A password will be e-mailed to you.

“Semua orang akan suka k-pop pada waktunya”

Mungkin diantara kalian pasti pernah mendengar kalimat tersebut. Sudah seperti tahap kehidupan yang harus dilalui sebagai manusia saja. Tidak bisa dipungkiri, k-pop merupakan salah satu jenis musik yang pasti pernah kalian dengar walaupun hanya “blackpink in your area!”. Apalagi saat ini k-pop sudah menjamah kalangan bocil-bocil bahkan ibu-ibu karena ketularan anaknya. Seperti kalimat di atas, tentu saja aku pun awalnya menyangkal, tapi ternyata saat ini aku bahkan menulis tentang menjadi fans k-pop.

Entah takdir macam apa yang akhirnya mempertemukanku dengan dunia k-pop. Salah satu kawanku pernah berkata, “aku suka k-pop karena lagi patah hati”. Tidak, aku sedang tidak patah hati, lebih tepatnya sedang kesepian. Iya, sama menyedihkannya dengan patah hati. Singkat cerita, situasi tertentu mengantarkanku untuk mendengar sekaligus menonton MV SEVENTEEN “Snapshoot”. Lalu batinku berkata “hm asik juga lagunya”. Sampai saat itu, stigma yang melekat di kepalaku tentang lagu k-pop adalah lagu yang berisik, EDM, yang penting kenceng, yang penting pumping, yang penting catchy, dan aku sama sekali tidak suka dengan tipe lagu seperti itu. Kebetulan lagu “Snapshoot” jauh dari stigma itu dan sejak itulah aku mulai mengarungi dunia SEVENTEEN dengan 13 manusia di dalamnya.

Eitss, tidak, tidak secepat dan semudah itu aku jatuh pada boyband satu ini. Pada saat itu, kawanku kemudian merekomendasikan beberapa reality show boyband SEVENTEEN ini. Dari situlah aku perlahan mulai terkesima lalu tersadar dengan hal-hal kecil yang dimiliki oleh mereka, yang ternyata selama ini tidak aku miliki dan sadari, yaitu apresiasi dan support terhadap diri sendiri maupun orang lain. Kalimat-kalimat klise seperti “It’s okay, you did a great job”, “Thanks for your hardwork today”, “Don’t underestimate yourself, we’re gonna make it together”, “It’s okay, at least you’ve tried”, “Great effort, everyone”, sering mereka lontarkan kepada sesama dan diri mereka sendiri. Then I’m realized that I’m lack of it. Aku tidak pernah menyangka bahwa kalimat klise semacam itu bisa sangat powerfull dan berdampak pada bagaimana kita berpikir dan bersikap. Aku pikir, betapa konyolnya ketika hal kecil untuk sekedar bisa menghargai diri sendiri saja ternyata kutemukan di sebuah boyband k-pop yang bernama SEVENTEEN.

Semakin lama, aku pun mulai mempelajari dan memahami apa itu budaya k-pop dengan perspektif yang lebih luas. Tanpa dipungkiri pula, muncul perasaan dilema. Budaya k-pop yang sangat erat kaitannya dengan stigma negatif sebagai fans maupun secara industrial. Bagaimana industri k-pop bekerja, bagaimana dampak yang terjadi dengan adanya budaya k-pop, seperti munculnya beauty standards tertentu. Embel-embel negatif pun disematkan pada budaya k-pop, yang mungkin beberapa dari kita pernah dengar, seperti misalnya problematic fans (kalau mau dielaborasi akan mengarah pada isu mental health, fanatisme, dll, tapi aku memilih untuk tidak mengelaborasi karena akan sangat panjang), the restricted slave contracts yang terjadi antara company dengan idol, dan yang lebih ekstrim lagi adalah unregulated chaos of capitalism. Woah… Kalau dipikir-pikir, betapa gelapnya dunia k-pop yang sedang aku cicipi ini.

Semakin kesini, semakin banyak pula konten terkait boyband SEVENTEEN ini yang aku konsumsi, semakin merasa terikat pula aku dengan personality masing-masing dari mereka. Dan itulah yang dicari oleh industri k-pop, emotional attachment dan loyality. Salah satu bentuk konkrit dari loyalitas tersebut misalnya membeli album mereka, dan yap, itulah yang sudah aku lakukan juga. Bolehlah kita bilang kalau membeli album merupakan bentuk apresiasi dan dukungan terhadap 13 talented artists, musicians, idols, ATAU mungkin membeli album sama dengan serving the capitalist appetite for profit. Wow, betapa kaburnya batasan kedua hal tersebut yang tentunya semakin membuat dilema seorang fan sepertiku.

