur terkemuka yang pernah memakai narkoba memiliki alasan beragam. Tetapi, hampir seluruhnya mengarah pada maksud yang sama: memacu kreativitas. Cerita demi cerita dari seniman tersohor barat dalam menggunakan narkoba menginspirasi seniman dalam negeri untuk melakukan hal yang sama. Pada era 1990-an, narkoba seakan-akan menjadi suatu kultur yang tidak dapat dipisahkan dari musik.

Didit Saat, gitaris grup musik Plastik, mengakui bahwa kultur narkoba yang marak di lingkungan musisi di Indonesia dalam kurun waktu 1990-an dipengaruhi oleh musisi luar negeri seperti Kurt Cobain, Eric Clapton, Jimi Hendrix dan Jeff Beck. Mengonsumsi narkoba seakan-akan menjadi syarat dalam menciptakan karya fenomenal. Didit mengistilahkan narkoba sebagai ‘stimulan kreativitas’.

Di akhir abad dua puluh itu, informasi mengenai bahaya narkoba tidak segencar sekarang. Menggunakan narkoba terkesan sebagai kenakalan yang umum, terutama di kalangan seniman. Seperti yang dialami Didit saat pengecekan di bandara. Meskipun ia kedapatan membawa narkoba berjenis putaw, petugas bandara hanya berucap nyinyir “dasar anak band”, tanpa menindaklanjuti perilaku itu.

Sebenarnya, kelembagaan pemerintah yang mengurusi penggunaan Narkotika di Indonesia telah berdiri sejak 1971 dengan dikeluarkannya Instruksi Presiden Republik Indonesia (Inpres) Nomor 6 Tahun 1971. Akan tetapi, pemerintah Orde Baru kala itu menganggap persoalan narkoba tidak perlu dirisaukan karena rakyat cukup agamis dan memegang teguh Pancasila. Ternyata, keadaan itu dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang dengan mudah memasuki kantong-kantong seniman di Ibu Kota untuk mengedarkan narkoba seperti di Gang Potlot dan Blok M. Setelah sadar akan gencarnya penyalahgunaan obat-obatan yang membahayakan itu, pemerintah Orba kemudian mengeluarkan Undang-Undang Nomor 5 tahun 1997 tentang Psikotropika dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1997 tentang Narkotika. Di permulaan reformasi, resistensi terhadap perilaku menyimpang itu kian massif dengan dibentuknya Badan Koordinasi Narkotika Nasional (BKNN), dengan Keputusan Presiden Nomor 116 Tahun 1999.

Selain karena pengawasan pemerintah yang minim kala itu, informasi mengenai penggunaan narkoba sebagai teman dalam menciptakan karya bagi seorang seniman menjadi semacam habitus dalam diskursusnya Bourdieu, intelektual Prancis. Informan-informan yang mengabarkan bahwa daya kreativitas seniman-seniman luar negeri yang dipicu oleh narkoba merupakan suatu struktur yang menstrukturkan struktur-struktur, dalam hal ini penghuni komunitas Gang Potlot. Imbasnya, mereka pun terpengaruh untuk melakukan hal yang sama. Pada posisi itu, seniman-seniman itu berpeluang menjadi struktur yang bisa menstrukturkan struktur yang lain. Sebagai contoh, Kaka, vokalis Slank yang menghuni komunitas itu, mengajak Ari Lasso untuk ikut serta mengonsumsi narkoba. Keadaan itu akan terus berlanjut apabila tidak ada kesadaran dari seluruh pihak untuk menghentikannya. Apalagi, perilaku-perilaku itu terjadi dengan landasan meniru idola.

Narkoba memang secara tidak langsung memiliki andil terhadap proses kreatif seseorang. Narkoba stimulan memiliki efek merangsang tubuh menjadi lebih bersemangat dan tidak mudah lelah. Beberapa jenis narkoba yang tergolong dalam jenis stimulan adalah kokain, sabu-sabu, dan ekstasi. Kemudian, ada juga narkoba jenis depresan yang merangsang tubuh menjadi lebih tenang dan mengantuk. Beberapa jenis narkoba yang termasuk dalam kelompok ini adalah morfin dan opium. Terakhir, narkoba jenis halusinogen. Efek dari narkoba jenis ini adalah mengacaukan persepsi di otak, sehingga membuat pemakainya berhalusinasi. Narkoba jenis ini adalah ganja dan LSD. Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba di 34 Provinsi Tahun 2017 menyimpulkan bahwa jenis narkoba yang paling banyak dikonsumsi adalah ganja, sabu-sabu, dan ekstasi.

