A password will be e-mailed to you.

Lumayan banyak selentingan yang beredar kalau sumber penghasilan dari musik itu terbatas di live performance saja.

Di Indonesia, pemasukan dari live performance memang masih jadi yang utama. Akan tetapi, sejak awal 2020, adanya pandemi bikin semuanya harus putar otak karena banyak banget event yang di-cancel.

Belajar dari Pomplamoose (grup band/duo asal Amerika Serikat), mereka bisa tetap eksis dan mapan berkat pemanfaatan streamline digital.

Secara blak-blakan, mereka sudah lama membatasi main live. Selain lebih fokus produksi cover lagu di studio rekaman, Jack Conte (si personil cowok) juga gak punya banyak waktu karena harus kerja kantoran tiap weekdays.

Homebase Pomplamoose dan kantor Jack Conte bahkan terpisah jarak yang sangat jauh. Oleh karenanya, inisiatif membuka ladang uang dengan cara baru adalah hal terbaik yang bisa dilakukan.

Menurut Conte, ada dua hal yang bisa dieksplor buat sumber penghasilan tambahan musisi di era digital ini. Pertama adalah streaming, dan yang kedua ialah membership.

Ide utamanya: “(1) Kalau karyamu bisa dijangkau banyak orang lewat platform streaming, serta (2) ingin memperkuat kualitas hubungan dengan fans, kenapa ga fokus aja sekalian di situ? Bukankah kualitas semacam itu berperan besar terhadap tambahan pemasukan?”

Berangkat dari situ, strategi utama Pomplamoose adalah promosi untuk menaikkan jumlah stream, serta memaksimalkan paket membership untuk fans. Penjelasannya, kamu bisa tonton video mereka di bawah.

Sumber Penghasilan Musik yang Bisa Didapatkan Anak Band
Image source: Pomplamoose YouTube Channel.

Sepintas, itu adalah sumber penghasilan musik yang belum umum, apalagi di Indonesia. Secara, namanya musisi kan, lumrahnya main di depan orang banyak.

Lebih lagi jika penggemarmu belum banyak. Bertumpu kepada revenue digital bukanlah keputusan terbaik.

Namun, tak ada salahnya konsep tersebut diketahui dulu agar suatu saat bandmu bisa lebih cuan.

Berikut ini, HOOKSpace bakal memaparkan setidaknya delapan sumber penghasilan musik yang bisa didapatkan anak band; baik dari aspek digital maupun yang merembet ke non-digital. Check this out!

Streaming

Streaming musik
Source: Pixabay.

Pendapatan dari sini sangat berkaitan dengan jumlah stream di Spotify, Apple Music, dan aplikasi streaming musik populer lainnya; ditambah dengan digital download.

Mechanical Royalty

Musisi akan mendapatkan fraksi uang setiap lagunya diputar, atau istilahnya mechanical royaltiy.

Pada prakteknya, pemberian mechanical royalty dikembalikan kepada kebijakan aplikasi masing-masing.

Dikutip dari Free Your Music, Spotify akan membayar USD 1 jika kamu mencapai sekitar 229 streams. Akan tetapi, mengutip dari Tunecore, USD 1 bisa didapatkan kurang dari 229 streams jika lagumu lebih banyak didengarkan oleh pengguna premium daripada user gratisan.

Apple Music pun demikian. Mereka menghasilkan mechanical royalty yang berbeda antara pengguna paket individual, family, dan student.

Rincian Penghasilan per Stream di Masing-Masing Platform Musik
Source: Free Your Music

Kebijakan masing-masing platform streaming tersebut sebenarnya masih memicu perdebatan. Selain terlalu sulit untuk mendapatkan penghasilan di sini, banyak yang mengeluh karena masih harus dipotong oleh label.

Oleh karenanya, kamu disarankan mengunggah karya ke platform streaming secara mandiri. Ini dilakukan agar nantinya tidak kena potongan dari pihak ketiga.

Tetap ingatlah juga bahwa sistem royalti platform streaming adalah sesuatu yang tidak bisa kita kendalikan. Kamu hanya bisa mengendalikan apa yang bisa dikendalikan, salah satunya dengan produksi dan promosi karya semaksimal mungkin.

Berdasarkan laporan Digital Music News (2017), seorang musisi indie meraup royalti sebesar USD5.000 (Rp70 juta) dari lagunya yang diputar 4,2 juta kali. Royalti tersebut ia dapatkan secara bersih karena meng-upload karyanya secara mandiri.

Jika hasil karyamu ‘meledak’, at least kamu bisa berharap cuan meski persaingannya tetap berat. Maklum, lagumu bersanding dengan ribuan artis ternama dari seluruh dunia.

