A password will be e-mailed to you.

Simak bincang-bincang santai (tapi serius) Eliesta Handayani bersama Mustache and Beard. (redaksi) 

Lawatan Mustache and Beard di Yogyakarta dalam helatan Unplanned Vacation#2, Bulan April (15/4/18) lalu meninggalkan kesan yang membekas. Obrolan panjang lebar bersama para personil tidak bisa begitu saja dilupakan. Kami membicarakan soal banyak hal, termasuk roadtrip dadakan mereka— yang selaras dengan judul acara, Unplanned Vacation. Kemudian membahas pula tentang proses pengkaryaan mereka, serta sedikit bocoran singkat soal proyek musik Mustache and Beard kedepannya.

Tak lupa, menyinggung sekelumit soal tagar #SayaBeliTiket dan #DatangLebihAwal yang ditanggapi antusias oleh para personil.

Nostalgia dulu boleh, lah..

Halo Mustache and Beard! Kenalan dulu boleh dong!

Afif                 : Oh ya, boleh lah! Saya Afif, vokalis Mustache&Beard.

Adri                : Saya Adri, Brass section.

Febrian           : Febrian, gitaris Mustache&Beard

Nagib              : Saya Nagib, drummer.

Semua            : Oh iya, ada satu lagi namanya Ari dia bassist kami.

Dengar-dengar di Mustache and Beard ada yang personilnya kakak beradik, ya?

Adri : Febrian dan Ari, tuh. Mereka kakak beradik

Kenapa nama band-nya Mustache and Beard? Kelihatannya hari ini teman-teman sedang tidak berkumis dan berjenggot?

Febrian: Sebetulnya, sejak awal kami punya karakter kumis dan jenggot masing-masing gitu. Nah, nama Mustache and Beard jadi nama pertama yang klik aja buat kami.

Adri    : Kami lagi mikir bareng-bareng. liat-liatan, ye kan. Terus tiba-tiba kepikiran aja.

Afif     : Cuma kalau digali lagi dan ngomongin filosofi nama band ini, bagi kami kumis itu lambang kejantanan buat pria. kalau janggut itu sunah rasul. kami pengin menjadi pribadi gentleman tapi tetap soleh gitu lah. (tertawa)

Berarti itu proses di balik penamaan Mustache and Beard ya?

Afif     : Ya, bisa dikatakan begitu.

Kenapa sih nggak kepikiran bikin judul band dalam Bahasa Indonesia aja, Kumis dan Jenggot, atau Bahasa Sunda misalnya?

Afif     : Karena dulu materi awal-awal kami liriknya Bahasa Inggris semua, pengen Go Internasional tadinya kami tuh… pengennya sih. Hahaha.

Febrian: Cuma ternyata di tengah jalan proses kreatifnya berkembang. Ternyata, membuat materi dalam Bahasa Indonesia juga menarik. Penelusuran kata-kata yang bisa digunakan juga lebih banyak.

Adri    : Nama Mustache and Beard dalam Bahasa Inggris udah jadi lucky charm aja kali ya buat kami.  Udah enak, lah pokoknya.

Terbentuknya Mustache and Beard ini awalnya bagaimana? sahabatan, temen lama, atau..?

Afif     : Awalnya sih, kami teman jauh ya. (tertawa). Tapi disatuin sama satu Institusi, satu kampus (Itenas Bandung), dan kebetulan hampir semuanya satu jurusan (FSRD). Awalnya, kami masing-masing punya band sendiri. Tapi akhirnya kami coba ngobrol, mau nggak bikin band. Awalnya aku ngajakin, mau nggak kalau kami bikin orkestra dengan komposisi personil dan alat musik yang banyak. Tapi, ah, kayaknya susah deh ngatur orang terlalu banyak. Akhirnya diputuskanlah kami berenam aja bikin band. Tapi alat musiknya aja dibanyakin.

Mustache and Beard terbentuk tahun berapa?

Tahun 2012-an kali ya?

Iya bener.

Lagu-lagu Berbahasa Inggris dalam Materi awal apakah sudah pernah dirilis dalam format band Mustache and Beard yang sekarang?

Febrian: Lagu dalam Bahasa Inggris sebenernya dibikin saat proses awal kami terbentuk, ya. Kayaknya ada jalan enam bulan atau setahun, untuk akhirnya memutuskan, “oh ternyata enak juga ya bikin lirik Bahasa Indonesia”. Ya udah akhirnya, kami bikinlah lirik-lirik dalam Bahasa Indonesia.

