A password will be e-mailed to you.

Belum ada sekolah yang mengajarkan cara menjadi manager band yang baik.

Jika mengilas balik waktu saat ngeband di sekolah, manager band biasanya ‘hanya’ dilekatkan kepada tugas untuk booking studio latihan, mencari panggung, berhubungan dengan liaison officer sebuah event, atau sekadar bertugas sebagai kru.

Padahal, esensi manager band sebenarnya jauh lebih dalam. Mereka tidak berposisi sebagai suruhan saja, tetapi ‘partner’. Manager band punya posisi setara dengan band; berkolaborasi dan berjalan beriringan.

Tugas yang dikerjakan manager band umumnya meliputi pengelolaan karier sang artis, mengatur keuangan, mengonsep imej, promosi, membentuk sistem kerja, hingga networking.

Saat menemani band-nya live performance, manager utama pun umumnya melakukan koordinasi dengan road manager demi kelancaran penampilan.

Lebih dari itu, dunia digital ini menuntut aktivitas bisnis berorientasi data, sehingga pemahaman akan itu semua sangatlah krusial. Oleh karenanya, banyak perkara lain yang perlu dipelajari secara learning by doing.

Dengan fleksibilitas tersebut, kehidupan sehari-hari seorang manager jelas tidak cuma pergi ke headquarter atau kantor band yang ia pegang saja.

Menariknya, ada personil band yang merangkap sebagai manager; seperti Adam di Sheila on 7. Hal ini jelas sah, tentunya berdasarkan skill yang dimiliki dan kesepakatan dari band itu sendiri.

Jikalau tidak punya background sebagai musisi, manager band yang proper umumnya punya feeling mengenai potensi artis yang ia lihat. Hal tersebut sangat penting dalam konteks kita, mengingat industri musik Indonesia saat ini banyak melahirkan potensi besar.

Untuk bisa melakukan semua tugas di atas dengan baik, manager band setidaknya perlu menguasai beberapa atribut penting. Berikut ini, HOOKSpace bakal menjelaskannya secara lebih lanjut. Let’s go!

Networking

Skill networking, atau melebarkan jejaring sosial, sangat krusial dimiliki seorang manager band. Mereka lazimnya menjadi representasi sebuah band ketika berhubungan dengan event, label, grup musik lain, hingga media.

Semakin luas networking, semakin besar pula kesempatan tak terduga yang bisa didapatkan sebuah band.

Jika kamu baru ingin menjadi manager band, penting untuk memiliki koneksi dan hubungan baik terhadap grup musik. Tak harus band yang sudah mapan, ini bisa dimulai dari band teman dekatmu. Siapa tau kan, kamu dapat kesempatan?

Komunikatif dan Kooperatif

Pentingnya seorang manager band untuk komunikatif dan mudah diajak bekerja sama sangatlah ditekankan oleh Will Dzombak, manager dari rapper kenamaan Wiz Khalifa.

“Selalu berkomunikasi kepada tim. Tidak boleh ada ‘aku’, karena kita butuh tim demi mengerjakan semuanya. Kita juga tidak pernah tahu nasib orang ke depannya, jadi jangan bertindak seenaknya,” ucap Dzombak.

Dzombak mengaku bahwa role manager band saat ini jauh lebih dalam, yakni sebagai full-service management and production. Dengan masalah yang berbeda-beda dan njelimet, ia menekankan fleksibilitas kepada setiap klien untuk memecahkan tiap masalah.

“Pada akhirnya, musik bukanlah rocket science. Segala kerumitan kesepakatan di dalamnya hanya terjadi karena orang-orang di dalamnya,” ucap Dzombak.

“Jika semua orang di dalamnya (tim sebuah band) bisa diajak kerja sama, semuanya akan jauh lebih mudah,” tutup Dzombak.

Kedua hal di atas sangat penting bagi manajer band untuk jadi seorang pembelajar. Pasalnya, industri digital menuntut semua orang untuk cepat beradaptasi dengan perubahan.

Baca Juga: Pentingnya Komunikatif untuk Menjadi Session Player yang Laris

Pembaca Waktu yang Baik

“We know how to pull back and allow artists to blossom”.