Intinya, usahakan dulu saja, siapa tau nanti bisa sampai sana. He he he.

Summary
Strength: Jangkauan pendengar yang luas, karena aplikasi streaming populer membuka layanannya di banyak negara.
Weakness: Pendapatan royalti yang kecil jika stream-nya tak seberapa.
Opportunity: Peluang mendapatkan banyak play jika lagunya punya daya tarik kuat serta sukses dengan upaya marketing-nya.
Threats: Persaingan yang terlampau berat karena ada ribuan rilisan baru tiap pekan.

Baca Juga: Cara Unggah Karya Musik Secara Mandiri ke Berbagai Platform Streaming Musik

Digital Download

Berdasarkan data Tunecore dari Copyright Royalty Board, jumlah yang didapatkan per digital download dari platform streaming musik adalah USD0,091 (Rp1.300).

Jika jumlah di atas dirasa terlalu sedikit, platform yang bisa dipakai untuk menjual karya secara digital adalah Bandcamp.

Lewat menjual digital download Bandcamp, kamu bisa lebih bebas untuk menjual karya dengan harga ‘layak’; at least untuk menutupi biaya produksi dulu.

Bandcamp hanya akan mengenakan pajak sebesar 10% dari nilai penjualan sang musisi. Lumayan, kan?

Berbicara konteks Indonesia, digital download sebenarnya lumayan menjanjikan jika berjalan dengan baik. Bukti nyatanya sudah terlihat di industri stand-up comedy.

Salah satu platform digital download yang paling terkenal adalah Comika. Di sana, ada sangat banyak katalog special show para komika; dan penjualannya bisa menghidupi si komika itu sendiri.

Kesuksesan tersebut sebenarnya bisa diadaptasi oleh musisi, khususnya yang juga ingin menjual konten spesial di luar musiknya.

Membership

Secara harfiah, membership ialah keanggotaan. Prakteknya, ini menjadi upaya musisi/band untuk melibatkan pendengar/fans dalam setiap tahap produksi karya.

Sebuah band sah-sah saja menjual paket berlangganan sebesar ratusan ribu rupiah, asalkan terdapat imbal balik menarik kepada yang bersedia membayar.

Salah satu tempat untuk membuka slot membership kepada fans adalah Patreon. Uniknya, Patreon adalah perusahaan platform membership yang didirikan oleh Jack Conte, salah satu personil Pomplamoose, di San Francisco, sejak 2013.

Lewat Patreon, sang artis bebas menentukan/membuat paket membership yang terjangkau untuk para fans-nya.

Contoh Kasus: Pomplamoose

Kita ambil contoh Pomplamoose. Mereka ‘menjual’ tiga package, yakni (1) Music + Community, (2) Producer Pack, serta (3) Name in The Credits. Masing-masing package dijual dengan harga berbeda.

Membership adalah sumber penghasilan musik
Source: Pomplamoose Patreon Page.

Package pertama di sana (Music + Community) adalah yang termurah (USD 5) dengan fitur basic. Adapun dua paket berikutnya semakin mahal, disertai fitur yang makin banyak pula. Fitur termahal biasanya diberi kuota; mempertimbangkan nilai specialty-nya.

Menurut mimin HOOKSpace, salah satu yang paling menarik dari membership Patreon-nya Pomplamoose adalah tergabung ke grup Discord mereka.

Dengan tergabung ke grup privat milik si-band, kita bisa langsung menyapa dan bertanya apa pun kepada sang artis. Dengan menyisihkan sedikit uang, fitur ini menarik sekaligus terjangkau, bukan?

Menariknya, Pomplamoose tak segan membuka data pelanggannya. Per Juli 2021, mereka punya 3.118 subscribers (patrons) dengan subscription yang berbeda-beda.

Dari sana, Pomplamoose memperlihatkan pertumbuhan penghasilan yang signifikan. Usai ‘cuma’ mencetak pendapatan USD 3 juta pada 2017, mereka bisa melipatgandakannya menjadi USD 89 juta pada 2020.

Angka di atas bahkan sudah cukup makmur untuk hidup di Negeri Paman Sam.

Contoh Kasus: Cobus Potgieter

Kita ambil contoh perorangan. Seorang drummer cover ternama di Youtube, Cobus Potgieter, juga punya sumber penghasilan musik dari membership. Ia mengiklankan dirinya di Patreon.

Salah satu sumber penghasilan musik Cobus berasal dari Patreon
Source: Cobus Potgieter Patreon Page.

