A password will be e-mailed to you.

Dahulu kala, ada sebuah tempat legendaris bernama Momento Café.

Saya bernyanyi secara reguler di tempat ini selama beberapa tahun. Di sana juga lah saya pertama kali bertemu dengan Om Tunggul Nuraga, ayah dari Cakka dan Elang Nuraga. Karena Om Tunggul sering berkunjung dan kenal dekat dengan pemilik kafe (pemilik kafe ini adalah juga sahabat saya banget), kami akhirnya berkenalan dan jadi sering mengobrol. Di beberapa kesempatan, Cakka pun suka ikut ayahnya ke Momento dan ikutan ngejam. Dari situ, saya jadi kenal Cakka juga.

Suatu hari, Om Tunggul menghubungi saya dan menanyakan apakah saya bersedia untuk bergabung dalam salah satu gig The Finest Tree sebagai penyanyi latar. Saya bingung. Saat itu saya belum pernah punya pengalaman menjadi penyanyi latar seorang diri, paling sedikit ya tiga orang. Maklum, lulusan paduan suara, cyin.

Kemudian saya ingat bahwa nama saya, Nilam, berarti “pemberani”. Tentu saya tidak ingin mempermalukan arti nama yang disematkan kepada saya tersebut. Akhirnya, saya menyanggupi tawaran Om Tunggul. Saya percaya melakukan hal yang saya cintai (menyanyi) dengan cara yang baru pasti akan sangat menyenangkan.

Oh ya, Nilam itu bukan pemberani ya artinya. Saya bercanda saja.

Benar saja, proses latihan dan gig berlangsung seru. Dari situ, saya jadi bisa mengenal Cakka, Elang, band pengiring, serta kru band-nya lebih jauh (yaiyalah masa gak kenalan!). Mereka adalah satu lingkaran besar sahabat karib yang baik hati, lucu, penuh hormat, dan menyenangkan. Relasi mereka seperti keluarga; dan segala tentang keluarga selalu menghangatkan hati saya.

Kehangatan ini berlangsung secara konsisten di gig-gig selanjutnya. Alhamdulillah performa saya dianggap meyakinkan sehingga dipanggil terus ya.

The Finest Tree selalu menyisipkan hal-hal baru, seperti aransemen dan musical gimmick, di setiap penampilannya. Mereka akan selalu mencoba pendekatan berbeda di setiap event. Tidak pernah membosankan dan jarang “persis kaset”. Saya tidak heran mengapa penggemar mereka, The Forester, selalu histeris setiap melihat The Finest Tree manggung, they’re that good!

Cakka dan Elang adalah tipe yang sangat hands-on dalam proses latihan. Mereka selalu punya ide baru untuk aransemen vokal latar. Cara penyampaiannya pun jelas. Mereka maunya apa karena tujuannya apa. Hal ini menurut saya penting bagi setiap band yang sedang berkarya: tujuan aransemen. Ra mung tuta-tuti tapi raono maksute.

Singing in the background mungkin bagi sebagian orang bukanlah gig yang menarik; khususnya bagi yang sudah terbiasa menikmati ‘lampu sorot’ sendiri sebagai vokalis atau front man. Ya, iyalah, biasanya seorang lead vocalist bisa dengan bebas mengekspresikan dirinya di atas panggung, mengungkapkan perasaan dan opini lewat lagu, unjuk kebolehan improvisasi vokal tanpa perlu membatasi diri; sambil setelahnya menikmati bonus berupa puja puji dari penonton. The feeling is like no other. That victorious satisfaction.

Namun, ternyata menjadi seorang penyanyi latar berjasa mengasah kemampuan bernyanyi saya lebih jauh. Contoh, kita harus bisa meng-compliment penampilan lead singer tanpa menjadi lebih menonjol dari mereka. Ini mudah diucapkan, jebul angel dilakoni. Kita sendiri yang harus menemukan cara agar ornamen vokal kita mencapai tingkat keseimbangan tertentu sehingga ketika audiens mendengarnya, “jatuhnya pas” dan nggak lebay. Skill ini berkaitan erat dengan yang namanya sight-reading; membaca dan/atau menampilkan pertunjukan musik tanpa persiapan.

Seringkali, jika kita menjadi penyanyi latar dari musisi yang terkenal atau “lumayan” terkenal, hanya akan ada satu atau dua kali latihan. Kalau ketemu musisi yang lagunya jarang kita dengar, bisa jadi kita harus pelajari (istilahnya ngulik) sendiri lagu-lagu miliknya dalam waktu singkat (seringkali lebih dari 5 lagu!), sembari merancang harmoni-harmoni vokal sendiri. Otomatis, kemampuan harmonisasi vokal (pecah suara) sangat penting dikuasai.

Sepanjang pengalaman saya menjadi penyanyi latar untuk berbagai musisi, belum pernah ada crew atau mentor yang memberikan sheet music berisi melodi-melodi harmonisasi khusus untuk penyanyi latar; kecuali ketika saya menjadi penyanyi latar bersama kelompok paduan suara dan orkestra, ya.

Untuk musisi-musisi muda Indonesia kebanggaanku, menurut saya pengalaman sebagai penyanyi latar sangat dibutuhkan. Bagi saya sih, ini bagi saya lho ya, pengalaman ini meningkatkan kapal musisi alias musicianship saya. Cielah garing.

Pertama, saya jadi bisa dengan mudah membuat melodi harmoni ketika menciptakan lagu sendiri (yang belum pernah di-produksi HAHAHAHA). Proses ini penting dalam mengasah aransemen vokal, bahkan kalau mau pakai fitur auto-tune pun tetap harus mengerti harmoni loh. Yakali asal nyenyong.

Kedua, dengan melihat dan menjadi bagian dalam proses latihan musisi utama, tentu banyak pelajaran yang bisa kita serap dari proses pengkaryaan penampilan. Pengetahuan kita akan rumitnya sebuah aransemen lagu akan terbuka. Proses pembuatan gimmick musikal dan non-musikal untuk penampilan di atas panggung juga dapat kita adopsi untuk gig kita sendiri nantinya.

Yang terpenting: saya menjadi lebih pede tampil di panggung besar dengan penonton yang teriak-teriak histeris semua. Ini sesuatu yang belum pernah saya alami sebelumnya sebagai penyanyi solo.

Saya juga sangat menikmati masa-masa pemilihan kostum panggung. Dressing-up always excites me. Belum lagi the network and the contact I made during my involvement with the artists. Melalui beberapa gig bersama The Finest Tree, saya jadi mendapatkan banyak tawaran manggung dari menjadi penyanyi latar, bintang tamu sebagai solois, sampai menyanyi di pernikahan. Rezeki memang sukanya hinggap kepada wanita solehah. 

I love being on the stage, performing. Whether as a solo or a backup, either way works for me. Karena saya tidak hanya bekerja sebagai entertainer (I have a day job in academic field), I am always longing to be out in the world using my voice; namun terkadang waktu yang saya miliki tidak cukup banyak untuk mengejar karir solo sebagai penyanyi. Jadi, kesempatan-kesempatan lain seperti menjadi penyanyi latar yang relatif seasonal dan bersifat one-off menjadi outlet yang sama memuaskannya bagi saya dalam hal menyalurkan passion di musik.

Pada prinsipnya, jika kita punya pikiran yang terbuka, kita akan bisa belajar dari segala hal baru yang kita jalani. There will only be good things coming out of a new experience if we are willing to learn.

No more articles