A password will be e-mailed to you.

Setelah merebaknya pandemi di awal 2020, konser virtual, atau yang sering disebut konser online, langsung menghiasi dunia musik Indonesia.

Konser virtual adalah gelaran musik yang menggunakan perantara daring, dimana musisi dan penonton ‘bertemu’ secara tidak langsung lewat platform streaming.

Konser virtual menjadi jalan tengah yang dilakukan seluruh pelaku musik demi berlanjutnya industri dan kelangsungan hidup banyak pihak.

Untuk kamu para pegiat event pemula, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana cara menggelar konser virtual. Pertanyaan tersebut wajar karena ini semua masih tergolong baru.

Kendala yang sering dipertanyakan adalah soal teknis. Konser virtual menuntut kamu untuk menyiarkan konser ke sebuah platform. Jadi, pengetahuan teknis dan skill penguasaan alat sangatlah penting.

Di sini, HOOKSpace bakal memberikan panduan sederhana untuk kamu yang mau mencoba menggelar konser virtual secara mandiri. Silakan disimak!

Merancang Konsep

Konsep

Konsep adalah hal yang utama di konser virtual. Ini adalah guideline yang menentukan arah event-mu.

Penentuan konsep berbalik ke tujuanmu; apakah ingin (1) menggelar konser dengan penjualan tiket yang masif, (2) untuk promosi band kota kecil, atau (3) untuk menggalang amal.

Kalau ingin penjualan tiket beromzet puluhan juta, kamu jelas harus mengundang musisi berskala nasional, atau bahkan internasional. Di sini, kerja sama dengan sponsor besar amat krusial untuk tambahan modal produksi.

HOOKSpace sendiri selalu tertarik untuk membantu band rintisan.

Pada awal 2021 misalnya, kami menggelar ‘HOOKSpace Live from Stone Milkerward’. Ini adalah ajang promosi musisi naik daun yang ada di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Konser Virtual HOOKSpace Live in Stonemilkerward

Penentuan Durasi

Durasi adalah hal krusial lain yang harus ditentukan sejak awal. HOOKSpace Live from Stone Milkerward dirancang dengan durasi tayang dua jam (120 menit), layaknya pertunjukan live di televisi.

Pembuatan rundown-nya juga menggunakan satuan detik. Jadi, setiap pergantian band pada prinsipnya sudah direncanakan secara matang.

Jika boleh dirinci, penampilan setiap band adalah 25 menit, disertai sesi chit-chat dan perkenalan masing-masing 7 menit. Jika dijumlah, itu semua menghabiskan 96 menit.

Adapun sisa waktu kotornya (24 menit) dipakai untuk looping video bumper saat peralihan. Pada waktu peralihan, band melakukan sound check terakhir dan para kru bisa mengubah set jika diperlukan.

Peralihan Check Sound antarband di Konser Virtual HOOKSpace

Jika menyesuaikan standar televisi, kita harus membuat penonton ‘terima bersih’; yakni tidak memperlihatkan kru mengatur set. Inilah mengapa punya video bumper dan iklan sangatlah penting.

Perlu dicatat, event organizer harus disiplin dengan durasi. Sangat tidak dianjurkan menambah durasi pada hari-H. Ini bisa membuat semua berantakan, terlebih jika kamu sampai melebihi waktu izin penggunaan venue.

Intinya, menghargai waktu adalah segalanya.

Materi Kreatif

Jika kita ingin mengangkat profil band rintisan seperti di HOOKSpace Live from Stone Milkerward, salah satu sesi yang perlu disiapkan adalah wawancara dan kuis interaktif mengenai band yang tampil.

Di sesi wawancara itulah, band-band bisa mempromosikan misi, karya, dan personality-nya. Sesi ini harus dimaksimalkan, salah satu caranya dengan mengajak host yang gampang membaur sekaligus menghibur.

