A password will be e-mailed to you.

Menikmati konten musik sudah menjadi bagian dari keseharian kita. Namun, tahukah kamu bahwa tahapan produksi video yang kamu nikmati, terutama konser musik, tergolong cukup panjang dan berliku?

Tahapan produksi video musik secara garis besar terdiri dari (1) perencanaan, (2) eksekusi, (3) dan finalisasi.

Tahap perencanaan terdiri dari memilih, apakah kamu ingin produksi konser live atau showcase. Nantinya, masing-masing pilihan punya pendekatan yang sangat berbeda.

Berikutnya, eksekusi adalah proses merekam band atau artis yang kamu pilih, baik itu dari segi audio maupun visual. Kedua hal ini adalah nyawa dari kontenmu. Oleh karenanya, datanya harus bagus agar proses finalisasi bisa lebih sempurna.

Adapun tahap terakhir adalah finalisasi. Di sini, kamu akan melakukan editing video dan audio agar kontennya bisa dinikmati secara layak oleh banyak orang.

Setelah semua jadi, jangan lupa untuk meng-uploadnya ke YouTube.

Jika bisa membuatnya sebagus mungkin, kamu punya potensi menarik untuk ke depannya. Konten timeless semacam itu membuka potensi stream sampai kapan pun, yang berujung adanya (1) peluang kerja sama baru; sekaligus (2) pendapatan dari AdSense.

Itu semua baru ‘luaran’-nya saja. Berikut ini, HOOKSpace bakal mengajakmu membedah bagaimana cara membuat video musik yang layak tayang untuk YouTube.

Jenis Konser

Jenis konser yang bisa kamu pilih terbagi menjadi dua, yakni live dan showcase. Meski eksekusinya sama-sama merekam, pendekatannya sangat berbeda; terutama dari segi spontanitas dan konsep.

Live

Jika tertarik untuk memproduksi video konser live, dua hal di bawah ini sangat penting untuk dilakukan.

Buat Kerja Sama

Kamu bisa membuat proposal kerja sama dengan sebuah event untuk melakukan shooting performance band; entah itu sebagai media partner (mencakup event besar) atau atas nama perorangan (umumnya jika acaranya kecil).

HOOKSpace sendiri awalnya berinisiatif merekam event karena tak ingin sekadar barter di logo media partner.

“Kami ingin memberikan dampak kepada sebuah event dengan cara membuat sesuatu yang punya nilai jangka panjang. Ini juga bisa membuat event punya kesinambungan yang bagus,” ucap Faisal Amin, CEO dari HOOKSpace.

HOOKSpace sendiri sudah melakukan produksi video konser musik sejak 2016. Namun, video yang pertama diunggah ke YouTube baru terjadi sekitar tiga tahun setelahnya, yakni 2019.

Pilih Event dan Artis

Berhubung produksi video konser live tidak sepenuhnya by design, kamu harus memilih dua hal ini: (1) event yang menarik di sekitarmu; serta (2) band yang akan tampil.

Pastikan keduanya memiliki nilai jual yang menarik. Entah itu band yang lagunya didengarkan orang banyak, atau yang menurutmu punya potensi booming di masa depan.

Jika band yang kamu rekam bisa booming di masa mendatang, keuntungan bakal ada di tanganmu. Kamu akan dianggap sebagai salah satu pihak yang bisa menemukan ‘hidden gem’.

Jika sudah punya koneksi luas, kamu bahkan bisa saja kesampaian merekam performance artis top Indonesia, atau bahkan luar negeri.

Namun, jika baru memulai, kamu disarankan memulai merekam event-event kecil terlebih dahulu. Ingat, produksi semacam ini sangat mengutamakan proses. Semakin banyak jam terbang, semakin bagus produk video yang dihasilkan.

Denny Caknan di HOOKSpace

Showcase

Tahapan produksi video konser showcase beda jauh dengan live. Ini sangat memberatkan ke perancangan konsep; sehingga ada tuntutan untuk lebih menarik karena tidak ada crowd penonton.

