A password will be e-mailed to you.

“Apakah kamu mau meneruskan indie-mu setelah menikah dan punya anak?”

Di atas adalah pertanyaan yang selalu orang lain lemparkan kepada saya sebelum saya menikah.

Saya “kenal dekat” dengan istri saya satu tahun lebih dulu daripada saya gabung dengan Olski. Iya, kami memang salah satu pasangan yang memutuskan untuk tidak resmi “pacaran”, tapi niatnya mau langsun gmenikah. Ketika saya akhirnya bergabung dengan Olski setahun kemudian, banyak hal yang harus kami berdua lewati, terutama soal pengaturan jadwal pacaran (yang kami tidak pacaran lho) dan ngindie. Apalagi pada masa padatnya panggung kisaran tahun 2014-2015 karena waktu itu Olski memang lebih gencar untuk promo dan menyikat panggung apapun. Ya biasa lah, polemik pacaran yang anda-anda semua alami juga terjadi kok di hubungan saya. Mau anak band atau anak juragan bengkoang, saya kira permasalahan hubungannya akan tetap sama. Ini pun kalau Anda punya pacar, ya. No offense lho, sekadar mengingatkan.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya saya memutuskan menikah pada Agustus 2017 dan diberi momongan 10 bulan berselang. Cukup tokcer lah.
Pertanyaan selanjutnya, lalu Olski bagaimana?

Ya gak gimana-gimana. Masih jalan sampai sekarang. Alhamdulillah, semakin terkenal kayaknya yaa, hehehe.. (congkak boleh dong, baca artikel mas diki kalo gak percaya!!)

Menjadi anak band dan seorang ayah. Cukup menyenangkan memiliki dua karakter ini. Saat weekdays, saya bekerja di salah satu media jogja agar tiap bulan asupan gizi anak dan belanja online istri terpenuhi dengan maksimal. Saat weekend biasanya, kalau laku, panggung hebat telah menanti.
Memang banyak hal yang akhirnya harus diubah dari konsekuensi status ini. Prioritas, manajemen waktu, dan cara bagaimana semua berjalan senormal mungkin adalah makanan sehari-hari saya. Tapi, saya yakinkan kepada Anda-Anda semua, sumpah, lebih menyenangkan setelah menikah daripada pacaran dulu! Beneran! (ini dalam konteks pengaturan jadwal saya yang masih tetap bermusyik lho, bukan soal yang lain~).
Awal menikah masih cukup aman. Kami masih berdua saja sehingga perlakuannya sama seperti pacaran (yang kami tidak pacaran lho). Semua mulai berubah saat tahu kalau istri positif hamil.

Semua perlakuan mulai diubah saat fase ini. Bagaimana Olski mengatur waktu latian biar saya tidak kemaleman pulang dan bagaimana saya manggung-langsung-pulang biar istri tidak sendirian di rumah adalah dua hal yang cukup sering terjadi sampai akhirnya Bumi (anakku) lahir.

Beruntungnya saya adalah, saya memiliki istri yang cukup kooperatif untuk diajak ngindie. Saling komunikasi terkait latian, share jadwal manggung, atau sesekali mengajak anak istri ke beberapa gigs menjadikan semuanya tetap nyaman dilakukan.

Keberuntungan kedua saya adalah bagaimana teman-teman Olski merespon perubahan status saya ini. Mereka menghargai setiap hal yang saya lakukan dan menjadikan Bumi keluarga baru di band ini. Dicki dan Dea selalu mencari jadwal latian yang sebisa mungkin tidak terlalu malam. Kalau manggung dan dijadikan headline, kami selalu minta untuk main pertama. Gimana, humble banget kan?

Keberuntungan terakhir saya adalah mempunyai pekerjaan di luar musik yang mendukung saya untuk tetap menjadi anak band. Dengan tiga alasan ini, saya sudah merasa menjadi orang paling beruntung di dunia.
Setelah saya menikah dan punya anak, ada juga yang berubah dari cara berkarya Olski, terutama saya. Seperti kata Mas Nihan dari Jono Terbakar bahwa di album awal beliau banyak keluar berpetualang sehingga jadilah lagu “Ranu Kumbolo”, “Tualang”, sampai “Atos”. Di album belakangan, justru anak dan istri adalah inspirasi utama karena alokasi waktu beliau paling banyak dihabiskan dengan mereka.

Hal tersebut juga terjadi dengan saya. Bocoran juga nih, tema album Olski selanjutnya juga mungkin akan berkisar tentang itu.
Banyak yang bertanya juga, apakah anak saya nanti juga akan menjadi anak band? Belum sampai situ sih mikirinnya. Saya malah berkeinginan Bumi menjadi atlet bulutangkis. Tapi ya mengalir saja sih, yang menjadi prioritas saya adalah mengajari anak sedari kecil dengan agama dan moral yang baik. Supaya saat dia mencari jati dirinya, dia memiliki pegangan untuk tetap menjadi baik walaupun di perjalanannya banyak hal buruk akan terjadi. Toh, andaikan nanti dia tetap menjadi anak band, dia juga harus punya moral dan attitude yang baik untuk diterima lingkungannya.

Menjadi ayah memberi warna baru bagi saya. Warna yang mungkin juga akan dirasakan oleh kalian para anak band. Bersiaplah akan waktu di mana kalian merasakan kemunculan dua pilihan hidup: mau menjadi ayah, atau menjadi anak indie?

Saya sih pilih dua-duanya.

No more articles