Kutipan di atas diambil dari Rob Swerdlow, manager Michael Kiwanuka. Swerdlow mengatur waktu talent-nya mengenai kapan fokus berkarya dan kapan harus sering tampil di publik.

“Dengan memilah waktu yang tepat, manajer band bisa menjadi partner yang lebih baik. Kita bisa menemukan masalah secara lebih jelas dan menyelesaikannya dengan cepat,” ucap Swerdlow.

Swerdlow mengakui, membagi waktu untuk perform dan fokus produksi lagu itu kebetulan cocok dengan karakter artis yang ia handle. Jika di tempat lain ada ketidaksesuaian, itu sangat wajar.

Rob Swerdlow, manager dari Michael Kiwanuka
Rob Swerdlow, manager dari Michael Kiwanuka. Source: Music Business Worldwide.

Dalam poin ini, manajer band juga termasuk harus sabar. Pasalnya, pengembangan reputasi band/artis ke level yang lebih tinggi membutuhkan waktu. Hal tersebut diakui pula oleh Danny Rukasin, co-manager Billie Eilish.

“Artist development adalah pekerjaan berkesinambungan, layaknya menyusun puzzle tanpa henti,” kata Rukasin, dilansir dari Music Business Worldwide.

“Semua musisi memulai dari level yang sangat kecil, dan tantangannya adalah bagaimana untuk menjadi semakin besar. Ini tidak bisa dilakukan secara terburu-buru karena banyak tanggung jawab di dalamnya,” pungkas Rukasin.

Punya ‘Conviction’

Conviction, atau bisa disebut juga dengan keyakinan, adalah hal selanjutnya yang perlu dimiliki manager band.

Dalam poin ini, kita mungkin bisa belajar banyak dari John Janick, founder label indie Fueled by Ramen yang mengorbitkan Fall Out Boy, Panic! at The Disco, dan Paramore.

Dilansir dari Vanity, John Janick mengatakan bahwa manager band sebaiknya memilih bekerja sama dengan band yang dipercaya punya potensi, atau memiliki ‘feeling’ bahwa artis tersebut bisa naik di kemudian hari.

Ini mungkin menjadi kisah yang jamak di seluruh dunia (termasuk Indonesia), dimana seorang manager secara implisit punya bakat talent scouting.

Adanya conviction bisa menghindarkan seorang manager band dari bekerja secara serampangan.

“Manager band tak boleh bekerja seperti label pada masa lampau. Label zaman dulu hanya merekrut sebanyak mungkin artis, dan kemudian tinggal melihat mana yang works dan menguntungkan untuk bisnis mereka,” ungkap Janick.

Hal tersebut dinilainya sangat tidak efisien, serta bisa mengacaukan masa depan dari band yang bersangkutan.

Ketika sudah bekerja dengan sebuah band, menjaga kualitas hubungan adalah langkah berikutnya yang perlu dilakukan. Dari sanalah, segala macam perencanaan dan ide bisa tercetus lebih matang.

“Hal yang paling penting adalah menghabiskan banyak waktu bersama band yang di-handle, alih-alih cuma mempromosikan karya mereka secara membabi buta,” tutup Janick.

John Janick
John Janick, manager band yang mengorbitkan Fall Out Boy dan paramore. Source: Billboard.

Berkat cara kerja dan kesuksesannya, Janick mendapatkan pengakuan dari industri musik internasional. Sejak 2014 hingga 2018, ia mendapatkan Billboard Power 100; penghargaan yang diberikan untuk sosok yang sangat berpengaruh.

Menurut Rob Swerdlow, conviction juga berlaku kepada hal-hal yang berada di luar band; entah itu kesempatan bekerja sama dengan brand tertentu atau ketika harus mengajak partner lain untuk produksi lagu.

Jika ada tawaran masuk, manager harus selektif dan kritis demi yang terbaik untuk klien atau band-nya.

“Manajerial yang baik adalah berkata ‘iya’ kepada hal-hal yang diyakini benar, serta berkata ’tidak’ kepada banyak hal. ‘Iya’ dan ‘tidak’-nya ada pada komitmen dan hasrat kita (manager) agar talent bisa meluncurkan karya terbaik,” ucap Swerdlow di Music Business Worldwide.