Tema

Kemungkinan tema konser showcase sangatlah luas. Jika hanya merekam satu performer, kamu bisa mengonsep dan mengangkat sedemikian rupa apa yang jadi nilai plus dari band yang bersangkutan.

Jika merekam banyak performer, kamu kemungkinan bakal dituntut untuk menemukan benang merah dari tiap penampil.

HOOKSpace sendiri punya segmen YouTube yang bernama HOOKAround. Ini adalah seri video showcase yang mengangkat band indie dari tiap-tiap kota di Indonesia.

Produksi video showcase HOOKAround

Pada Juli 2021, HOOKAround secara ekslusif menampilkan tiga nama potensial dari Malang, yakni Oddwain, Sindy Amani, dan Atlesta.

Produksi tersebut dilakukan di Malang, tepat tiga bulan sebelum rilis di YouTube. Keputusan produksi di kota domisili band tersebut bisa jadi pilihan bagus, terutama dari segi anggaran dan pemilihan tempat.

Moodboard

Moodboard adalah alat/pakem visual yang bisa jadi gambaran proses produksi.

Dalam kasus HOOKAround, semuanya diserahkan kepada band yang bersangkutan. Mereka biasanya sudah jauh lebih tahu kebutuhan visualnya sendiri.

Moodboard sendiri salah satunya menyangkut referensi warna, entah itu set dan nuansa pakaian personil band-nya; bahkan menentukan color grading dalam post-production.

Moodboard produksi video HOOKAround

Penentuan Set

Pemilihan tempat rekaman bisa menjadi hal yang sangat fleksibel, entah kamu atau si-artis yang menentukan.

HOOKAround edisi Malang dilakukan di Kedai Botani. Pemilihannya dilakukan berkat kesepakatan antara ketiga artis yang berpartisipasi.

Kedai Botani dinilai bisa mengakomodasi perbedaan masing-masing ‘warna’ band yang tampil. Latar belakang putih dengan jendela yang agak besar bisa membuat pencahayaan lebih fleksibel.

Contohnya, ketika sesi Sindy Amani yang musiknya pop/RnB, kita bisa melihat suasana cerah siang hari. Visual cerah tersebut ditambah dengan pemilihan warna baju kuning yang bernuansa soft.

Sindy Amani di HOOKAround

Sedangkan, kala Oddwain tampil, nuansa gelap dari musik rock-nya bisa terasa dengan mengambil shoot pada malam hari.

Shooting

Koordinasi dengan Band Terkait

Khusus merekam konser live, koordinasi dengan band terkait sangatlah krusial. Entah itu kepada personil, manajer, atau roadman-nya, kamu harus meminta izin dan sampaikan semuanya secara jelas.

Ini adalah kunci untuk bisa mengakses lebih banyak aksi panggung musisi, bahkan hingga ke atas panggung.

Jika di tengah jalan tidak diperkenankan merekam, kamu harus menghormati keinginan dari band yang bersangkutan.

Atau, jika hanya boleh merekam penampilan band dari bawah panggung, kamu tidak perlu mempermasalahkannya.

Pada prinsipnya, dokumentasi konser live musti legal. Jangan sampai nantinya kamu unggah videonya ke YouTube, tapi di tengah jalan dapat ‘surat cinta’ dari artis atau pemilik hak publishing yang bersangkutan.

Peralatan

Alat tempur yang dibawa untuk merekam konser utamanya terbagi untuk kebutuhan video dan audio. Selain itu, satu hal yang tak kalah penting adalah alat komunikasi khusus di venue.

Kamera

Untuk merekam konser live, tim video HOOKSpace biasanya memakai DSLR Canon atau Sony Mirrorless, beserta tripod (untuk camera central) dan monopod (moving). Kamera tersebut cukup fleksibel untuk merekam gerakan eksplosif.