Research materi kreatifnya sendiri harus dilakukan sebaik mungkin. Jangan sampai host bertanya hal yang terlalu basic, sehingga band-nya tidak bisa menyampaikan pesannya secara utuh.

Membangun Tim

Setelah punya konsep, membangun tim kerja adalah langkah berikutnya. Di sini, HOOKSpace bakal menjelaskan pembagian divisi dan seluk-beluk pekerjaannya.

Key Person

Ketika menggelar konser virtual HOOKSpace Live in Stone Milkerward kemarin, ada setidaknya tiga key person; yakni (1) Producer, (2) Program Director, (3) Floor Director.

Tugas Producer meliputi persiapan konsep (pra-konser) dan pengawasan (hari-H).

Program Director bertanggung jawab ke divisi kamera dan lighting.

Adapun Floor Director memegang kuasa penuh yang ada di floor; mulai dari jalur komunikasi, blocking talent, materi brief tiap segmen, hingga rundown acara.

Floor director di Konser Virtual HOOKSpace Live in Stonemilkerward

Pembagian Divisi

Divisi kerja konser virtual skala kecil umumnya melingkupi empat bagian; yakni (1) Kamera, (2) Lighting, (3), Audio, dan (4) Streaming. Masing-masing orang di tiap divisi tergolong vital dan sangat disarankan untuk tidak merangkap ke divisi lain.

Kamera

Jumlah orang di divisi kamera sangat tergantung berapa kamera yang digunakan. Setiap orang bertugas meng-handle satu kamera; dari mulai pengambilan gambar hingga maintenance alat.

Kamera still (statis) sekalipun harus tetap diawasi satu orang untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Divisi kamera bisa dikatakan paling fleksibel. Dalam beberapa situasi, penempatan kamera bisa disesuaikan dengan kebutuhan produksi, sehingga mereka bisa berpindah-pindah tempat.

Cameraman Konser Virtual HOOKSpace

Lighting

Tugas divisi lighting adalah memasang alat pencahayaan panggung (pra-konser) dan mengatur kebutuhan cahaya yang diminta oleh divisi kamera dan Director (hari-H).

Lighting sangat krusial untuk memberikan mood dan nuansa band yang tampil. Untuk skala konser online kecil seperti HOOKSpace Live in Stone Milkerward, divisi ini diisi tiga orang. Jika tertarik memakai mixer lighting, kamu perlu siapkan tambahan orang.

Lighting Konser Virtual

Audio

Divisi audio tak kalah krusial karena menyangkut band yang tampil. Tugas divisi ini adalah cek channel, live mixing, dan mengawal sound check masing-masing penampil.

Tantangan divisi audio di konser virtual ini tak hanya terbatas di lokasi saja. Mereka harus memastikan sound-nya juga enak didengar oleh pengunjung konser virtual di platform streaming.

Dengan beban kerja seperti itu, divisi audio tidak disarankan hanya menggunakan satu orang. Setidaknya, perlu satu atau dua orang lagi yang membantu lead audio engineer.

Streaming

Divisi streaming bertanggung jawab dalam penyiaran ke platform streaming. Tugas utamanya adalah memastikan gambar dan audio-nya layak tayang dan tetap sinkron (minim delay) saat berlangsungnya acara.

Ketika band sudah turun dan memasuki sesi peralihan, orang-orang inilah yang bertanggung jawab memutar bumper serta iklan.

Lain-lain

Selain keempat divisi penting di atas, kamu mungkin juga butuh (1) Liaison Officer (LO) untuk mendampingi band, (2) divisi transportasi, (3) divisi konsumsi, hingga (4) runner. Semuanya tinggal disesuaikan dengan kebutuhan konser virtual.

Liaison Officer (LO) di Konser Virtual.

Pentingnya Tim Solid

Entah menggelar konser virtual sekecil apa pun, tim kerja yang solid sangat diperlukan.