Punya ‘Sense of Director’

Manajer band bisa memposisikan diri sebagai ‘director of everything’. Mereka perlu memberi saran tentang ide karya yang cocok untuk dibawakan band-nya, hingga meliputi business plan sang artis.

Director of Music

Jenis musik ‘pop’ terus berganti karena tren yang berubah pula. Manager terkadang dituntut memulai perundingan, apakah band harus berkarya mengikuti perkembangan atau menjaga karakternya.

Contoh kasusnya, Rob Swerdlow (manager) berani mengarahkan Michael Kiwanuka (talent) untuk tetap menjaga karakter.

“Di era dimana artis membutuhkan bantuan penulis lagu pop terkenal untuk produksi karya, saya menganjurkan Kiwanuka untuk membuat karyanya sendiri. Karyanya adalah suara dan spirit-nya sendiri,” lanjut Swerdlow.

Keputusan Swerdlow tersebut terbukti tepat. Album ketiga Kiwanuka yang bertajuk ‘KIWANUKA’ masuk nominasi best rock album di 63rd Grammy Award, serta memenangkan 2020 Mercury Prize.

Manager pun setidaknya juga punya ide tentang pengemasan album. Urutan lagu perlu disusun secara apik agar para pendengar bisa merasakan benang merah atau inti karya secara komprehen.

Director of Business

Sementara itu, industri musik juga merupakan dunia yang sangat terikat dengan bisnis.

Untuk bisa membawa band-nya survive, seorang manager perlu memiliki perencanaan bisnis yang matang; entah itu dalam jangka waktu bulanan atau tahunan.

Perencanaan bisnis untuk band meliputi banyak hal; mulai dari yang esensial seperti rilis karya, kerja-sama dengan distributor, penyelenggaraan tur, produksi merchandise, hingga keputusan berinvestasi.

Baca Juga: Apa Business Plan-mu Sebagai Musisi?

Mampu Memanfaatkan Data

Data yang bisa dimanfaatkan oleh manager band ada banyak bentuknya. Menurut Will Dzombak, se-sederhana apa yang dikatakan orang di luar sana juga bisa jadi data.

“Keluar ke jalan, mendengar apa yang diucapkan orang mengenai karya kita, adalah sesuatu yang sangat penting. Kita harus tahu apa yang membuat mereka excited,” ucap Dzombak.

It’s about living it and doing it and that’s really how you learn the most, as opposed to just hiding behind a computer all day,” ucapnya.

Metode tersebut dilakukan karena Dzombak tinggal di Pittsburgh, kota yang sangat jauh dari pusat industri musik di Amerika Serikat.

Selain data offline, data online pun tidak kalah krusial. Ketika lagu sudah didistribusikan ke platform streaming, manager harus terus update dengan memantau data karya band-nya.

Memantau data karya bisa dilakukan lewat banyak tools, seperti Spotify for Artist, YouTube Analytics, dan lain sebagainya, tergantung platform yang dipakai untuk distribusi.

“Data real-time membantu mengetahui perkembangan karya seorang artis. Dari sana, manager lebih mudah membuat strategi rilis karya baru, tur, dan distribusi musik,” ucap Brandon Goodman, co-manager Billie Eilish, dikutip dari Music Business Worldwide.

Pemanfaatan data ini bahkan menjadi salah satu kunci meroketnya popularitas Billie Eilish di industri musik dunia.

Danny Rukasin & Brandon Goodman, co-manager Billie Eilish
Danny Rukasin & Brandon Goodman, co-manager Billie Eilish. Source: Music Business Worldwide.

“Billie Eilish harus berkarier tiga setengah tahun sebelum meluncurkan album perdananya. Kami menunggu adanya demand yang sangat besar terlebih dahulu,” lanjut Goodman.

Ketika masa produksi karya, Goodman mengetahui bahwa Billie Eilish dan kakaknya, Finneas, lebih nyaman menulis lagu di rumahnya sendiri.