Dia membuka banyak paket membership. Tak kalah menarik, Cobus memberikan fitur-fitur seperti giveaway merchandise, stik drum, snare drumhead, sesi coaching clinic one-on-one, bahkan sampai meng-invite sang member ke inner circlenya.

Contoh ini mungkin bisa mulai diterapkan untuk musisi di Indonesia, baik yang baru punya fanbase maupun yang sudah lumayan mapan.

Jualan membership seperti ini jelas sangat potensial untuk penghasilan bulanan. Selain band-nya punya uang tambahan untuk berkarya, fansnya pun akan senang karena berpeluang dilibatkan.

Summary
Strength: Engagement yang semakin kuat dengan pendengar/fans.
Weakness: (1) Barrier-to-entry yang rendah, sehingga siapa pun bisa mereplikasi fitur dan keuntungan yang ditawarkan kepada fans (2) Semakin sulit works jika kalah posisi tawar dengan band lainnya.
Opportunity: (1) Terbukanya ruang input kreatif dari para member (2) Perluasan jejaring distribusi karya (3) Potensi income tetap secara bulanan.
Threats: Jika semakin banyak band besar yang punya model membership, band rintisan/indie bisa jadi akan sulit bersaing.

Ads Revenue

Ads Revenue di Google AdSense

Ads revenue adalah sumber penghasilan yang didapatkan dari iklan. Musisi bisa dapat pemasukan jika channel YouTube, medsos, dan web-nya sudah meng-generate uang dari AdSense.

Sumber pemasukan lewat ads ini mungkin hampir mirip dengan streaming. Besar kecilnya tergantung kepada seberapa banyak orang menonton/melihat konten kita.

Salah satu hal terpenting untuk generate uang dari sini adalah pengetahuan mengenai algoritma medsos, mesin pencari, serta YouTube.

Intinya, kita perlu mengupayakan bagaimana caranya agar lebih mudah dicari dan dilihat orang. Hal itu sedikit banyak bisa membantu upaya distribusi digital karyamu.

Jika sudah punya posisi tawar yang cukup bagus, band-mu bisa juga mendapatkan endorse atau promosi produk; entah itu dari gear musik, alat rekaman, atau produk lain yang sekiranya berkaitan.

Baca Juga: Cara Membuat Video Musik yang Layak Tayang di YouTube

Live Performance

Live Performance
Source: Pixabay.

Off-Air

Tak bisa dipungkiri, kue besar sumber pendapatan musisi di Indonesia masih dari live performance. Entah itu tampil reguler di café, manggung di pensi, sampai dengan diundang ke festival besar.

Hal yang sama juga berlaku untuk penyanyi/artis solo, band, atau session player.

Kita pakai contoh dari yang terkecil hingga terbesar.

Salah satu band indie asal Jogja (yang tidak mau disebutkan namanya) bisa menghasilkan setidaknya tiga hingga lima juta rupiah per bulan. Jumlah itu didapatkan dari manggung setiap weekend.

Contoh terbesarnya, dilansir dari Business Insider, seorang pop star internasional sekaliber Taylor Swift mendapatkan rerata sembilan juta USD (Rp130 M) per satu show.

Jumlah itu masih terlampau tinggi jika dibandingkan dengan pemasukan streaming-nya, yang kira-kira ‘hanya’ USD400.000 (Rp5,7 M).

Intinya, mencari panggung berbayar adalah opsi terbaik. Terlebih, pendapatan dari streaming bisa sangat sedikit jumlahnya.

Buat yang sudah merindukan konser live, kita setidaknya masih bisa berharap banyak. Per 2021, kita bisa melihat Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa sudah menggelar event live musik pasca-pandemi.

Setelah ditelisik, angka vaksinasi COVID negara-negara tersebut sudah di atas 50%. Maklum ya, distribusi vaksin ke sana memang jauh lebih duluan ketimbang Indonesia.

Kita yang di Indonesia ini mudah-mudahan tinggal menunggu waktu saja. Kita perlu sedikit bersabar dan tetap menjaga kesehatan demi kembali manggung, atau nonton band kesayanganmu tampil.

Virtual

Sejak 2020, mayoritas musisi sayangnya sangat terpukul dengan adanya pandemi. Hal tersebut membuat event live lenyap secara mendadak.

Belakangan ini, ada banyak inisiatif berupa konser virtual/online, yang bisa dinikmati secara langsung di platform streaming.

Bahkan, ada juga musisi yang menyelenggarakan saweran online, atau crowdfunding. Mereka akan tampil di depan gadget, disiarkan lewat platform live stream seperti GoPlay, dan kemudian menyediakan link kepada penonton untuk menyumbangkan uang.