Biasanya, pegiat event cenderung mengajak kerja orang ‘langganan’-nya, sehingga seluruh perintah kerja bisa dieksekusi dengan baik.

Terbiasa bekerja satu sama lain tentu mempermudah segalanya. Kecanggungan bisa diminimalisir, meski aslinya pekerjaan seperti ini ‘tidak boleh tidak enakan’. Lebih kompak, lebih jujur, lebih baik.

Mencari Partner Live Streaming

Mencari partner platform untuk konser virtual tergolong penting. Kamu bisa mendapatkan promosi dan awareness yang lebih luas dengan menggandeng platform terkenal.

HOOKSpace sendiri kemarin menggelar Live from Stone Milkerward dengan GoPlay sebagai partner penyedia aplikasi streaming.

“Kamu bisa mengirim penawaran kepada platform streaming yang bersangkutan. Jika menemui kesepakatan dan terdapat simbiosis mutualisme, tiada salahnya untuk bekerja sama,” ucap Vega, Chief Business Officer dari HOOKSpace.

“Jika sudah bekerja sama dengan GoPlay dan semacamnya, kamu bisa dapat biaya produksi tambahan. Namun, kamu biasanya akan dikenakan target viewer sebagai timbal baliknya,” tambah Vega.

Konser virtual ini tergolong cukup sulit. Kamu harus bisa mengumpulkan banyak orang dalam satu periode waktu yang sudah ditentukan.

Padahal, untuk menikmati video penampilan musik, orang sudah punya kebiasaan untuk datang ke YouTube ketimbang menunggu konser virtual.

Jika targetnya sekadar traffic, kamu lebih disarankan untuk produksi video musik yang bernilai timeless saja, untuk kemudian meng-upload-nya ke YouTube.

Melihat seluruh masalahnya, kita bisa melihat bahwa hacks dan gimmick standar di konser virtual belum benar-benar ditemukan. Masih banyak ruang inovasi dan kamu punya peluang yang sama besar untuk jadi inovator.

Menyiapkan Peralatan

Persiapan peralatan adalah langkah berikutnya. Barang-barang yang harus dipersiapkan perlu mempertimbangkan kebutuhan performer sekaligus venue. Jika tidak punya alat memadai, disarankan untuk sewa ke vendor andalanmu.

Secara garis besar, peralatan yang dipakai di konser virtual skala kecil/menengah bisa terdiri dari empat bagian.

Kamera

Kamu sebaiknya menyediakan minimal tiga atau lima kamera standar konser live streaming. Jika memang venue dan skala konsernya agak besar, jumlahnya bisa ditambah lagi demi variasi gambar.

Kamera yang digunakan di HOOKSpace Live in Stone Milkerward adalah Sony X70.

Menurut tim produksi HOOKSpace, Sony X70 sudah cukup untuk produksi live streaming. Kamera tersebut bisa sambil dicolok ke charging station, sehingga minim risiko mati saat show berlangsung.

Perlu dicatat, kamera yang digunakan sebaiknya sama semua agar ketajaman dan jangkauannya tidak ‘belang’.

Kru Kamera Konser Virtual HOOKSpace

Lighting

Pencahayaan standar konser virtual setidaknya memenuhi kebutuhan dasar terlebih dahulu. Alat yang bisa kamu sewa meliputi lighting basic dan efek par light (untuk variasi warna).

Jika punya dua set tempat, kamu paling tidak menyewa 4 lighting basic. Nantinya, dua ditembakkan ke stage dan dua ditembakkan ke set lainnya.

Jumlah sewa untuk par light pun sebaiknya sama dengan lighting basic. Kehadiran par light atau lampu berwarna sekali lagi sangat penting untuk menentukan kesan visual.

Sebagai catatan, setiap lampu yang disewa disarankan bertipe bohlam. Intensitas cahaya dari bohlam jauh lebih kuat dan memadai ketimbang LED.