Dan kalau dipikir-pikir, band ini terbentuknya sangat organik sih. Kebayang nggak sih ada band yang emang dari awal pengen kayak, “wah kita harus jadi band a b c d, nih”. Nggak gitu sih kami dalam prosesnya. Sangat natural emang kalau kami ceritain perjuangan sampai akhirnya bisa sampai titik ini. Sampai akhirnya kami punya tim, kru, manajer. itu benar-benar proses yang panjang.

Dulu ya kami cuma ngeband. Seperti anak kuliahan pada umumnya, lah. Ada acara kampus, diundang. Ada temen bikin acara, ya kami manggung. Jalan perlahan-lahan aja gitu.

Afif     : Organiknya tu terbangun karena mereka (penikmat musik) suka, trus jadi sayang gitu sama kami. Kami mulai dari dukungan teman-teman dari lingkungan kecil. Lalu perlahan-lahan nyebar. Jadi.. menurutku proses berkarya kami secara konsisten ini merupakan salah satu bentuk tanggung jawab kami terhadap segala dukungan teman-teman dekat dan penikmat musik yang dengerin karya kami, sih.

Mustache and Beard sendiri kan seringkali disebut sebagai band folk, tuh. Tanggapan kalian bagaimana?

Afif     : hmm..disebut sebagai band folk, kami sebenarnya nggak pernah mematok genre musik kami ya. karena yang mendefinisikan musik kami seperti apa kan pendengar dan penikmat. Kami mah bermusik sebagai Mustache and Beard aja, sih. Kalau ternyata orang-orang anggap genre kami folk, ya nggak masalah sih.

Ini kan pertama kalinya Mustache and Beard ngadain tur di Yogyakarta. Excited nggak?

Afif     : Sangat! kami dari banget pengen main di sini (-Yogyakarta). Kami dulu banget pernah main di sini. Tahun 2012, awal bentuk band ini. Mainnya di rooftop-nya Sevensoul. Main bareng FSTVLST, Rusa Militan, apa lagi ya… pernah sih pokoknya. Pertama kali banget.

Ada sih yang dengerin, tapi mungkin karena band kami masih baru, jadi waktu itu belum berbekas kali, ya..

Boleh panggil apa untuk mempersingkat nama Mustache and Beard?

Sebut MnB aja boleh. Haha.

MnB kan sudah mengeluarkan album “Manusiaku Manusiamu Manusianya”. Sepertinya sarat dengan persoalan hubungan antara jiwa, manusia, dan alam. Apakah memang spirit itu yang ingin disampaikan MnB dalam album pertama kalian?

Adri    : Sebenernya balik lagi sih ke apa yang Febrian bilang. Kami memang terbentuk secara organik banget. Dulu pas awal briefing bikin lagu, kami nggak sedang di studio. Kami punya alat musik yang nggak perlu di colok ampli dan listrik udah bisa nyala. Briefing pertama kami akustikan dan kayak alami banget.

Febrian: Sampai sekarang pun sebenarnya gitu. Aku masih pakai gitar akustik sampai sekarang. Afif main Akordion yang tanpa mic pun tetap bisa bunyi. Flute, trompet, drum juga gitu.

Di Bandung pun, kurasa kami pun didukung oleh geografis yang memang dekat dengan gunung-gunung gitu, kan. Jadi kayaknya ya, muskalitas kami yang demikian terjadi secara alami. Lagunya ngebangun mood aja gitu sih. Kami bukan yang kayak ngebangun konsep band tahun ini, atau tahun sekian— nggak kayak gitu sebenernya. Musik kami dibangun oleh mood dan suasana Bandung yang serba natural. Bukan kami yang berencana menciptakan mood musiknya bakal kayak gimana.

Proses pengkaryaan album pertama kalian apakah memerlukan kontemplasi panjang?

Afif     : Prosesnya 3 tahun. Bahkan jujur saja kami nggak punya target album pertama mau keluar kapan, gitu. sampai akhirnya lagu-lagu ketumpuk jadi banyak, dan akhirnya kami pilah pilih sendiri. Lumayan lama prosesnya, sampai akhirnya terkumpul lah materi dan memutuskan untuk menggarap album.

Bakal ada proyek musik lagi nggak, setelah kemarin ngeluarin lagu ft. Noh Salleh (-Batas Mimpi) ?