Berhubung live concert menuntut kamu untuk merekam banyak momen, jangan lupa membawa cadangan baterai dan memory card; setidaknya masing-masing tiga.

Sediakan juga satu harddisk eksternal dan laptop dengan kapasitas penyimpanan besar.

Dalam peralihan penampilan band, tim kamera punya waktu untuk memindahkan stok video ke laptop. Ini membuat pemakaian memory card kamera bisa tetap optimal.

Sedangkan, untuk konser showcase, kebutuhannya kira-kira serupa dengan kebutuhan konser virtual. Pilihan kameranya bisa dari DSLR hingga Sony X70; yang bisa dicolok ke charging station untuk durasi perekaman yang lama.

Baca Juga: Cara Membuat Konser Virtual Berkualitas

Audio

Untuk urusan ini, tim audio HOOKSpace biasanya cuma membawa kabel soundcard untuk menyambungkan hasil audio mixer ke laptop.

Audio yang digunakan tidak mentah dari hasil rekaman kamera. Data ini sangat krusial, terutama agar video produksinya terdengar ‘proper’.

Terkadang, audio engineer HOOKSpace juga membawa Zoom Stereo Recorder khusus untuk merekam crowd penonton.

Sementara itu, kebutuhan audio untuk konser showcase lagi-lagi sama dengan yang digunakan untuk konser virtual; dari mulai mixer hingga alat musiknya. Semua tinggal mengikuti kebutuhan band yang akan direkam.

Lain-lain

Jika budget produksinya cukup, divisi kamera biasanya membawa Handy Talkie (HT). Dengan keramaian penonton, HT sangat membantu untuk mengkomunikasikan kepada sesama tim; terutama perihal pengambilan stok gambar yang sudah ditentukan.

HT bisa jadi solusi kendala sinyal handphone yang sering hilang di tengah kerumunan; apalagi jika event-nya digelar indoor.

Teknis Perekaman

Video

Formasi yang digunakan HOOKSpace dalam merekam video konser live adalah empat hingga enam orang.

Jika menurunkan enam personil kamera, rinciannya adalah dua orang tepat di depan panggung, dua orang di kerumunan penonton, satu di master camera (FOH), dan satu lagi di atas panggung.

Dari masing-masing peran tersebut, semuanya punya tanggung jawab berbeda. Contohnya, satu camera person yang naik ke panggung akan merekam ekspresi personil band dengan lebih detil.

Lebih dari itu, dia juga akan merekam drum dari lebih dekat. Pemain drum biasanya jadi bagian yang kurang tersorot dalam tahapan produksi video seperti ini; karena letaknya yang ada di panggung bagian belakang.

Pengambilan ekspresi penonton juga jadi salah satu elemen penting. Penonton video nanti bakal lebih merasakan suasana ketika crowd sedang sing-along atau bergerak mengikuti suasana lagu.

Namun, jika hanya empat orang, campers HOOKSpace biasanya tidak naik ke atas panggung. Pengambilan gambar di area penonton hanya dilakukan satu orang.

“Salah satu tantangan konser live adalah penempatan master camera. Jika panggungnya sangat lebar, kita harus memposisikan kamera di area terbaik yang mencakup semuanya dari jauh,” ujar Hyoga D. Murti, tim cameramen HOOKSpace.

“Saat di tengah kerumunan, kami juga harus lebih pede mengambil gambar. Tak jarang, akan ada juga interaksi dengan mereka, bahkan sampai mengikuti gerakan koreo ‘ala-ala’ penonton di tengah lagu,” tambah Hyoga.

Sementara itu, dalam konser showcase, teknisnya tinggal mengikuti konsep dan set yang telah ditentukan. Tiap orang tetap bertanggung jawab dengan satu kamera dan posisinya masing-masing.

Audio

Ketika merekam konser live band terkenal (entah itu live ataupun showcase), audio engineer HOOKSpace biasanya tidak ikut campur dalam live mixing.