Konser Virtual

Sayangnya, animo konser virtual di Indonesia belum terlalu tinggi.

Alasan pertama, banyak orang yang lebih memilih menonton video musik dari YouTube alih-alih harus membayar. Kedua, gimmick konser virtual belum bisa sepenuhnya menggantikan vibe dari menonton artis kesayangan secara langsung.

Kita yang berada di Indonesia ini sepertinya masih butuh waktu untuk lebih akrab dengan event virtual musik live.

Baca Juga: Gimana Caranya Biar Laris Sebagai Session Player?

Music Producing

Music Producing

Pelaku musik tidak hanya yang bisa dilihat di atas panggung saja, tetapi juga yang ada di belakang layar.

Pekerjaan produksi musik ini bisa meliputi sangat banyak hal, mulai dari menciptakan lagu, menulis lirik, mengerjakan aransemen untuk live atau rekaman, bahkan sampai kepada post-producing seperti mixing dan mastering.

Jika kamu lebih suka bermain di lahan ini, lakukan saja. Toh, setiap lagu yang nantinya bakal rilis tetap masuk ke portfolio karyamu juga, kan?

Semakin banyak portfolio, semakin baik kualitas yang dihasilkan, semakin besar pula rate yang bisa kamu tetapkan kepada calon klien nanti.

Merchandise

Pepatah wirausaha mengatakan: semua akan jualan kaos pada waktunya.

Gak salah sih, asal diniatin. Lagipula kaos juga bisa jadi strong brand portfolio sekaligus alat marketing yang lumayan tahan lama.

Ketika lagi roadshow atau promosi lagu ke luar, bandmu bisa pakai merch buatan sendiri untuk mendapatkan awareness dari orang-orang yang melihat.

Intinya, biar gimana caranya, kamu/bandmu kelihatan meyakinkan.

Satu hal yang benar-benar penting di sini adalah desain. Maklum, ini tujuannya visual, jadi biar enak dilihat orang-orang. Kalo desainnya jelek, jangan-jangan nanti malah balik kelihatan kurang meyakinkan.

Pilih E-Commerce Termudah

Untuk mempermudah pencarian dan sistem penjualan, kamu bisa membuka official store di platform e-commerce. Pilihan tersebut terbilang aman dan tidak perlu repot lagi membuat sistem blog baru.

Hal tersebut sudah cukup lama dilakukan oleh banyak band Indonesia, salah satunya Hivi. Di sana, mereka rajin update stok merchnya, sesuai dengan album/lagu baru yang sedang mereka promosikan.

Sumber penghasilan Hivi diperoleh dari Toko Hivi
Source: Hivi Tokopedia Page.

Tak cuma itu, calon pembeli pun akan dimudahkan dengan adanya testimoni dari pembeli lain. Jika rating mencapai bintang lima, proses orang lain buat beli pun bisa cepat.

Beragam Cara Promosi

Cara mempromosikan dagangan merch pun sangat beragam. Paling sederhana, kamu bisa mulai posting dari media sosial band, yang diteruskan ke akun pribadi personil masing-masing.

Atau, kalau mau niat banget, kamu bisa lihat contoh promosi Dirty Loops.

Band modern funk asal Swedia itu bikin konten video catwalk berjudul Dirty Merch. Video promosi itu diperankan personilnya sendiri, yang memakai merch keluaran mereka.

By the way, Dirty Loops membuat website sendiri (dengan platform Shopify) untuk penjualan merch. Kelebihannya, mereka membuka shipping ke seluruh dunia, dengan beragam metode pembayaran yang diterima di hampir seluruh negara.

Ide Out of The Box

Selain album fisik, kaos, dan jenis pakaian lainnya, kamu mungkin bisa mencari ide merch yang sesuai dengan band image.

Dirty Loops, yang terkenal dengan lagu susah nan njelimet, merilis drum and bass books yang berisi partitur 24 lagunya. Tak ada yang mengerti lebih baik dari yang memainkannya sendiri, kan?

Bisnis merchandise Dirty Loops yang mencakup buku musik transkrip lagunya sendiri.
Source: Dirty Loops Official Web Store.

Kalau bandmu lekat banget sama persona nyeleneh, bisa juga bikin merch yang out of the box. The Lawrence Arms, band punk asal Amerika Serikat, bahkan mengeluarkan merch frisbee, bola, apron masak, celana boxer, sampai kotak es!