Adri    : Ada! setelah kami rilis lagu Batas Mimpi ft. Noh Salleh pun, nggak begitu lama kemudian kami rilis video lirik. Dalam video tersebut kami pakai talent bapak-bapak seorang seniman puppeteer (dalang) boneka. Terus habis ini kami ada proyek lagi untuk bikin video klip Batas Mimpi bareng Rasamala film.

Video klipnya bakal se-sinematik video klip Senyum Membawa Pesan nggak?

Adri    : Lihat saja nanti! (ketawa)

Kenapa Mustache&Beard bisa kepikiran bikin video klip se-konseptual itu?

Febrian: Kami kan lahir di satu industri kreatif FSRD. Jujur, energi itu selalu keluar dalam settiap diskusi dan sharing kami. Selalu ada ide yang kayaknya harus dibagi. Di satu sisi, kami kan nggak pernah tahu perjalanan MnB bakal sampai mana dan sebesar apa. Atau mungkin Cuma sampai di sini-sini aja, kami kan nggak pernah tahu. Tapi kami berusaha memberikan energi bermusik yang mumpuni. Misal ketika bikin musik, kami ingin mengaplikasikan ide melalui video klip yang standarnya oke. Semacam pengen jadi barrier buat video klip dan film. Paling enggak jadi awal yang baik sih. Kami ngerasanya, kami ini sebenanrnya media informasi juga yang bisa mengedukasi, misal lewat karya-karya visual dan lain sebagainya. Sebagai alumni FSRD, kami memang sangat concern sih ketika mau ngeluarin produk, misal kaos. Dipertimbangin banget kenapa warnanya kuning, kenapa warnanya hitam, dll.

Adri    : Karena memang mungkin karena asal muasal kami yang sekolah desain dan estetika, jadi ya kami terapin aja gitu. Ini se band karena semua anak  FSRD, masing-masing dari kami selalu banyak mau dan selalu punya banyak ide. Kebetulan kami juga dikelilingi teman-teman yang suportif dan antusias bantuin proyek kami. Contohnya Rasamala film yang bantuin kami banget waktu bikin video klip Senyum Membawa Pesan. Peran anak-anak Rasamala sangat besar, mulai dari mencetuskan ide, pelaksanaan, hingga akhirnya video klip itu jadi.

Menarik sekali memang, ketika melihat video klip Senyum Membawa Pesan. Ngomong-ngomong, kenapa konsep perumpamaannya menggunakan binatang?

Afif     :Karena mungkin, berhubung anak indie. gak pengen basic lah ya. Hahaha. Maksudnya, ketika menceritakan cinta ke dalam visual, mungkin yang kebayang pasti tentang sepasang manusia yang sedang jatuh cinta. Tapi setelah kami brainstorm ide dengan Rasamala film melalui proses panjang, akhirnya kami pilih binatang untuk mewakili pesan dalam karya kami.

Adri    : Kami memilih binatang sebagai perumpamaan karena natural dan bagi kami cukup representatif. Kami mewakili segmentasi sifat manusia dalam sifat hewan. Mengeluarkan sifat liar manusia dalam metafora binatang.

Afif     : Contohnya plot antara kelinci dan hyena, kan sebenarnya nggak mungkin mereka bersatu. Tapi loh, kok lucu ya ada pikiran mereka untuk saling jatuh cinta. padahal dua jenis hewan itu kan saling makan. Mereka berada dalam satu rantai makanan.

Apakah video klip Senyum Membawa Pesan itu turut mempertegas karakter “natural” Mustache&Beard?

Adri    : Ya jelas, betul. karena kami ingin membangun karakter kami melaui karya kami di semua lininya.

Di salah satu part (dalam video klip), kan ada bagian makan daging, ya. Itu beneran?

(tertawa)

Adri    : Beneran! Ini dia (Afif) yang makan

Afif     : Sumpah, jadi gini aku ceritain. Dagingnya itu beneran masih mentah, beli di pasar setempat di Lampung. Darahnya dibikin dari madu campur pewarna makanan merah. Kupikir, wah enak nih. Ternyata amisnya daging nyampur sama madu, tuh aduh jadinya gila banget. Apalagi nyampur sama lalet yang ijo besar, karena banyak (lalat) di Way Kambas.

Febrian: Di video klip kalau ada lalet-lalet ijo, itu asli ya. Jadi bukan efek. (tertawa) .