Lighting di konser virtual HOOKSpace

Audio

Seluruh peralatan audio yang digunakan untuk konser biasanya diambil dari tempat persewaan.

Sewa dari vendor audio terbilang lebih praktis karena alat yang mereka punya umumnya sudah lengkap dan memadai. Ada pula yang biasanya sudah menawarkan paket lengkap untuk konser virtual.

Kalau sudah ada langganan, kamu bahkan bisa dapat harga spesial. Urusan gear audio seharusnya tak perlu dipusingkan lagi.

Perihal rincian alat dikembalikan kepada band yang tampil. Jika semua band yang tampil berformat akustik, kamu mungkin hanya butuh mixer dengan 18 channel.

Namun, apabila ada yang full-band dengan banyak personil, kamu jelas harus sewa mixer 32 channel, lengkap dengan seluruh instrumen musiknya.

Streaming

Untuk menayangkan konsermu ke platform streaming, kamu membutuhkan PC dengan kecepatan yang memadai. Kehadiran PC memadai sangat penting, terutama agar pemrosesan gambar dan audio berjalan lancar.

Dalam PC tersebut, kamu harus punya software pemrosesan bernama OBS (Open Broadcaster Software) agar konsernya bisa ditayangkan secara langsung ke platform seperti YouTube, GoPlay, atau lainnya.

Software pemrosesan streaming sebenarnya tidak cuma terbatas OBS saja. Namun, software itu sangat jamak digunakan karena lumayan mudah untuk sekelas starter sekalipun.

Selain PC, kamu perlu menyewa switcher. Ini adalah alat yang dipakai untuk menggabungkan audio dan gambar dari beberapa kamera (lewat kabel HDMI) ke satu layar monitor.

Satu switcher umumnya hanya dipakai untuk satu set. Jika ada dua set di konser virtualmu, disarankan untuk menyewa dua switcher; dan seterusnya.

Tak lupa, internet cepat nan stabil juga sangat krusial. Tidak lucu kan kalau tiba-tiba gambarmu gelap di tengah-tengah konser online hanya karena kehilangan koneksi?

Tambahan

Jika memerlukan berbagai macam dekorasi, penentuan sepenuhnya ada di tanganmu. Jangan lupa sesuaikan dengan konsep dan tempatnya; semata-mata agar tidak buang banyak waktu dan tenaga.

Baca Juga: Skena Musik di Terpaan Wabah Corona: Walau Sedang Sekarat, Kita Belum Usai

Rincian Eksekusi Konser Virtual

Dalam bagian ini, HOOKSpace bakal menyajikan alur ringkas mengenai persiapan hingga eksekusi konser di hari-H. Ini mungkin tidak mencakup semuanya, namun tetap terdiri dari hal esensial yang tak boleh dilewatkan.

Penentuan Lokasi dan Setting Tempat

Menentukan venue bisa jadi hal yang gampang-gampang susah, terutama jika kamu belum berpengalaman menggelar konser virtual.

Idealnya, standar lebar panggung untuk konser live streaming adalah 6-10 meter dengan tinggi 5 meter. Dengan itu, kebutuhan semua divisi dan penempatan peralatannya jauh lebih aman.

Jika kamu mendapatkan tempat yang begitu sempit, tantangan penataan alat dan stage-nya bakal semakin sulit.

Kamu dituntut menyediakan panggung yang agak lebar untuk band, sekaligus memberi ruang untuk masing-masing divisi kerja. Belum lagi, harus ada juga master control room yang tidak jauh dari stage.

Bekerja sama dengan pemilik tempat juga jadi tantangan tersendiri. Kamu mungkin bisa melihat salah satu kafe di kotamu potensial untuk konser virtual. Namun, belum tentu juga kan si pemilik tempat mau memberikan izin?