Tim manajemen pun membebaskannya, dan jadilah album ‘When We All Fall Asleep, Where Do We Go?’ (2019). Album itu kemudian merajai chart musik di seluruh dunia dalam waktu relatif singkat.

Goodman menambahkan bahwa pada era streaming seperti sekarang, peluncuran album belum tentu relevan terhadap pasar musik. Namun, jika diluncurkan pada saat yang tepat, album bisa menjadi semacam ‘playlist’ yang meledak dan digemari.

Berani Luncurkan Ide Gila

‘Ide gila’ ini utamanya berkaitan dengan pengemasan karya sang artis atau band.

Contohnya, sejak adanya pandemi pada 2020, hampir seluruh band dituntut banyak beradaptasi dengan banyak hal.

Mereka harus menerima kenyataan bahwa kesempatan live perform menurun drastis. Koneksi dengan para fans secara intim pun menguap begitu saja.

Melihat hal tersebut, ada cetusan ide tak biasa dari Will Dzombak selaku manager Wiz Khalifa. Ia membuat konser virtual reality (VR) bersama Oculus.

Konser VR tersebut menjadi event yang sangat interaktif. Penikmat musik didesain untuk merasakan riuhnya konser, tidak cuma seperti konser online biasa dimana penonton hanya diam di depan layar gadget.

Dalam konser VR itu, para penonton diwajibkan memakai headphone VR. Ketika mengenakannya, mereka akan saling mendengarkan suara sesama penonton, serasa sedang berdiri di tengah kerumunan.

Sebelum itu, Dzombak dan Khalifa juga menggelar konser virtual interaktif bersama Genius. Dalam konser tersebut, fans bisa ikut berbagai macam polling dan membeli fitur yang disediakan.

Polling yang tersedia di sana salah satunya adalah penentuan setlist dan lagu berikutnya yang harus dibawakan Khalifa.

Sedangkan, fitur-fitur yang dijual lebih berupa gimmick virtual. Dengan membayar USD 200 misalnya, fans bisa memberikan satu pertanyaan bebas kepada Khalifa.

Sebagai respons lanjutan, Dzombak dan Khalifa bahkan sedang merancang konsep ‘VR Concert’ berikutnya yang ia sebut ‘next level’.

Hal seperti itu amat menguntungkan dari sisi bisnis. Jika semakin banyak orang punya headphone VR, sang artis tinggal melakukan konser di satu tempat dan tak perlu keluar banyak biaya. Fans di berbagai belahan dunia pun bisa terhubung hanya dengan sambungan internet.

Pengetahuan Legal Formal

Berbicara konteks Indonesia, seorang manajer band baiknya memahami isu hukum. Ini menyangkut registrasi nama band sebagai sebuah merk dan mendaftarkan keseluruhan lagu di Hak Cipta.

Adapun pendaftaran nama band dan pencipta lagu dilakukan ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (Dirjen HAKI) yang berada di bawah otoritas Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Republik Indonesia.

Registrasi tersebut nantinya berpengaruh kepada royalti si-band atau artis. Royalti sendiri adalah salah satu sumber penghasilan; terutama jika lagunya digunakan untuk kepentingan komersial.

Legal formal juga mencakup kontrak internal personil band atau artisnya sendiri. Ini sangat penting demi tidak terjadi perpecahan dan perdebatan mengenai hak antar personil.

Praktek mengenai kontrak internal belakangan ini ikut berkembang. Pasalnya, sejak 2020, adanya pandemi membuat banyak musisi mengandalkan penghasilannya dari streaming. Kesepakatan mengenai pembagian ini perlu dituntaskan sedari awal.

Baca Juga: Royalti Sebagai Sumber Penghasilan Untuk Musisi di Era Digital

Itulah setidaknya delapan atribut yang perlu dimiliki oleh manager band versi HOOKSpace. Bagi yang berada di posisi merintis, kamu setidaknya tahu dulu, minimal menjadikan beberapa contoh riil di atas sebagai referensi.

Menurut kalian, adakah atribut lain yang tidak kalah pentingnya? Silakan tinggalkan jawabanmu di kolom komentar agar teman-teman lain bisa mendapatkan inspirasi yang tak kalah menarik.

No more articles