Kenapa syuting video klipnya di Way Kambas?

Afif     : Itu juga lucu banget sih kalau diceritain. Jadi awalnya kami berencana ke Lampung. Di sana katanya ada lapangan bagus banget tapi waktu kesana, eh sudah berubah jadi sawah. Kami lantas bingung. Zonk. Setelah mikir bareng-bareng, akhirnya kami memutuskan ke Way Kambas.

Udah ada side plan sebelumnya?

Febrian: Sebelumnya, kami dapat info kalau tempat itu aman. Tapi waktu sampai, loh¸ kok sudah berubah jadi sawah? Kami bingung sih. Tapi untung di Lampung banyak teman-teman, jadi banyak juga yang akhirnya bantuin. Kami kebetulan ada agenda manggung juga di sana. Jadi, yaudah deh sekalian liburan. Kami baru mutusin hari itu mau pindah lokasi syuting (-ke Way Kambas). Besok subuhnya langsung berangkat.

Konsep video klip lantas berubah nggak?

Afif     : Enggak, enggak berubah. Malah bagus banyak bonus. Ada gajah juga. Cuma emang ada beberapa hal yang nggak keambil di sana. Akhirnya, karena kekurangan tadi, kami akhirnya ambil shoot lagi di Padalarang, Bandung.

Lagu Batas Mimpi bakal dibikin video klip bareng sama Noh Salleh enggak tuh?

Febrian : Hmm, masih rahasia! tapi sebenernya, video lirik yang sudah rilis itu semacam teaser untuk video utama.

Berarti MnB bakal terus menggali eksperimentasi sinematik dalam video klip selanjutnya?  

Afif       : Insyaallah. Menggali hal baru. Mengkolaborasikan musik dan seni visual.

Febrian: Karena semangat kita sebagai orang-orang yang bergerak di bidang seni, jadi kami harap bisa selalu lahir dengan karakter MnB. Berkarya dengan menciptakan barometer berkualitas dari musikalitas kami.

Sudah pernah tur sebelumnya?

Afif     : Belum pernah, ini perdana ya kami mencoba untuk manggung ke luar kota dengan resource kami sendiri. Semua personil tadi nyupir, haha. Kami baru sampai Jogja tadi siang. Berangkat kemarin malam, karena ada jadwal manggung. Beres manggung langsung berangkat. Di satu sisi hemat budget, di sisi lain seru juga ternyata roadtrip. Kan sesuai poster, mengikuti semangat Unplanned Vacation dalam perjalanan kami kali ini. Haha.

Ngomong-ngomong soal tagar #SayaBeliTiket dan #DatangLebihAwal, signifikan nggak kampanye tersebut untuk menjaga ekosistem musik di Indonesia?

Afif     : Gini.. kami nggak munafik setiap musisi kan pasti butuh resource, ya nggak sih. Kami pun sadar nggak cuma butuh kata-kata “semangat” gitu aja. Untuk menghasilkan karya musik yang mumpuni, seorang musisi butuh latihan di studio, misalnya. Ibaratnya perlu juga untuk ongkos kesana kemari, lah. Sebenarnya, masalah acara gig gratis atau bayar itu, balik lagi ke konsep acara dan tujuan dari band itu sendiri sih. Setiap lini pasti punya sudut pandang masing-masing. Kalau dalam rangka mengedukasi, kami pikir penting sih. Tapi kami sebagai musisi, menyerahkan saja kepada pihak penyelenggara acara. Yang penting, apa yang pengen kami sampaikan bisa nyampai ke pendengar.

Febrian: Saya sebenernya bukan orang yang sangat sering datang ke konser. Tapi, ketika ada kesempatan, ya datang. Adri juga gitu. Kami sering juga nonton gigs yang harus bayar. Menurut kami, itu (-beli tiket) bentuk support sih. Berefleksi juga, soalnya kami juga beli tiket untuk menonton siapapun yang kami suka. Sama juga dengan teman-teman yang beli CD kami, itu kan bentuk dukungan juga agar kami bisa terus berkarya.