Band-band ternama biasanya sudah punya sound engineer sendiri, sehingga tim HOOKSpace tinggal menitip data sound dari mixer.

“Biasanya, titipan kepada sound engineer band terkait adalah jangan sampai audionya clipping saja, sih. Misalnya, kalau gain-nya ketinggian, ketika vokalis ambil nada tinggi, nanti hasilnya jadi pecah,” kata Elmo, audio engineer HOOKSpace.

“Sebenarnya, suara pecah semacam itu bisa diperbaiki pakai repairing tool. Tetapi, kami menghindari itu karena hasilnya tidak akan bagus,” lanjut Elmo.

Audio engineer HOOKSpace sendiri hampir selalu datang ke venue untuk melihat suasana penampilan band yang direkam. Ini sangat penting untuk pertimbangan pendekatan mixing dan mastering audio di tahap post-production.

Namun, jika memang dipasrahi untuk memegang live mixing, Elmo selaku audio engineer HOOKSpace bakal mendesain sound agar proses finalisasinya lebih mudah.

Tonton Juga: Elephant Kind Full Concert – Live at Psycholand 2019

Kendala Produksi

Kendala dalam tahapan produksi video konser live akan selalu ada. Dua yang beberapa kali dialami adalah terkait izin dan pencahayaan.

Izin dan Perbedaan Protokol

Meskipun sudah izin dengan manajer band dan panitia acara untuk merekam naik ke atas panggung, kamu bisa saja dibatasi waktu, atau bahkan dilarang, oleh petugas keamanan yang berjaga.

Pasalnya, prioritas petugas keamanan adalah menjaga area panggung se-steril mungkin. Mereka tentu meminimalisir segala macam risiko yang berpotensi terjadi.

Tantangan ini sebaiknya kamu pecahkan terlebih dulu sebelum acara dimulai; entah itu dengan membawa kertas MoU, atau membawa salah satu panitia acara untuk mendampingi izin ke petugas keamanan panggung.

Pencahayaan

Tantangan berikutnya adalah merekam konser live pada malam hari. Jika lighting panggungnya kurang bagus, data video yang akan diolah umumnya kurang maksimal.

Solusi khusus hal ini adalah persiapan matang untuk mengakali semuanya. Di sisi lain, membawa tim kamera dengan jam terbang tinggi seharusnya sudah cukup aman.

Post-Production

Mixing

Pada dasarnya, mixing adalah proses menggabungkan banyak track instrumen menjadi kesatuan yang utuh agar enak didengarkan.

Pengerjaan mixing menggunakan software Studio One dengan plugin equalizer Slate Digital dan Plugin Alliance. Ini adalah solusi murah (sebulan 7 USD) untuk kamu yang tidak mau pakai barang bajakan.

Menariknya, Plugin Alliance bisa dipakai untuk tiga komputer. Sedangkan, Slate Digital bisa dipakai di mana saja asalkan satu realtime/online user.

Identifikasi Data Audio

Sebelum mengolah data multi-track, audio/mixing engineer HOOKSpace terlebih dahulu mengidentifikasi jenis musik yang akan digarapnya.

“Jika musiknya lumayan keras seperti Feast, pendekatannya lebih agresif dengan low-mid yang agak bolong,” ujar Elmo, audio engineer HOOKSpace.

“Tapi, kalau lebih chill kaya Kunto Aji, aku nggak pengen instrumentasinya lebih bright dari vokalnya. Intinya, kalau mixing, gue lebih pilih keras atau lembut sekalian, ga tengah-tengah,” kata Elmo.

Berbicara referensi, Elmo sendiri punya pendekatan mixing bass yang cukup dominan. Ia terinspirasi audio live konser band asal Jepang favoritnya, L’arc-en-Ciel, yang punya karakter seperti itu.

Detil Setiap Lagu

Tahap awalnya, cari preset yang pas untuk keseluruhan. Mixing dilakukan dari lagu pertama hingga terakhir sampai terdengar enak.

