A password will be e-mailed to you.

Bung Karno Sang Proklamator, Bung Karno Sang Macan Podium, Bung Karno Sang Pendiri Bangsa: sepertinya julukan-julukan tersebut sudah terlalu sering terdengar di telinga kita gak sih? Nah, biar daftar julukannnya semakin banyak, kali ini saya ingin memberi julukan baru untuk beliau: Bung Karno Sang Music Director.

Lha, kok bisa? Bukannya beliau adalah Insinyur yang jadi Presiden? Tahu apa beliau soal arah-mengarahkan musik?

Nah, sabar dulu warganet, saya akan coba menyajikan sedikit data yang menjadi landasan mengapa saya berani menuliskan julukan tersebut. Saya yakin, warganet sekalian pasti penasaran tentang bakat musik Guruh Soekarnoputra berasal dari mana. Masa masterpiece macam “Lagu Putih”, “Melati Suci”, hingga “Galih dan Ratna” bisa dihasilkan Mas Guruh dengan tanpa inspirasi keluarga yang musikal, sih?

Meski pun kita tahu Lagu “Indonesia Raya” diciptakan oleh W.R Supratman, namun ada banyak proses kreatif yang melibatkan banyak orang, khususnya Soekarno. Berikut lika-liku proses kreatif lagu yang setiap hari Senin selama 9 tahun selalu kita nyanyikan tersebut:

1928

Lagu selesai diciptakan oleh Wage Rudolf Supratman dengan menggunakan bentuk sonata, terdapat sajak 14 baris sebagai syair: gaya yang populer sejak periode Renaissance di Eropa. W.R. Supratman menuliskannya dengan nada dasar C, ketukan 6/8, dan tempo, tulisan ini kami kutip persis, “djangan terlaloe tjepat”. Jerigen, eh, Dirigen mana yang nggak pusing dikasih penjelasan tempo begitu?

Lagu ini kemudian diperdengarkan secara diam-diam menggunakan biola (instrumental tanpa vokal) di Kongres Pemoeda II pada 28 Oktober 1928, alias Hari Sumpah Pemuda. Saya penasaran, ada nggak ya peserta kongres yang bertanya dalam hati,”ini kok intro terus ya, kapan mulainya sih?”

Untungnya, syair tetap ditulis dan diedarkan kepada para anggota kongres. Selain itu, surat kabar Sin Po, tempat Supratman bekerja sebagai jurnalis, juga turut membantu penyebaran lirik. Kala itu judulnya masih  “Indonesia”.

1930

Ada niatan dari sahabat W.R. Supratman, Yo Kim Can, untuk merekam “Indonesia” di luar negeri demi mutu suara yang lebih baik. Namun sayang, pemerintah Kolonial Belanda yang posesif melarangnya.

1944

Menjelang kemerdekaan, dibentuklah panitia Lagu Kebangsaan yang diketuai Ir. Soekarno. Panitia tersebut mengubah lirik yang ditulis Supratman, meski maksudnya tak jauh beda. Versi tahun 1944 ini tidak bertahan lama. Gapapa, yang penting inisiatif.

1945

Lagu yang sudah menjadi “Indonesia Raya” pada tahun ini digarap oleh Nobuo Iida, seorang Direktur Hoso Kyoku, radio terpusat milik pemerintah pada masa kependudukan Jepang. Lagu gubahan Iida tersebut ditulis dengan dengan tempo di Marcia, atau irama dan nuansa seperti lagu-lagu Mars (bukan planet, yha).

1948

Setelah merdeka, dibentuklah kembali panitia Indonesia Raya untuk menyeragamkan lagu kebangsaan tersebut. Biar Indonesia banget, gitu.

1950

Jusuf Ronodipuro selaku kepala RRI meminta konduktor asal Belanda, Jos Cleber, untuk mengubah Indonesia Raya versi Nobuo Iida. Meski pun sudah mantan, hubungan antara penjajah-terjajah harus tetap terjalin.