Sumber penghasilan musik The Lawrence Arms dari merchandise
Source: Merchnow.
Summary
Strength: Memperkuat portfolio brand, serta bisa jadi alat pendukung promosi.
Weakness: Beban biaya produksi yang belum tentu murah, atau dalam kata lain perlu expense terlebih dahulu
Opportunity: Sangat banyak bentuk dan macamnya, tak terbatas pakaian saja
Threats: (1) Kualitas barang belum tentu bagus, apalagi pekerjaan vendor tidak bisa diawasi sepenuhnya (2) Review negatif bisa sangat berdampak negatif kepada penjualan.

Licensing/Royalti Hak Cipta

Khusus sumber pemasukan musik yang satu ini, kita berbicara konteks Indonesia saja, ya.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah no. 56 Tahun 2021 (PP 56/2021), musisi diberikan perlindungan dan kepastian hukum mengenai hak ekonomi atas karya musiknya.

Dalam pasal ketiga, musisi (pencipta lagu, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait) bisa mendapatkan royalti jika lagunya dipergunakan pihak lain secara komersil.

Untuk bisa mendapatkan hak ekonomi seperti itu, lagumu perlu didaftarkan terlebih dahulu ke pusat data lagu dan musik, yang dikelola Direktorat Jenderal (Dirjen) Kekayaan Intelektual.

Nantinya, jika ada pihak lain yang ingin menggunakan karyamu secara komersial, mereka bakal meminta izin lisensi melalui LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional).

Selain itu, PP 56/2021 juga menetapkan aturan mengenai layanan dan tempat komersial yang perlu membayar royalti atas musik yang digunakan.

Beberapa tempat publik yang dikenakan tarif royalti atas musik yang diputarkan ialah café, restoran, bar, pameran/bazaar, bioskop, transportasi publik, bank, perkantoran, hotel, pusat rekreasi, karaoke, radio, televisi, hingga konser musik.

Mau tahu berapa rincian tarif royalti yang harus dibayar oleh tempat-tempat di atas? Silakan langsung klik link ini.

Jika memang musikmu sudah cukup populer dan akan digunakan secara komersil, kamu punya pilihan untuk mendapatkan pemasukan dari sini.

Akan tetapi, ada juga sih musisi dan pencipta lagu yang tidak mengambil performance royalty. Kalau kamu mengikhlaskan lagumu dipakai untuk komersil secara gratis, ya sudah. Keputusan dan semua alasan ada di tanganmu.

Baca Juga: 4 Cara Agar Lagu Bandmu Bisa Diputar di Radio

Investment

Investment

Masuk bagian terakhir, nih. HOOKSpace secara khusus mau ngebahas bahwa band juga bisa dapat tambahan pemasukan dari investasi.

Prinsip utama investasi adalah mengorbankan apa yang dimiliki sekarang untuk ‘kesenangan’ di kemudian hari.

Kamu setidaknya harus ada pendapatan dulu dari aktivitas bermusikmu. Sebagian kecil dari situ dialihkan ke pos investasi khusus, yang kemudian bisa dipilihkan ke beberapa instrumen investasi.

Pahami Profil Risiko

Pemilihan instrumen investasi disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing band/musisi.

Kalau punya profil risiko minim, kamu/bandmu bisa mempertimbangkan deposito, obligasi, reksa dana (pasar uang/pendapatan tetap), atau peer-to-peer (P2P) lending.

Sedangkan, jika profil risikomu tinggi dan punya timeframe jangka panjang (syukur-syukur umur bandmu juga panjang), bisa coba ke reksa dana saham atau langsung ke saham.

Selain dari capital market, investasi berupa tanah atau membuka lini usaha baru juga bisa; menyesuaikan skill dan manpower yang ada.

Namun, semuanya harus dipelajari dulu biar gak malah boncos. At least, kamu coba cari pengalaman investment dulu, minimal ngurus personal finance.

Ga lucu kan kalau malah rugi? Bukan kamu aja yang kena imbasnya, tapi juga anak band dan semua kru.

Baca Juga: Pentingnya Memikirkan Business Plan dan Investasi untuk Band-mu

Itulah tadi delapan sumber penghasilan dari musik yang bisa didapatkan oleh anak band atau musisi versi HOOKSpace.

Apakah kamu sudah punya pengalaman mendapatkan pemasukan lain selain dari delapan poin di atas? Ayo bagikan di kolom komentar, agar bisa jadi inspirasi buat yang lainnya!

Dari sumber pemasukan musik di atas, manakah yang sampai sekarang masih jadi revenue utama band kamu? Sudahkah mencoba merilis membership untuk teman-teman dan fans? Let’s discuss!

No more articles