Sesudahnya, kamu bisa melakukan cek satu per satu dan menggarap detil per lagu.

“Secara waktu pengerjaan mixing live durasi 45 menit, sehari mungkin bisa selesai dua atau tiga lagu. Setelah selesai semua, gue bakal tinggalin dulu sehari biar nggak bias sama hype-nya,” kata Elmo.

Adapun tantangan selain menggarap audio multi-tracknya adalah memanfaatkan noise dan crowd menjadi nilai tambah.

“Waktu produksi live audio Pamungkas yang I Love You But I Let You Go, sebenarnya itu ada bocoran suara kipas angin. Tapi, itu dibuat jadi seolah-olah ada suara hujan, dan jadinya pas sama suasana lagunya,” kata Elmo.

Intinya, mixing adalah tahapan produksi yang subyektif. Audio engineer dituntut untuk selalu eksplor. Musisi saat ini sudah jauh lebih melek dengan audio yang dihasilkan.

Jika tahapan ini bisa dikerjakan dengan baik, hasilnya kemungkinan besar akan disukai. Penikmat konser musik di YouTube sangat senang dengan hasil yang ‘proper’.

Editing

Seperti tahapan produksi video konser pada umumnya, editing video dibagi menjadi dua, yakni offline dan online.

Offline editing berfokus kepada cut to cut dan pemilihan scene. Sedangkan, online editing meliputi coloring, grading, pemberian efek dan transisi, penggantian audio guide ke final, hingga render.

Adapun software yang bisa digunakan tergantung kepada kebiasaan dan ketersediaanmu, entah itu Adobe Premiere Pro, Sony Vegas Pro, atau mungkin Apple iMovie.

Entah pemula atau tidak, kamu sepertinya perlu mempertimbangkan dua hal di bawah ini karena produksi video musik tergolong unik dan berbeda.

Referensi

Jika sudah mendapatkan data dari cameramen, kamu bisa melihat referensi banyak video konser live di YouTube jika ingin mencari ide tentang bagaimana mengolahnya.

Hal yang sama juga dilakukan dalam editing konser showcase. Kamu bisa melihat cut to cut per fase lagu serta coloring yang diberikan oleh video editornya.

Hidupkan Suasana

Sebenarnya, dengan mengambil shots kerumunan dan penonton, sebuah video konser musik bisa terasa lebih hidup. Namun, jika editornya tidak biasa, hasilnya malah bisa tidak optimal.

“Video musik itu secara teknik dan editing-nya gampang, tapi secara rasa itu susah,” ucap Amin, yang mengedit hampir seluruh video konser live HOOKSpace.

Tidak semua orang yang jago editing bisa enak pas ngedit video konser. Selera sangat menentukan. Waktu awal-awal, sempat merombak video yang sudah jadi karena vibe-nya nggak masuk,” lanjutnya.

Upload ke YouTube

Tahapan produksi video konser musik telah berakhir ketika kamu meng-uploadnya ke kanal YouTube-mu.

Di sini, hal penting yang perlu diperhatikan adalah penentuan tanggal rilis. Khusus konser live, sebaiknya tidak mengunggah terlalu lama dari hari-H event agar vibe-nya masih bisa dirasakan oleh penonton.

Hal yang sama juga berlaku untuk konser showcase. Tim kamu sebaiknya sudah dari jauh-jauh hari menentukan tanggal rilisnya; agar timeline pekerjaanmu yang lain tidak terganggu.

Tonton Juga: Reality Club – Live at Sky Avenue 2019

Berikut tadi adalah penjelasan singkat dari HOOKSpace mengenai cara membuat video musik konser hingga upload ke YouTube.

Jika ingin melihat berbagai macam video konser yang telah digarap HOOKSpace, kamu bisa langsung mengunjungi kanal YouTube kami dengan meng-klik link ini.

Jangan lupa tuliskan kesanmu mengenai video HOOKSpace di kolom komentar dan media sosial, ya! Video manakah yang jadi favoritmu?

No more articles