A password will be e-mailed to you.

Saya pertama kali menginjakan kaki di Yogyakarta sebagai siswa SMA pada tahun 2012.

Terlanjur menyerahkan harga diri pada musik metal, saya perlahan mencoba membaur dengan obrolan musik teman-teman di kelas. Apa yang sedang hangat? Bagaimana saya bisa mendapatkan asupan musik metal di sini? Apakah perbedaan musik metal dengan anak ayam? Lah kok jadi tebak-tebakan.

Setelah obral-obrol, kala itu saya mendapatkan asumsi bahwa FSTVLST, Shaggy Dog, dan Endank Soekamti adalah bahan perbincangan hangat. Yah tidak heran sih. Dengan kemampuan mobilisasi massa yang masif, ketiga band ini hampir selalu jadi highlight teman-teman saya.

Kesimpulaan saya saat itu: saya rasa tidak banyak remaja yang membicarakan tentang grup band metal di Jogja. Atau mungkin, sebagai pendatang saya memang masih belum mengenal kota ini saja.

Secercah harapan akan keinginan saya menikmati musik metal di Jogja muncul pada gelaran Kick Yogyakarta 2012. Dengan tajuk “The Parade”, acara ini mendatangkan Seringai, Death Vomit, dan Deadsquad. Di acara ini lah saya pertama kali menikmati musik metal secara langsung di Yogyakarta.

Saya masih ingat satu kejadian unik sesaat sebelum Seringai naik ke atas panggung. Sang MC berucap, “Yooo untuk para fans Captain Jack geser sebentar yoo bergantian dengan Serigala Militia (julukan fans Seringai) yang tua-tua”. Karena saya senang Seringai dan sudah tua (saya sudah SMA ya!), saya tidak bergeser. Saya adalah satu dari sekian pemuda yang semangat terjun ke Mosh Pit dan ikut dalam barisan Wall of Death.

Tahun-tahun berikutnya saya tidak banyak mendengar band metal asal Yogyakarta yang manggung. Perkembangan skena lebih didominasi band-band folk. Bisa dibilang, saya hampir tidak pernah lagi mendengar band metal asal Jogja. Ah, tapi biarin lah, mungkin memang Jogja bukan tempat yang manuvernya secepat di Jakarta. Semua hal berjalan lebih slow di sini. Saya nikmati saja.

Beberapa minggu yang lalu saya berkesempatan menjadi juru foto di salah satu event rokok. Ada 1 lineup yang sejak lama saya penasaran untuk melihatnya, band ini namanya Tiger Paw. Pertama kali mendengar Basro (vokalis Tiger Paw) melengking di atas panggung saya langsung teringat Arul Efansyah vokalis Power Metal. Detik itu juga saya percaya bahwa nafas musik metal di Jogja masih ada. Tiger Paw, menurut saya, menjadi sebuah oasis bagi pecinta musik metal di tengah banyaknya band Indie non-metal yang berkembang di Jogja. Permainan gitar, drum, dan bass ala speed metal mereka tunjukkan dengan ciamik diatas panggung lewat beberapa lagu seperti “JOKER (Jogja Kelitih Raya)”, “Horsepower”, dan “Dance in Hell”. Seperti biasa, ketika band-band metal manggung saya langsung nggak fokus moto. Bawaannya lebih pingin merhatiin mereka main aja. Lha pie, cah mosh pit je.

Dulu, Rock in Solo sempat berkembang pesat. Selain karena didukung penuh oleh pakde kita yang metal abis, Pak Jokowi, Rock in Solo juga menampung banyak pecinta aliran metal di wilayah Jogja dan Jawa Tengah. Namun, semenjak Rock in Solo vakum selama beberapa tahun ini, memang pecinta musik metal di Jogja tak banyak mendapat wadah untuk menyaksikan band metal favorit mereka. Bahkan sekarang, Hammersonic bisa dibilang menjadi satu-satunya festival musik metal yang ada di Indonesia setelah Rock in Solo dan Bandung Berisik vakum.

Untungnya, Jogja bisa sedikit bernafas lega. Pasalnya, Jogjarockarta kembali menghidupkan semangat para pecinta musik metal di Indonesia. Konser mereka yang digelar di Stadion Kridosono selama dua tahun terakhir mendatangkan lineup band metal seperti Power Metal, Burgerkill, Death Vomit dengan headline utama Dream Theater (2017) dan Megadeth (2018). Tentu saya kegirangan. Saya yakin pula, saya tidak kegirangan sendirian. Ketika saya menyaksikan Europe di Boyolali, saya melihat banyak rombongan berplat mobil K yang di bagian belakangnya bertuliskan “Ustad Rocker”. Hal ini membuktikan bahwa masyarat Jawa Tengah, khususnya Jogja, sangat haus akan festival band metal.

Harapan saya sebagai salah satu anak kosan di kota Jogja sih ya semoga dengan kemunculan Tiger Paw ini perkembangan musik metal di Jogja semakin tumbuh. Oh ya, saya juga akan dengan senang hati motoin band metal Jogja jikalau berkenan sekalian nambah kekancan hehehe. Salam metal dan jempol kejepit!

skena musik metal di yogyakarta hookspace musik jogja
No more articles