1951

Aransemen gubahan Jos Cleber selesai direkam di studio RRI Jakarta yang melibatkan 140 pemusik gabungan dari ketiga orkes yang dimiliki RRI. Aransemen ini kemudian diperdengarkan di Istana Merdeka. Di sinilah peran Bung Karno sebagai pengarah lagu muncul.

Lagu ini mendapat komentar tegas dari Bung Karno bahwa lagu “Indonesia Raya” seharusnya seperti “Sang Saka Merah Putih”: polos, sederhana, dan tidak perlu diberi renda-renda. Bung Karno lalu megarahkan Cleber untuk membuat lagu kebangsaan ini menjadi plechtstatig alias gabungan antara khidmat dan megah.

Cleber langsung merevisi garapannya dengan mengubah irama menjadi maestoso con bravura alias semangat bergelora yang magis (maestoso). Setelah diperdengarkan kembali ke Bung Karno, presiden kita itu masih menginginkan ada bagian yang liefelijk atau mendayu-dayu sebelum refrain. “Refrain nya sendiri harus meledak dan menciptakan klimaks”, ujar Bung Karno.

Akhirnya, Cleber yang mendadak lembur kembali merevisi lagu dengan menggunakan 3 suasana dalam merajut aransemen lagu kebangsaan. Diawali oleh 20 birama pertama dengan suasana anggun melalui tiup kayu, kemudian dilanjutkan dengan 8 birama berikutnya dengan suasana khidmat melalui instrumen gesek, dan mencapai klimaks pada refrain dengan tutti yang menggelegar melalui tiup logam dan perkusi yang mampu memunculkan suasana heroik. Alhamdulillah, versi ini disetujui oleh Bung Karno.

1952

Soedjasmin, seorang pemimpin Korps Musik Kepolisian Negara yang tampil setiap upacara kenegaraan, atas inisiatifnya sendiri melakukan adaptasi penyederhanaan partitur atas garapan Cleber. Terutama pada bagian trumpet saat refrain yang sulit dimainkan oleh anggota korpsnya. Orkestrasi garapan Soedjasmin kemudian direkam oleh RRI Studio Jakarta. Astaga, Cleber sudah lembur lho ini, pak.. Kok diubah lagi..

1958

Melalui hasil kerja Panitia Indonesia Raya yang turut diundangkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 1958 Tentang Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya” dan Lembaran Negara nomor 72 Tahun 1958 tentang Lagu Kebangsaan “Indonesia Raya”, Lagu kebangsaan versi Cleber yang diadaptasi Soedjasmin-lah yang digunakan hingga saat ini. Diciptakan sebelum merdeka, diubah sedemikian rupa, disempurnakan oleh pengubah lagu dari dua bangsa yang berbeda. Sang pencipta, WR Soepratman, bahkan tidak mengetahui versi terakhir karena beliau wafat pada 17 Agustus 1938.

Begitulah proses kreatif  di balik penciptaan lagu “Indonesia Raya”. Peran composer sebagai perumus lagu, peran music director sebagai pengarah warna lagu, peran arranger sebagai penata aransemen lagu, peran player yang memainkan lagu (sampai harus ganti aransemen karena kesusahan), peran studio rekaman yang mengabadikan lagu, hingga peran media yang mendistribusikan lagu tentunya menjadi satu kesatuan kerjasama tim dalam mewujudkan lagu kebangsaan Indonesia yang begitu dibanggakan saat ini. Saya penasaran, zaman segitu ada yang suka cover lagunya gak ya? Hehehe..

Referensi:

Anthony C. Hutabarat: Meluruskan Sejarah dan Riwayat HIdup Wage Rudolf Soepratman: Pencipta Lagu Indonesia Raya (2001)

Benny Setiono: Tionghoa dalam Pusaran Politik (2003)

Bambang Sularto: Wage Rudolf Supratman (1985)

Bondan Winarno: Lagu Kebangsaan Indonesia Raya (2003)

Victorius Ganap: Sumbangsih Ilmu Pengetahuan Musik dalam Pembentukan Jatidiri Bangsa dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Seni Pertunukan ISI Yogyakarta (2008)

No more articles