Adri    : Kalau menurut aku sih lebih kayak.., apa ya istilahnya, ketika kami nge-fans sama seseorang/band, kami berusaha support karya-karya mereka dan nonton dia manggung. Setidaknya beli tiket kan udah jadi salah satu cara untuk mendukung keberlangsungan ekosistem musik. Karena, bisa saja kami sebagai musisi tetap akan hidup dari manggung. Tapi kalau yang bikin acara malah mandeg karena keterbatasan biaya, ya sama aja kan. Nggak imbang. Maka dari itu, kalau buatku, seluruh lini dalam ekosistem bermusik termasuk penyelenggara acara harus selalu di dukung. Kami sendiri cukup notice sih soal tagar #DatangLebihAwal dan #SayaBeliTiket. Plus karena kami juga lahir dari ekosistem musik, makanya ini bikin kami aware juga.

Fenomena perihal kurangnya awareness terhadap pengadaan HTM yang sering dinilai memberatkan, apalagi soal datang ke konser lebih awal, kupikir fenomena seperti ini cukup rata sih. Terutama di kota-kota besar. Kayaknya emang perlu untuk ada gerakan menyeluruh.

Afif     : Soalnya di Bandung juga gitu. Sebagai kota produsen kreator, selalu ada musisi baru dan musisi lama, kan. Penonton yang datang— mungkin ya— mindset-nya masih : gratis nggak, ya gig nya?

Atau kalau misalnya ada band baru yang bagus, skillfull, dll, terkadang masih kurang diapresiasi.

Berarti selain sebagai dukungan, beli tiket dan datang lebih awal bisa disebut sebagai bentuk apresiasi?

Afif     : Betul sekali. apresiasi kan nggak hanya tepuk tangan dan nonton kan. Tapi dengan membeli tiket, membeli karyanya, lalu mungkin follow instagram atau like postingan kreator, dan sebagainya. Ada banyak cara untuk mengapresiasi.

Untuk datang lebih awal di jam sekian sekian, menurutku krusial sih dalam dunia gigs. Karena kami juga merasakan dari awal-awal kami manggung dulu. Kalau kami dapat line up pertama, udah pasti nggak ada yang nonton karena semua nungguin line up utama. Sedangkan kalau semua mental orang kayak gitu, pengennya cuma nonton line up utama, apakah bakal ada ruang untuk karya-karya musisi baru untuk jadi regenerasi? kayaknya akan sulit.

Febrian: Tapi, ada juga sih temen-temen penyelenggara yang akhirnya lebih bijak dalam mengelola hal itu. Misal, We The Fest yang dibuka oleh band yang besar, kemudian habis itu turun ke line up yang baru-baru. Kemudian di akhir acara baru line up yang paling gede.

Adri    : Pada akhirnya, kami juga nggak bisa nyalahin penonton sih. Karena mereka datang kan  dalam rangka ingin menikmati musisi yang ingin mereka lihat. Jadi menurutku, sih, balik lagi ke kita-kita sebagai penyelenggara acara ataupun musisi. Bagaimana caranya sebagai stakehiolder¸kita bareng-bareng ciptakan iklim saling support. Dengan kampanye, mensiasati lewat plotting line up acara, dan lain sebagainya biar semua kebagian enak.

Menurut kalian, bagaimana bentuk dan cara untuk meningkatkan awareness terhadap penonton agar “datang lebih awal” dalam sebuah acara musik?

Adri    : Menjadi tantangan bagi kreatornya sih justru untuk mendobrak ini.

Karena di zaman sangat terbuka ini dan nyari referensi sangat mudah sekarang, orang akan sangat susah untuk menghargai karya-karya baru. Tantangannya ada di si yang menciptakan karya dan menciptakan platform acara. Gimana caranya kita bisa bersinergi menciptakan kembali ekosistem dimana semua orang bisa saling mengapresiasi, dan sadar sejak awal soal karya musik yang diciptakan musisi.

Febrian: Soalnya kalau mau mengubah kebiasaan mayoritas itu perlu waktu dan effort lebih banyak. Dan cara terbaik ya mungkin itu tadi, lewat kreatifitas dan effort yang dibangun dari kreator.

Terakhir, harapan untuk Mustache and Beard kedepannya?

Semua : Bisa terus berkarya dan terus membumi lah ya.

Afif     : Sebenarnya yang paling kami syukuri di band ini, rasa rasanya karena dukungan orang-orang di sekitar kami sih. kayak, kok ada gitu lah orang-orang yang mau support kami untuk terus berkarya. Itu justru yang bikin kami berani maju sejauh ini.

Adri    : Kalau ngomongin ke depannya, kami ingin fokus berkarya aja.

No more articles