A password will be e-mailed to you.
u01cUvfZJLs

27 Maret 2018 – Umar Haen menjadi tamu keempat HOOKSpace di Saorsa. (redaksi)

Proses pemilihan talent untuk Sore di Saorsa biasanya berlangsung dengan langkah sederhana: diskusi lewat grup whatsapp. Alurnya pun tidak rumit. Seseorang mengajukan nama, orang yang lain berlomba-lomba memberikan komentar terhadap nama tersebut. Komentar kami utarakan tanpa tedeng aling-aling. Saya yakin, apabila salah satu dari kami membocorkan isi percakapan grup, kami bisa masuk penjara.

Kami sadar penuh pemahaman kami atas musik sangatlah terbatas. Proses kuratorial kami lakukan semata-mata agar musisi yang kami mintai tolong untuk program bulanan ini adalah musisi yang kami nikmati. Tidak mungkin keringat dalam proses merumuskan, merekam, dan menyunting habis hanya demi sesuatu yang tidak kami sukai, bukan?

Umar Haen bukanlah pengecualian.

Saat Amin pertama kali melempar wacana merekam Umar Haen, kami skeptis dengan alasan logis: nama.

U-Mar-haen. nama panggung ini berat, berat sekali. Berani benar dia menggabungkan sebuah paham kontroversial dengan nama panglima besar sekaligus khalifah kedua dalam sejarah islam. Apakah Amin mau program lucu, imut dan sans macam Sore di Saorsa dibubarkan ormas?

Atas nama sportifitas, kami memutuskan bertemu. Diskusi ini harus dibawa ke dunia nyata. Kamis malam, kami menjadikan kantor sebagai tempat berserikat, berkumpul, dan menyatakan pendapat. “Kantor” di sini maksudnya adalah rumah kos tempat Amin tinggal. Tenang, kami belum punya kantor. Saya harus tegaskan bahwa kemiskinan masih setia menghinggapi kami.

Kami putar semua lagu Umar yang bisa kami dengar. “Di Jogja Kita Belajar”, “Kisah Tentang Baju”, “Tentang Generasi Kita”, sampai “Kisah Kampungku” mengiringi diskusi.

Secara pribadi, “Di Jogja Kita Belajar” langsung mencuri perhatian saya. Anjir, masuk banget! Bagi sebagian orang yang memutuskan mengembangkan diri di Jogja sebagai anak rantauan, lirik “..sewu dadi banyu” dan “gemar mengutip si kumis tebal..” adalah gambaran besar proses hidup. Lagu ini secara utuh menjelaskan sebuah jalan hidup anak rantau di kumpulan pergaulan tertentu. Tidak semua anak rantau seperti itu, tapi bagi sebagian yang memang seperti itu, termasuk saya, liriknya terasa dekat.

Berganti lagu demi lagu, saya haqqul yaqin Umar memilih dengan cermat isu-isu yang dekat dengannya. Liriknya terasa jujur sekali. Sebagai media pencinta orang jujur (selain gif kocak dan selebgram), HOOKSpace mengetuk palu setuju untuk merekam karya Umar.

Prejengan unik, terutama celana gombor sarat akan kenyamanan itu, juga mencuri fokus kami. Mengapa dia memilih celana gombor dibanding jeans? Mengapa memilih memakai topi fedora (eh itu topi fedora bukan, sih?) dibandingkan topi petani? Mengapa memakai kacamata padahal tidak minus? Mengapa Umar Haen dan bukan Umar Tabak atau Umar cella Zalianty? Saya lupa pertanyaan itu akan dijawab Umar atau tidak, coba tonton videonya dulu.

Selamat datang di Saorsa episode 4, kami persembahkan: Umar Haen.

Subscribe
No more articles