Kelihatannya, aku masih merasa cukup beruntung bisa merespon dan membaca dunia budaya k-pop ini dengan berbagai perspektif yang lebih luas. Pun bisa menempatkan diri sebagai fan yang netral tanpa terlalu terjun dan tenggelam dalam dunia yang—sejauh ini—masih gelap. Sehingga aku berusaha menempatkan diri agar bisa lepas dari perasaan dilematis yang membuat diriku sendiri tidak nyaman. Solusi yang tidak disangka-sangka berhasil adalah mengelola aspek dari emotional attachment tersebut demi kepentingan self-conception dan self-identity, dengan kata lain, membantu kita mengenal diri sendiri. Aku menyadari bahwa ternyata selama ini aku membutuhkan narasi apresiatif dan suportif seperti yang dilakukan oleh SEVENTEEN. Berangkat dari situlah kemudian bisa diperdalam untuk lebih mengenal diri sendiri. Misalnya saja dengan pemilihan bias yang secara tidak langsung didasari oleh ketidaksadaran kita akan pengenalan diri. Sebagai contoh konkrit, aku memilih 5 bias—iya 5, yaitu mereka yang bernama Seungcheol/S.COUPS, Jeonghan, Vernon, The8, dan Hoshi (kalau penasaran bisa kok googling, siapa tau nyantol juga).

Kalau mau dielaborasi—memang aku suka mengelaborasi, tidak aku sadari, lima bias yang kupilih merepresentasikan bagaimana konsep dan identitas diriku diproyeksikan ke setiap personality dari mereka. Personality yang mirip, yang aku anggap ideal, maupun personality yang tidak ada di diriku dan ingin aku miliki. Setelah aku pahami dan urai satu persatu, Seungcheol (leader SEVENTEEN), merupakan representasi dari sosok kakak dan aku memang sangat dekat dan terbiasa nyaman dengan kehadiran sosok kakak dalam keluargaku. Jeonghan, representasi dari personality yang tidak ada di diriku dan ingin aku miliki, tipikal sosok yang go with the flow dan selalu tegas dengan pilihannya. Aku yang selalu kebingungan dalam berbagai situasi merasa butuh dengan personality tersebut. Sama halnya dengan Vernon, representasi dari sosok yang sangat tenang dalam menghadapi situasi apapun, dan aku sangat menginginkan ketenangan tersebut. Lalu Hoshi, representasi dari sosok yang free spirit, selalu bisa menggairahkan suasana, selalu semangat dan bahagia, The8 representasi sosok yang mirip denganku bagaimana dia selalu paham dan terkadang terlalu tenggelam dalam perasaannya sendiri, entah itu rasa bahagia maupun sedih. Personality yang sangat suka bermain-main dengan perasaannya sendiri dan pintar mengekspresikan perasaannya, yang terkadang diromantisasi.

Seperti itulah bagaimana aku berusaha mengenal diriku sendiri melalui proyeksi tersebut. Pada situasi seperti ini aku memandang 13 member grup SEVENTEEN ini sebagai human-beings, terlepas dari embel-embel k-pop dengan berbagai stigma negatifnya. Bisa dikatakan, aku beruntung dan bersyukur bisa menjadi fans k-pop yang “moderat”. Aku bisa mengenal lebih dalam tentang diriku sendiri, bisa belajar untuk tidak menghakimi diri sendiri, bisa belajar untuk terus memotivasi dan menghargai diri sendiri, dan tetap merasa senang menikmati musik maupun konten lainnya dari SEVENTEEN. Kalau dipikir-pikir, ternyata tidak terlalu konyol juga bisa belajar mengenal diri sendiri dari grup boyband k-pop. Pun sampai saat ini, aku percaya bahwa SEVENTEEN hanya sebagai perantara saja untuk aku bisa mengenal diri sendiri, toh akhirnya pun aku tidak bisa dan tidak boleh menggantungkan kebahagiaanku kepada sesuatu hal yang sangat jauh. Kalau kata stoic, kebahagiaan sejati hanya timbul dari dalam diri. Mantab. Akhir kata, tetaplah menjadi fans k-pop yang “moderat”, annyeong!

No more articles