A password will be e-mailed to you.

Hilangnya MTV membuat tak ada lagi polarisasi media pendongkrak popularitas untuk musisi. Terlebih lagi, digitalisasi media begitu memperkaya masyarakat (yang terhubung internet tentu saja) dengan informasinya yang bersifat global, tidak ada batasan dan tidak ada perantara. Tiap minggu entah bagaimana terus bermunculan musisi baru, seleb internet baru, band baru, dan segala kebaruan di belantika musik dalam negeri.

Terlalu banyak nama-nama baru yang belom sempat didengar karyanya, eh udah muncul lagi nama lain yang baru. Betapa beragamnya.

Dari tumpukan karya baru berkualitas itu, ada satu nama yang mencuri perhatian saya: sebuah band dari Samarinda bernama Murphy Radio.

Beberapa saat yang lalu, Murphy Radio meluncurkan albumnya yang berisi 10 lagu unggulan. Album Self-Titled ini diproduksi dalam naungan aseeeeng, label indie Singapura bernama An ATMOS Initiative Karena saya orang sibuk, dalam tulisan ini saya hanya akan membahas dua lagu kunci yang membuat saya mau-maunya nonton penampilan langsung mereka di kawasan Kemang, Jakarta, beberapa waktu silam.

Lagu pertama yang saya dengar itu ialah “Sports Between Trencheslewat klip video mereka di YouTube. Dengan pace lagu yang sporty sekali seperti judulnya, lagu ini sukses membuat saya ketagihan dan penasaran mendengarkan lagu-lagu lainnya.

Dengan porsi lirik yang tidak banyak, album ini cukup asik menjadi teman saya bekerja sebagai tukang bikin proposal. Dengan pintu gerbang “Sports Between Trenches”, saya kemudian dipertemukan dengan tembang fenomenal berjudul “Graduation Song”: sebuah lagu tentang momentum kelulusan.

Sepertinya sudah lama juga tak lahir lagu-lagu yang bersifat momentum kelulusan seperti ini. Meski tak akan pernah menggeser kedudukan “Ingatlah Hari” ini milik Project Pop dan “Sebuah Kisah Klasik” punya Sheila On 7, paling tidak “Graduation Song” punya posisi yang menarik di deretan lagu untuk kelulusan. Cucok didendangkan saat prom night sembari berdansa dengan cinta lokasi.

Komposisi “Graduation Song” diawali dengan drum macak soundcheck tak beraturan semacam pertanda, Ini anak kelas 12 akhirnya naik panggung. Di saat-saat seperti ini, anak kelas 12 dan 11 akan maju persis ke depan panggung meski tak berbaur. Namun, mereka secara seksama ikut menyaksikan. Anak kelas 10 sebagai panitia hanya bisa menyaksikan kakak kelas favoritnya dari jauh sambil meremas tangan teman sebelahnya.

Murphy Radio lanjut bercerita dengan gitar tinat-tinut dan drum ciamik yang bertaburan kesana kemari membawa pendengarnya ke satu ruang lain di masa lampau. Menuju ending, lagu masuk ke dalam bagian lirik sebagai anthem kelulusan bernuansa putih-abu. Lirik yang apabila dinyanyikan bersama, maka akan timbul rasa haru yang berlebih: mari membayangkan lagu ini didengarkan sambil bergandengan dengan teman sebaya, dengan gebetan yang tak kunjung ditembak, dan dengan pacar yang akan segera berpisah karena beda kampus.

“How can we get thru it all.. with a long enough time?

No one can refuse a separation!

And Whatever will happen now, or hereafter, don’t close your eyes!”

Boom. Deras mata penuh kaca, jari-jari menyapu air mata, pinjam-pinjam pundak teman tuk menahan derasnya haru perpisahan. Akhir lagu diisi oleh repetisi yang perlahan menghilang sebagai ilustrasi malam itu memang takkan menghilang sepenuhnya karena terus menggaung hingga kini dan nanti. Terlalu sentimentil memang, menarik kerah kita-kita kembali ke ujung masa kejayaan sebelum melangkah ke anak tangga selanjutnya.

Ilustrasi di atas adalah representasi saya sendiri atas lagu ini mengingat melankolia yang tak terbendung saat pertama kali mendengarkan “Graduation Song” dan menyaksikan penampilan langsungnya.

Murphy Radio mampu mengisi akhir tahun 2018 dengan album yang menarik bersamaan dengan wave skena indie yang sedang deras di Indonesia. Dengarkan album Self-Titled Murphy Radio di kanal digital dan mari order albem fisiknya! jangan lewati satupun lagunya karena ada sepuluh lagu tanpa cela yang disajikan.

Sekarang, izinkan saya mengingat remasan tangan gebetan saya di masa SMA dulu.

*puter lagu “Graduation Song”*

No more articles