Set HOOKSpace Live in Stonemilkerward

Pre-show

Pre-show di sini bisa digolongkan sebagai persiapan sejak H-5 hingga H-1 konser virtual; atau menyesuaikan waktu yang kamu punya. Intinya, tiga hal di bawah ini adalah checklist umum yang juga bisa ditemukan di persiapan live concert.

Floor Plan

Jika lokasi dan perizinan sudah goal, key person dan leader setiap divisi sebaiknya mulai survai dan membuat floor plan pada H-7/H-5 pertunjukan.

Floor plan sendiri adalah denah tata letak alat dan panggung. Dengan perencanaan yang jelas, kru dan tim dari persewaan sudah tidak perlu tanya sana-sini perihal instalasi alat.

Survai dengan waktu yang agak lebar itu semata-mata dilakukan agar tim kerja punya waktu lebih untuk membuat penyesuaian.

Timeline

Segala perintilan mengenai konsep, rundown, materi promosi konser online, dan brief ke band yang akan tampil sudah harus diselesaikan sesuai timeline.

Brief yang disampaikan ke band biasanya meliputi spec alat, waktu sound check dan perform, serta informasi mengenai Liaison Officer (LO) yang bertanggung jawab.

Hal yang sama juga dilakukan kepada pembawa acara. Tim yang didelegasikan produser bakal menjelaskan seluruh sesi dan rundown, lengkap dengan gimmick dan pertanyaan untuk band.

Jangan lupa juga untuk memastikan seluruh alat sewaan datang pada waktu yang sudah ditentukan. Event organizer sendiri umumnya menyewa mayoritas peralatan pada H-1 untuk menghindari pembengkakan biaya.

Sound Check

Ketika alat musik dan sistem audio sudah terpasang, band yang tampil dianjurkan datang untuk sound check.

Performer sebaiknya mengetahui setting panggung serta menyampaikan kebutuhannya kepada live mixing engineer. Ini semua dilakukan demi penampilan yang lebih nyaman.

Selain itu, sound check juga bisa jadi waktunya tim Director untuk melakukan sinkronisasi antara video dan audio.

Jika di software OBS sudah aman, mereka akan melakukan cek di platform streaming (GoPlay, YouTube, dll.) demi memastikan kenyamanan penonton.

In-show

Rekalibrasi Terakhir

Beberapa menit sebelum show dimulai, tim kamera, lighting, audio, dan streaming melakukan pengecekan sekali lagi perihal sinkronisasi audio visual.

Sinkronisasi audio visual biasanya lebih memberatkan ke audio-nya. Jika videonya tampak lebih lambat, Program Director akan mempercepat motion videonya hingga pas dengan bunyi. Begitu pula sebaliknya.

Treatment untuk sinkronisasi audio visual ini gampang-gampang susah. Satu cara yang jamak dilakukan adalah mengutus kru naik ke panggung untuk berbicara, tepuk tangan, atau melakukan apa pun yang ada suaranya.

Di situlah, Program Director bakal melakukan adjustment dan cek kembali ke platform streaming yang akan diakses penonton.

Tidak lupa, tim kamera juga diwajibkan kembali melakukan penyamaan mengenai warna dan tone dari setiap kamera.

Cara Kerja Instalasi Streaming

Saat pertunjukan, instalasi peralatan sudah terpasang sempurna; entah itu dari kamera, pencahayaan, audio, dan sambungan streaming.

Seluruh kamera yang dipasangkan kabel HDMI, serta mixer audio, sudah dicolok berbarengan ke switcher.

Switcher itu kemudian disambungkan ke PC untuk diolah lewat software OBS. Nantinya, dari software OBS, akan muncul banyak gambar (sesuai letak tiap kamera) di layar monitor PC.

Dari banyak gambar tersebut, Program Director akan memilih yang layak tayang untuk disiarkan ke platform streaming pengunjung. Ia akan mengatur switch dari satu kamera ke kamera lain sesuai dengan motion performer.

