A password will be e-mailed to you.
Hp5PpqJ_8Vg

Tahun lalu saya bertemu pertama kali dengan Oom Leo di sebuah Kedutaan Besar milik Bekasi. Dari perbincangan ngalor-ngidul tersebut, saya mengamini satu hal: band dari Jakarta mempunyai keunggulan apabila menciptakan karya berdasarkan permasalahan sosial dari band-band kota lain. Jakarta sebagai pusaran konflik, atau, mengutip ucapan beliau, “semua masalah tuh ada di sini”, membuat para musisi mendapatkan amunisi berkarya isu sosial yang komplit.

Saya selalu percaya bahwa membuat karya berdasarkan peristiwa yang “dekat” dengan kita akan otomatis membawa energi lebih pada karya tersebut. Kata “dekat” di sini saya terjemahkan sebagai: 1) dalam arti jarak, artinya permasalahan tersebut secara geografis dekat, dan 2) sebagai sebuah hal yang sangat kita perhatikan, kita percayai, dan kita gali. Riset ini bisa dilakukan dengan cara apa pun.

Semenjana mempunyai kedua arti “dekat” tersebut.

Liriknya sangat positif dan persuasif di saat yang bersamaan. Ada satu lagu berjudul “Jakarta” yang dikemas sebagai kota yang menyenangkan dengan segala keterbatasannya (atau ketidakterbatasannya). Ada lagu lain berjudul “Tujuannya” (yang biasa dibawakan secara medley dengan lagu “Front Pembela Indonesia”) bercerita tentang keberagaman dan toleransi, khususnya berkaca pada dampak pemilihan gubernur Jakarta tempo hari. Ada lagu berjudul “Maspram” yang bercerita tentang idola mereka, Pramoedya Ananta Toer (HAYO SIAPA YANG MASIH MAU BECANDAIN NAMBAHIN “AND TRAVEL”???). Semua lagu terasa sangat nyata, terasa sangat jujur, dan terasa sangat dekat.

Lalu harmonisasi vokalnya. Wah. Untuk yang satu ini, silahkan rasakan sendiri. Selamat menyaksikan Sore di Saorsa episode tujuh, kami persembahkan: Semenjana.

 

No more articles