A password will be e-mailed to you.
NIyJaT38x28

Buat saya, mendengar nama Dochi Sadega sekarang sih lebih akrab sebagai seorang street fashion enthusiast ya dibandingkan sebagai garda depan band pop-punk kebanggaan negeri, Pee Wee Gaskins. Punya koleksi street fashion yang cukup hype dengan harga yang lumayan mahal (cek aja IGnya kalo gak percaya), bikin Dochi jadi salah satu orang terpandang di kalangan “seberapa mahal outfit lo?.”

Untungnya (kalau memang bisa disebut keuntungan), Dochi sangat mendukung brand street fashion lokal. Lingkarannya juga gak main-main, Dochi lumayan deket dengan bryantbrian dan dr.tirta sebagai salah satu suhu di street culture Indonesia. Semakin melengkapi ini semua: Dochi juga punya brand fashion sendiri dengan pasar luas di kalangan anak muda.

Mati kita simpan dulu omongan soal Dochi atau street culture ini.

Saya mau cerita soal awal ketika PWG baru berdiri dulu, yaaaa circa 2009 ketika saya baru-baru masuk SMP. Waktu itu, selain pertentangan antara The Jak vs Viking yang lagi seru-serunya, pertentangan antara Party Dorks PWG dengan APWG (Anti-Pee Wee Gaskins) juga lagi rame-ramenya. Lebih rame dari konflik politik Pilpres tahun ini, beneran. Waktu itu Facebook, Twitter, dan Kaskus jadi sarana adu ketik (karena emang ngetik dan bukan ngomong) antara Party Dorks PWG dan APWG. Hujatan kedua kubu sering dilayangkan dalam bentuk bikin thread, cuitan, atau postingan di halaman facebook.

Saya ada di kubu mana? Ya tidak ada dong. Saya mah gak suka keributan, non-blok banget. Soekarno pasti bangga.

Terlepas dari pertentangan antara PWG dan APWG tadi, Pee Wee Gaskins menjadi salah satu band pop-punk yang berhasil bertahan di era melayu. Tahun 2009, genre melayu menghajar semua industri musik di kota-kota besar, termasuk ibukota, dan membuat label rekaman seketika berpaling menjadi melayusentris untuk meraup keuntungan. Untung, Pee Wee Gaskins masih bertahan dengan ke-‘punk’-annya.

Saya masih ingat sekali gimana temen-temen SMP saya terkena virus ‘band-bandan’ dan main di konser-konser kolektif ataupun konser-konser bayaran (iya, band mereka harus bayar ke penyelenggara untuk manggung di situ). Lagu yang dibawakan? Ya lagu-lagunya PWG dong!

Dengan sneaker kw ala Tampur (Taman Puring) dan Paul (Pasar Uler), kaos kaki tinggi, dipadu dengan kemeja flannel dan celana ¾ fido dido (gak fido dido juga sih), mereka nyanyiin lagu-lagu PWG sebagai lagu andalan mereka. Orang-orang dengan gaya begini-gini masih disebut “anak acara”, ciri khasnya persis kayak gitu. Oh, juga ditambah helm super nyolok karena ditempelin banyak stiker band dan festival.

Waktu itu, Saya sih masih melihat street fashion sebagai sesuatu yang aneh karena emang alay banget kelihatannya, atau mungkin karena si pemakainya aja yang gak bisa ((memadu-madan-kan)) ya?

Tapi, makin jauh kesini, saya semakin dewasa dan malahan menjadi salah satu pemerhati street culture. Setelah saya pahami, saya tidak bisa memungkiri bahwa eksistensi PWG menyumbang pengaruh yang cukup besar bagi perkembangan street culture di Indonesia. Pee Wee Gaskins sendiri cukup sering tampil sebagai band penghibur di pameran clothing di kota-kota besar. Sampai dulu kalau saya ke Tebet (pusat distro-distro di Jakarta) pasti ingetnya PWG (maupun Killing Me Inside). Ingat distro, ingat PWG. Kira-kira gitu narasinya.

Dua belas tahun setelah Pee Wee Gaskins berdiri, mereka berhasil mengedukasi remaja-remaja Indonesia mengenai street culture:  bahwa sebenarnya subkultur ini tidak hanya soal “Seberapa Mahal Outfit Lo?” dengan brand-brand mahal seperti Supreme, Bape, Stussy, maupun Undefeated, melainkan lebih kepada sesuatu yang esensial seperti selera musik, gaya berpakaian, dan kehidupan sehari-hari.

Kami persembahkan Ruang Ngibul episode delapan bersama Pee Wee Gaskins.

No more articles