Sebuah informasi penjelas terkait hal di atas datang dari legenda musik dunia, The Beatles. Lagu hits Tomorrow Never Knows dan She Said She Said tercipta ketika para personil grup musik itu sedang nge-fly akibat penggunaan obat terlarang. Akan tetapi, Paul McCartney, salah satu personil The Beatles yang mengonsumsi LSD, mengharapkan bahwa langkah yang dilakukannya itu tidak ditiru oleh penggemarnya. Itu memberi kesan bahwa ada penyesalan dari McCartney.

Tidak sepenuhnya narkoba harus disalahkan. Justru, kandungan yang ada di dalamnya bisa dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Namun demikian, kesalahan juga terletak pada manusianya. Selalu saja ada oknum tertentu dari mereka untuk bereksperimen tanpa pengetahuan, kewenangan, demi kepentingan yang jatuhnya mengarah pada hal negatif. Akibat perilaku membahayakan itu, narkoba yang memiliki khasiat, dihindari karena stereotip: sumber maksiat.

Banyak cara berkreasi dengan tanpa menyalahgunakan narkoba. Belajar banyak dari karya orang lain, mengambil contoh yang baik dengan melakukan filter, serta saling tukar informasi dengan orang lain, dan tidak pernah berhenti berkarya menjadi beberapa contoh agar suatu karya berkualitas tinggi. Beberapa seniman papan atas di Indonesia telah memaparkan penyesalannya menjadi penyalahguna narkoba. Barangkali, bila keadaan lingkungan kala itu tidak seperti saat ini, mungkin mereka tidak akan coba-coba mengonsumsi obat-obatan itu.

Terlepas dari itu semua, di era derasnya informasi akan bahaya narkoba, kampanye-kampanye anti narkoba yang masif, dan cerita-cerita penyesalan memakai narkoba: adakah tindakan yang lebih bodoh daripada menyalahgunakan narkoba?

Daftar Pustaka

Rahmi Suci Ramadhani. 2015. Enam Selebriti Terbuai Halusinasi.

www.cnnindonesia.com/hiburan/20150122143055-234-26533/ -lsd/6

Al Amin. 2015. The Beatles Pernah Coba LSD, Narkoba yang Dikonsumsi Christoper www.merdeka.com/peristiwa/.html

  1. Reza Fahlevi. 2016. Narkoba Menambah Stamina, Mitos atau Fakta? www.klikdokter.com
  2. 2016. DRUGS CULTURE: Narkoba di Pusaran Dunia Musik Indonesia Era 90-an. https://supermusic.id

Dennis Destryawan. 2015. Ari Lasso: Nikmat Narkoba Itu Cuma Ilusi, Saya Bisa Produktif Setelah Bebas Darinya. www.tribunnews.com

Adinda Rudystina. 2017. Narkoba Terpopuler di Indonesia Apa Efeknya Pada Tubuh. www.hellosehat.com

Affan, Heyder. 2018. Mengapa ‘banjir’ narkoba di Indonesia terus meningkat? www.bbc.com

Tempo.co. 2015. Cerita Bimbim Slank Berjuang dari Narkoba di Rehabilitasi.seleb.tempo.co/

Suharsih. 2018. Baru Keluar Penjara, Pengedar Narkoba Solo Tertangkap Lagi. soloraya.solopos.com

Agustinus Shindu Alpito. 2017. Ketika Slank Terjebak di Dimensi Lain. m.metrotvnews.com/hiburan/

BNN. 2010. Sejarah BNN. www.bnn.go.id/read/page/8005/blog-single.html

BNN. 2017. Survei Nasional Penyalahgunaan Narkoba di 34 Provinsi Tahun 2017. Jakarta: BNN.

No more articles