A password will be e-mailed to you.

Minggu pertama swakarantina. Seperti banyak orang lainnya yang memutuskan untuk berdiam diri dan #dirumahaja, saya memutuskan untuk melakukan segala aktivitas komunikasi dengan mengandalkan teknologi jejaring dan internet yang hampir terputus karena telat bayar. Setelah seminggu penuh berdiam diri karena kaget dengan segala kegilaan yang sedang terjadi ini, saya memutuskan untuk  ikut bicara. Bermodalkan tulisan yang ditulis dengan agak malu-malu, saya berusaha sebisa mungkin ikut andil agar pandemik tidak menghalang lajunya skena musik dimanapun, mengingat makanan kucing di kantor hampir habis.

Sebagai self-proclaimed media musik yang kerja serabutan seperti buruh-buruh modern lainnya, saya yang suka goler tetapi tidak galer (baca: garuk leher) di HOOKSpace juga merasakan betapa ngilunya imbas pandemik Corona untuk hidup selama beberapa bulan ke depan.

Dengan menyeruaknya isu Corona dan segala gembar-gembor selama kurang lebih dua minggu terakhir ini, beberapa acara musik baik yang intim maupun komunal, baik dari jamming di tempat ngopi sampai festival musik yang dihadiri ratusan ribu orang, terpaksa diundur sampai batas waktu yang belum ditentukan. Dilansir dari Market Watch (12/03), sebanyak kurang lebih 800 acara musik dengan gelaran outdoor festivals tahun ini terpaksa harus pamit.

Menurut Market Watch, hal ini menimbulkan gejolak kepedihan untuk segala penggiat musik di dunia. Mulai dari kru produksi, stage personnel, bahkan para pemain dalam bentuk band, solo, dan lain sebagainya pun harus menggigit jari. Lihat Elmo, sound engineer kesayangan di HOOKSpace, dia jadi harus menunda pernikahan akibat banyak kerjaan yang mendadak dibatalkan. Yah, walaupun faktor lainnya karena beda agama juga, sih. Eh, ngelantur. Balik ke topik ya.

Menilik dari ABC (19/03), sebanyak 190.000 orang di Australia pun harus kehilangan pekerjaan akibat mendadak terjerumusnya industri musik ini. Dalam tiga hari terakhir, self-report dari laman web ‘I Lost My Gig’ juga mencatat kerugian sebanyak $100 juta bagi small-to-medium music promotors. Bayangkan, $100juta bisa untuk ngasih makan berapa manusia dengan seporsi bakwan kawi?! Dalam tiga hari itu juga, sebanyak 350.000 gigs independen pun terpaksa harus batal.

“Ini adalah bencana finansial,” kata Gary Ryan, seorang jurnalis NME.  Menurut Gary, lewat wawancaranya dengan beberapa pengamat musik dunia, yang paling terdampak dari bencana ini adalah para penggiat musik berskala kecil maupun independen. Akibat penyakit ini, banyak bisnis musik independen yang harus mengencangkan ikat pinggang sampai tahun depan. Menurut RollingStones (11/03) juga, untuk mengasuransikan bisnis mereka pun adalah jalan buntu karena kerugian yang tidak dapat dibendung lagi.

Band-band yang ingin berkoneksi dengan para penikmatnya melalui tur juga terpaksa harus membatalkan. Padahal, touring merupakan jantung pergerakan dari sebuah band. Yang paling sedih, karena tidak adanya ruang non-virtual untuk para pelaku musik, maka mereka juga harus jauh dari para penggemarnya. Dengan adanya larangan penggerombolan secara publik maupun travelling dari satu tempat ke tempat lainnya, muncul pula larangan dari suami, bini, orang tua, adek, kakak, ojek langganan, sampai tetangga tercinta untuk tidak membakar uang dalam waktu dekat ini. Lha wong pemasukannya tidak ada kok. Sedih, kan.

Lalu, apa jadinya kehidupan tanpa industri musik? Mengingat rendahnya produktivitas industri musik akhir-akhir ini, saya pun juga jadi harap-harap cemas. Bisakah kita membangkitkan kembali kejayaan skena musik yang sedang ambles secara bersama-sama? Jawaban dari pertanyaan untuk saat ini adalah: semoga, ya. Mungkin kita tetap bisa menikmati konser online di media digital atau memberikan donasi lewat pembelian merchandise dan kriya para musisi dalam bentuk lainnya. Pula, ingat video viral beberapa hari lalu mengenai orang-orang di Italia yang bernyanyi bersama di beranda mereka walaupun sedang melakukan kerangkeng diri di rumah masing-masing? Semoga, dimanapun kita berada, kita tetap mengingat dan merayakan kehidupan lewat musik seperti orang-orang itu. Semoga kita tidak menjadi culas dan suram akibat pandemik ini, melainkan melawannya dengan penuh cinta dan alunan nada.

Akhir kata, sehat selalu dan jaga orang-orang disekitarmu, ya. Jangan lupa untuk tetap #dirumahaja. Salam SKJ.

 

 

 

 

 

 

Referensi:

Boland, Michaela. 2020. Coronavirus shuts down live music and arts industry, leaders call for $850m stimulus package. ABC. https://www.abc.net.au/news/2020-03-17/coronavirus-covid19-live-music-arts-funding-stimulus-package/12064320

Hissong, Samantha & Ethan Millman. 2020. ‘Everything Is in Chaos’: The Concert Business Stands to Lose Billions From Coronavirus. Rolling Stones. https://www.rollingstone.com/music/music-features/live-music-concerts-coronavirus-risks-losses-965482/

Ryan, Gary. 2020. “It will likely be a financial disaster”: how coronavirus could impact the music scene (and your festival plans) this summer. NME. https://www.nme.com/features/coronavirus-music-scene-festival-season-sxsw-glastonbury-2623587

Swartz, Jon. 2020. A summer without music? The show must go on for musicians despite coronavirus cancellations. Market Watch. https://www.marketwatch.com/story/a-summer-without-music-the-show-must-go-on-for-musicians-despite-coronavirus-cancellations-2020-03-12

No more articles