Prinsip ini serupa dengan produksi tayangan televisi. Kamu pernah lihat kan seorang kru TV menyeleksi gambar yang ditayangkan ke publik lewat master control room?

Control Room di HOOKSpace Live in Stonemilkerward

Pengawasan Rundown

Pengawasan jalannya acara sesuai rundown sangatlah penting. Orang yang paling bertanggung jawab di sini adalah Producer dan Floor Director.

Producer bakal memantau jalannya acara. Jika terjadi kendala di tengah konser, Producer harus mengambil keputusan agar rundown tidak molor.

Keputusan itu kemudian disampaikan ke Floor Director agar yang sedang terjadi di floor bisa segera dikondisikan.

Kalau di industri televisi, Floor Director ini adalah orang yang memberi arahan mengenai blocking panggung, durasi, dan isi materi setiap segmen kepada talent yang ada di studio.

Tantangan Terberat

Ketepatan Waktu

Sesuai yang sudah dikatakan di atas, produksi siaran live harus sangat disiplin terhadap waktu dan rundown yang sudah dirancang.

Secara umum, jika kamu sudah membuat rundown dan tidak mematuhinya, kamu sama saja tidak menghargai kerjamu sendiri.

Selain itu, tiada acara bagus yang rundown-nya berantakan. Jika ini sudah sampai melanggar perizinan tempat, konser virtual-mu bakal sangat terganggu.

“Sebagai orang berlatar pendidikan broadcasting, saya terbiasa dituntut komitmen dengan waktu. Tidak dianjurkan menambah durasi dalam suatu produksi yang sudah dijadwalkan,” ucap Hyoga D. Murti, Floor Director HOOKSpace Live in Stone Milkerward.

Menghindari Delay

Dalam banyak kesempatan, meski semuanya sudah tampak rapi saat soundcheck, kendala delay bisa muncul lagi jelang show; bahkan saat show.

Delay tersebut bisa disebabkan oleh banyak hal. Beberapa di antaranya adalah PC yang agak lamban, setting mixer audio yang berubah, atau murni karena ada yang tidak teliti.

“Kalau terjadi delay di tengah performance band, kami biasanya menunggu sampai lagu yang dibawakan selesai. Setelah itu, kami mencoba memperbaiki masalah dengan memutar video bumper,” ucap Hyoga.

Saat looping bumper itulah, Floor dan Program Director melakukan sinkronisasi ulang audio visual.

“Sinkronisasi di tengah show jelas mengganggu jalannya program ketika live streaming,” ucap Hyoga.

“Jika sudah begitu, saya kemudian mengambil tindakan penyesuaian di segmen berikutnya. Entah memotong durasi iklan, atau menghilangkan materi konten seperti wawancara dan kuis,” tambah Hyoga.

Key person HOOKSpace di konser virtual Live in Stone Milkerward

Fokus dan Meredam Tensi

Selain masalah teknis, produksi konser online juga tidak lepas dari sulutan emosi. Hal ini wajar terjadi, terutama jika ada salah seorang kru yang melakukan kesalahan.

Terkadang, ada juga kepanikan di master control room karena kendala di luar kuasa. Di sini, Producer dan Floor Director biasanya bertugas untuk menjaga fokus satu sama lain.

“Biasanya, sering terjadi juga teriak-teriakan antara satu divisi dengan yang lainnya. Intinya, kalau ada seperti itu tidak boleh ada yang baper, karena ini tindakan profesional, bukan personal,” tutup Hyoga.

Baca Juga: Nonton Konser Lebih Enak Sendirian!

Itu tadi adalah panduan ringkas dari HOOKSpace untuk menggelar konser virtual secara mandiri, tepatnya dengan skala yang tidak terlalu besar.

Apakah kamu sudah yakin mencoba menggelar konser virtual? Atau mungkin kamu tertarik bekerja sama secara virtual dengan HOOKSpace? Jika punya tanggapan, ayo tulis komentarmu di kolom di bawah ini!

No more articles